Tang-ting Hweshio cuma tersenyum, dia tahu, sulit mengajak wanita itu bicara baik- baik.
Coa Mei Ling menoleh kepada seorang anak buahnya. Dia memberikan isyarat dengan kibasan perlahan tangannya. Dia rupanya perintahkan anak buahnya itu buat mengambil barang yang dikehendaki Tang-ting Hweshio.
Sedangkan saat itu, Hui-houw-to mengawasi sekitar tempat itu dengan penuh kewaspadaan. Karena dia tahu, kalau saja memang Coa Mei Ling memperlihatkan kelicikannya dan bermaksud tidak baik, maka dia akan mendahului buat membuka serangan.
Dia kuatir kalau Kauw-cu dari Hek-pek-kauw tersebut nanti melakukan sesuatu akal muslihat yang bisa membahayakan dia bersama Tang-ting Hweshio.
Waktu itu tampak Coa Mei Ling mengawasi mendelik kepada Hui-houw-to.
"Setelah kau memperoleh suratmu kembali, apakah kau akan menyerahkan kepada Taysu itu?" Tanya Kauw-cu Hek-pek-kauw tersebut.
Hui-houw-to mengangguk.
"Dan apakah surat itu akan dimusnahkan?" Tanya Kauw-cu Hek-pek-kauw lagi.
Kembali Hui-houw-to mengangguk.
"Tidak salah!"
"Hem, jika memang surat itu dimusnahkan, berarti di dalam dunia ini cuma aku yang mengetahui di mana tempat beradanya nelayan yang beruntung memperoleh Giok-sie itu!" kata Coa Mei Ling dengan suara yang dingin.
Hui-houw-to memandang heran dan curiga, ia kemudian bertanya: "Kenapa begitu?"
"Karena aku sudah membacanya!"
"Dan kau kini telah menulisnya di kertas lain?" tanya Hui-houw-to.
"Ya!"
"Hemm, kalau begitu salinannya harus kau serahkan kepadaku!" Katanya dengan suara mengancam.
"Menyerahkan kepadamu?"
"Ya!"
"Enak saja kau bicara!"
"Tak dapat kau menyimpan salinannya!"
"Aku akan memusnahkan salinan itu, tapi sungguh aku tidak akan memusnahkannya begitu saja. Karena salinan itu telah berada di dalam benakku, tersimpan baik-baik di dalam otakku!"
Setelah berkata begitu, Kauw-cu Hek-pek-kauw tertawa bergelak-gelak nyaring sekali. Dia pun memandang sinis kepada si pendeta.
Di waktu itulah tampak, dia seakan juga hendak mengejek pendeta itu. Karena dengan dikembalikannya surat yang pernah dirampasnya, biarpun si pendeta memusnahkan surat itu, tetap saja tidak akan membuat Coa Mei Ling merasa dirugikan karena memang pernah membacanya dan mengetahui dengan jelas, di mana tempat beradanya nelayan yang beruntung memperoleh Giok-sie itu.
Muka si pendeta berobah, tapi Tang-ting Hweshio cepat sekali bisa menguasai diri.
"Hemm apakah memang kau akan menyiarkannya tempat di mana si nelayan itu berada?" tanya Tang-ting Hweshio, dengan suara dan sikap menyelidik.
Kauw-cu Hek-pek-kauw itu tertawa tawar.
"Itu urusanku, tidak perlu Taysu mencampurinya!" Kata Coa Mei Ling dengan suara yang tawar. "Apakah aku akan menyiarkannya di dalam kalangan Kang-ouw, agar semua orang banjir mengejar si nelayan itu adalah urusanku, aku yang akan memutuskannya kelak.......! Dan Taysu tidak bisa untuk mengekang diriku dengan syarat apapun juga!"
Muka Tang-ting Hweshio jadi berobah. Ternyata Kauw-cu dari Hek-pek-kauw ini sangat licik sekali.
Belum lagi dia bilang apa-apa, anak buah Giok-tiauw Sian-lie mengambil sesuatu yang sudah datang kembali. Di tangannya membawa nampan yang cukup besar terbuat dari emas. Di nampannya itu terdapat surat yang tergulung baik sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasiaCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
