Orang itu melirik sejenak pada si pelajar baju putih, dan mengawasi tajam sekali. Biji matanya seperti bersinar. Namun sinar matanya itu kembali seperti biasa:
"Hemmm!" Cuma terdengar dengusan perlahan dari orang itu.
Sedangkan pelajar baju putih itu sudah berkata. "Jika memang anda adalah Pendekar Aneh Seruling Sakti maka aku ingin sekali mengundang anda untuk makan minum bersama. Apakah anda bersedia?"
Kembali orang yang mukanya tertutup kain itu menoleh, dan dia mendengus perlahan lagi. Dia tidak melayani sikap si pelajar baju putih itu.
"Apakah anda menerima undanganku?" Tanya si pelajar baju putih itu, karena orang yang mukanya ditutupi kain itu tidak bilang apa juga.
Orang yang mukanya ditutupi oleh kain menggelengkan kepalanya perlahan-lahan,
"Tidak!" Katanya kemudian. Datar suaranya.
Muka si pelajar baju putih berobah.
"Mengapa?"
"Aku tidak mau menerima undangan siapa pun juga. Termasuk kau!"
"Ya, mengapa? Tentu ada alasannya."
"Hemm, mengapa begitu rewel?"
"Rewel? Aku bermaksud baik padamu..... kau!"
"Pergilah!"
Muka si pelajar baju putih semakin berobah, dia telah berkata dengan sikap mendongkol.
"Baiklah! Kau memperlakukan aku demikian kasar, mungkin disebabkan engkau belum lagi mengetahui siapa adanya aku ini?"
"Aku tidak mau tahu siapa kau!"
"Aku adalah Pek Ie Siu-cay!" menjelaskan si pelajar baju putih tanpa memperdulikan sikap orang yang mukanya ditutup kain putih tersebut.
"Hemm, kau Ang Ie Siucay ataupun Pek Ie Siu-cay, aku tidak kenal dengan kau."
Muka Pek Ie Siu-cay berobah lagi. Ia semakin tidak senang, ia sebetulnya di dalam rimba persilatan memiliki nama sangat terkenal. Kepandaiannya pun sangat tinggi, seperti Hui-houw-to saja dirubuhkannya dengan sangat mudah karenanya bisa dibayangkan, betapa kepandaian yang dimilikinya memang sangat tinggi.
Dia mendengus bahwa orang yang mengenakan kain penutup muka itu adalah si pendekar Aneh Seruling Sakti yang telah menggemparkan rimba persilatan baru-baru ini, maka dia berlaku manis. Siapa tahu dia ketemu batunya, dia diperlakukan kasar dan dingin seperti itu. Dia tidak memperoleh muka. Dia jadi mendongkol dan marah.
"Baik! Aku ingin lihat, sesungguhnya siapakah orang yang memakai gelaran sebagai Pendekar Aneh Seruling Sakti itu?" Sambil bilang begitu, cepat sekali tangan kanannya diulurkannya, dia berusaha menjambret penutup muka orang tersebut.
Orang yang mukanya berpenutup itu, yang memang tidak lain dari Kim Lo, tetap saja berdiam diri. Dia membiarkan tangan Pek Ie Siu-cay yang tengah menjulur dekat padanya, hanya terpisah beberapa dim lagi.
Waktu jari tangan itu akan menyentuh kain penutup mukanya. Kim Lo mendengus dingin, tahu-tahu mukanya melejit ke samping, tangan kanannya telah menyambar dan menangkis dengan sampokan yang cukup kuat kepada tangan Pek Ie Siu-cay. Sampokan tersebut membuat tangan Pek Ie Siu-cay terpental ke arah lain.
Pek Ie Siu-cay juga terkejut, sampokan itu dirasakannya sangat kuat sekali. Tangannya tergetar dan sakit. Hanya saja sebagai orang yang memiliki nama terkenal di dalam rimba persilatan mana dapat ia menerima diperlakukan seperti itu? Iapun jadi penasaran sekali.
Tadi ia sudah bergerak begitu cepat buat menarik lepas topeng muka orang yang diduganya sebagai si Pendekar Aneh Seruling Sakti, justeru masih bisa ditangkis dan dipunahkan. Kembali ia mengulangi jambretan tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasiCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
