"Ya, memang kuburan itu ada empat batu nisan!" menyahuti si gadis. "Nah dan kau telah melihat batu nisan di sebelah kanan itu, bukan? Kau pergi ke sana, bersembunyi di balik batu nisan itu, sedangkan aku akan pergi bersembunyi di batu nisan sebelah kiri! Ingat jika aku belum memberikan isyarat kepadamu, kau tak boleh sembarangan keluar!"
Kim Lo mengangguk.
"Baik!" Katanya.
"Pergilah!" mendorong si gadis pada punggung si pemuda, perlahan sekali.
Kim Lo menjejakkan kakinya, tubuhnya ringan sekali melesat ke dekat kuburan, hanya beberapa kali lompatan saja ia sudah berada di balik batu nisan sebelah kanan.
Si gadis menanti sampai Kim Lo sudah menempati diri di balik batu nisan itu, dia pun segera melompat keluar. Dia pergi ke balik batu nisan sebelah kiri.
Kim Lo mengawasi kuburan itu. Sekarang dia berada dekat sekali dengan kuburan tersebut. Dia melihat kuburan itu dibangun dari batu bata merah, dan memang cukup kuat. Rumput yang tumbuh di sekitar tempat kuburan itu terawat baik sekali.
Dan ini menunjukkan bahwa kuburan yang angker dan besar tersebut memang memiliki sesuatu daya tarik, juga dalamnya pasti ada penghuninya. Hanya yang tidak diketahui oleh Kim Lo, pintu masuk di kuburan itu entah terletak dimana?
Kim Lo juga membayangkan, jika kuburan dibangun hanya untuk dijadikan tempat tinggal pengganti rumah, betapa mengerikan.......!
Sedangkan si gadis telah mengawasi lagi kuburan itu sekian lama, akhirnya dia menunjuk ke arah batu nisan sebelah utara. Kim Lo semula menyangka dia disuruh pindah ke sebelah utara.
Tapi belum lagi dia keluar dari balik batu nisan di sebelah selatan itu, dia melihat dari bawah batu nisan sebelah utara mengepul asap yang cukup tebal. Semakin lama semakin tebal dan membumbung tinggi. Asap itu juga semakin lama jadi semakin kelabu, menunjukkan bahwa asap yang keluar semakin banyak juga.
Kim Lo heran bercampur terkejut. Mengapa dari batu nisan itu mengeluarkan asap, dia tidak mengerti, apa artinya dengan keluarnya asap tersebut.
Tengah Kim Lo terheran seperti itu si gadis sudah menunjuk kepada nisan yang satunya lagi. Dari boang-pay itupun keluar asap yang sama semakin lama semakin tebal.
Di saat asap yang mengepul tebal, nona Cin melompat ke dekat Kim Lo. Tahu-tahu dia sudah berada di sisi pemuda. Dia berbisik,
"Asap itu asap beracun! Kalau tadi kita salah memilih tempat bersembunyi, maka kita akan terbius oleh racun itu, berarti kita akan menemui kematian!
"Dua batu nisan itu memiliki alat perkakas rahasia, yang bisa menyemburkan asap beracun. Memang sengaja dipasangan, setiap kali ada orang datang kemari, tentu perkakas itu akan bekerja sendirinya memuntahkan asap beracun itu......."
Setelah berkata begitu nona Cin merogoh sakunya mengeliarkan dua butir pil.
"Telanlah, ini obat penawar racun!"
Kim Lo mengangguk. Ia menyambuti ke dua butir pil itu, dia menelannya, harum sekali. Dia merasa lebih segar.
Nona Cin sudah meneruskan keterangannya.
"Memang sengaja hanya dua bong-pay yaug diberikan perkakas yang bisa mengeluarkan asap beracun, karena memang kedua bong-pay ini merupakan pintu keluar dan pintu masuk ke dalam kuburan ini. Karenanya, dua bong-pay yang lain tidak memiliki perkakas yang bisa memuntahkan asap beracun."
Kim Lo baru mengerti mengapa cuma ke dua batu nisan itu saja yang bisa mengeluarkan asap beracun.
Nah, sekarang kau baru mengerti mengapa aku melarang kau bertindak sekehendak hati di tempat ini, bukan?" Tanya si gadis sambil berbisik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasyCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
