"Katakanlah, apa saja....... dengan bercakap-cakap terus kita akan gembira? Bukankah sengaja pienie mengajak Kongcu berdiam bersama di sebuah kamar ini, untuk teman bercakap-cakap agar pienie tidak kesepian?"
Benar-benar Pek Ie Siu-cay agak bingung karena dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, dia seperti kehabisan kata-kata.
Tampak si pelajar lebih kikuk lagi.
Dengan duduk di tepi pembaringan, dia mencium bau harum semerbak, yang membuat hatinya semakin berdebar.
"Duduklah di sini kita bisa bercakap-cakap dengan gembira sekali, bukankah begitu?"
"Tapi..... tapi...."
"Kenapa?"
"Bukan Sienie hendak beristirahat?!"
Nie-kouw itu menggeleng.
"Aku rebah beristirahat dengan mendengar suaramu! Bercakap-cakap dengan kau merupakan hal yang menyenangkan sekali!" Kata nie-kouw tersebut.
Hati Pek Ie Siu-cay mulai agak tenang. Tampaknya si nie-kouw memang bersikap terbuka sekali padanya, dan tampaknya nie-kouw inipun memberikan kebebasan padanya.
"Apa yang hendak kita percakapkan?" Tanya si pelajar baju putih itu.
Nie-kouw itu tersenyum.
"Apa saja, kau boleh menceritakan sesuatu yang indah dan menarik pada Pinnie!"
"Cerita? Bercerita? Tentang apa, Sienie?" Heran Pek Ie Siu-cay.
"Tentang apa saja."
"Baiklah....... aku akan menceritakan apa yang selama ini sering kutemui dalam rimba persilatan, selama aku berkelana. Entah Sienie senang mendengarkan atau tidak?"
"Oh, tentu saja senang, ayo mulailah!"
Pek Ie Siu-cay batuk-batuk dulu beberapa kali, barulah dia kemudian menceritakan pengalamannya selama berkelana di dalam rimba persilatan, sengaja Pek Ie Siu-cay memilih bagian yang lucu, yang bisa memancing tertawa gembira itu.
Melihat Pek Ie Siu-cay bercerita, akhirnya Ang-sian Sienie tertawa.
"Adakah cerita lain yang lebih menarik?" Tanya si pendeta wanita tersebut sambil tersenyum.
Pek Ie Siu-cay menghela napas.
"Aku tidak memiliki cerita yang baik....... Mungkin apa yang tadi kuceritakan padaa Sienie kurang menarik!" Katanya sambil tersenyum.
Si pendeta wanita mengangguk perlahan, dia bilang: "Cukup menarik. Tapi, Pienie memiliki cerita yang mungkin lebih menarik!"
"Kalau begitu......."
"Kenapa?"
"Maukah Sienie menceritakanya padaku?"
"Baik! Pienie akan menceritakan!"
Pek Ie Siu-cay memang mengetahui betapapun juga Ang-sian Sienie seorang pendeta wanita yang tangguh, malah Pek Ie Siu-cay bukan tandingannya. Karenanya juga membuat Pek Ie Siu-cay tidak berani untuk bertindak kurang ajar.
Rupanya Ang-sian Sienie sudah berpikir cukup dan sudah ingat cerita apa yang akan dikisahkannya buat Pek Ie Siu-cay, ia membuka matanya kembali dan sambil tersenyum dia bilang.
"Sekarang Pinnie sudah ingat apa yang mau Pinnie ceritakan buat Kongcu, tentu sangat menarik sekali! Inilah tentang percintaan sepasang muda mudi.....!"
Pek Ie Siu-cay mengangguk.
"Tentunya cerita Sienie memang menarik sekali!"
"Tentu! Tentang seorang gadis yang mencintai seorang pemuda......!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasyCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
