Dengan tenang si gadis telah pergi ke ruang samping rumah penginapan, tempat para tamu bersantap. Ia memanggil pelayan dan memesan makanan untuk sarapan paginya, yaitu semangkok bubur dan juga beberapa macam sayurnya.
Pelayan itu melayani Bie Lan sambil sebentar-bentar mengawasi si gadis. Dengan cara mencuri pandang, ia telah melihat si gadis tetap tenang dan tidak terluka sedikit pun juga.
Hati si pelayan jadi menghormati si gadis. Karena memang sekarang dia mengerti bahwa gadis ini tentunya seorang liehiap yang tangguh, yang memiliki kepandaian yang tinggi.
Kalau memang gadis ini tidak memiliki kepandaian yang tinggi, tentu tidak dapat menghadapi penjahat-penjahat pemetik bunga itu. Lagi pula penjahat itu bukan seorang diri, melainkan beberapa orang.
Kepandaian penjahat pemetik bunga itu pun tinggi, karena selama ini tidak pernah ada seorang pun yang sanggup buat menghadapi mereka. Apa lagi memang selama ini penjahat pemetik bunga itu selalu berkeliaran dengan leluasa, tanpa ada yang ditakuti.
Wie Sung Taijin sendiri jeri pada Jai-hoa-cat tersebut, karenanya telah membuat penduduk kota itu mengirim anak isteri mereka ke kota lainnya.
Tapi gadis ini, yang masih berusia muda sekali, ternyata memiliki kepandaian tinggi dan bisa menghadapi penjahat pemetik bunga yang berjumlah tak sedikit.
Akan tetapi, mereka juga yakin, tentunya gadis ini tak akan aman, selalu saja gadis ini akan diancam oleh Jay-hoa-cat lainnya.
Dengan cara apapun, tentunya para penjahat pemetik bunga itu akan berusaha mencelakai si gadis.
Terlebih lagi memang di dalam kota ini sudah dapat dibilang tak terdapat seorang wanita pun yang memenuhi syarat buat seorang penjahat pemetik bunga.
Dan keadaan seperti itu keadaan yang 'sepi' buat penjahat pemetik bunga ini sudah berlangsung cukup lama. Sekarang datang mangsa yang masih demikian muda dan sangat cantik.
Tentu saja mereka tidak akan mau sudah begitu saja. Walaupun bagaimana mereka akan berusaha untuk dapat menawan si gadis, dan kemudian menjadikannya sebagai korban keganasan mereka.
Tapi Bie Lan sendiri, bersantap tenang sekali. Wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan dia berkuatir.
Tengah dia bersantap, telah masuk ke rumah penginapan itu seorang pendeta. Pendeta tersebut bertubuh tinggi besar dan mukanya bengis usianya mungkin empatpuluh tahun lebih. Pendeta ini langsung menuju ke ruang samping tempat para tamu bersantap.
Ketika memasuki ruangan tersebut, matanya mendelik, mengawasi seisi ruangan. Semua yang ada di situ disapu dengan tatapan mata yang tajam sekali.
Bie Lan kebetulan tengah mengangkat kepalanya, sehingga pandangan matanya terbentur dengan sorot mata tajam si pendeta. Hati Bie Lan tercekat juga. Pendeta ini memilki kepandaian tinggi, untuk ini merasa pasti, karena sinar mata pendeta itu tajam bukan main, seakan pisau yang runcing.
Segera Bie Lan menunduk, entah siapa pendeta itu, ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Saat itu, si pendeta setelah melihat si gadis. Di wajahnya yang bengis tampak tersungging seulas senyuman yang sangat aneh dan mengandung nafsu yang jahat sekali.
Segera ia melangkah menghampiri meja yang masih kosong, terpisah tidak jauh dari si gadis. Pendeta duduk disitu, matanya tak juga lepas dari si gadis, yang terus saja diawasinya dengan sorot mata yang tajam.
Bie Lan kemudian menoleh waktu ia meletakkan sumpitnya di atas meja. Ia melihat pendeta itu masih saja mengawasinya dengan sorot mata yang begitu tajam. Hati Bie Lan muak bukan main.
"Matanya mata bangsat.......!" berpikir Bie Lan dalam hati, dan ia berhati-hati karenanya.
Setelah menyusut bibirnya yang kecil mungil, Bie Lan melambaikan tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasiCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
