Nie-kouw tersebut tersenyum,
"Mengapa heran? Ini adalah adik kandungku, di mana kami baru saja bertemu. Kami ingin bercakap-cakap sepanjang malam ini, karenanya kami mengambil satu kamar.......!"
Walaupun nie-kouw tersebut menyebut Pek Ie Siu-cay sebagai adik kandungnya, ia kurang yakin. Tapi diapun tidak bisa menolak pesanan si nie-kouw. Segera dia pergi mempersiapkan kamar nie-kouw tersebut.
Pek Ie Siu-cay dan Ang-sian Sienie duduk menghadapi meja. Di depan mereka tersedia dua poci arak dan juga beberapa makanan kecil. Mereka minum perlahan-lahan.
"Mengapa kita mengambil sebuah kamar saja?" Tanya Pek Ie Siu-cay perlahan sekali berbisik.
Ang-sian Sienie tersenyum.
"Tidak aneh, bukan? Bukankah kita bisa bercakap-cakap gembira sambil beristirahat? Jika kita pisah kamar, tentu kita akan kesepian, tidak ada orang-orang yang bisa kita ajak bercakap-cakap.......!"
Pek Ie Siu-cay mengangguk.
Diam-diam hati pemuda pelajar berbaju putih ini girang bukan main. Bukankah diwaktu itu si nie-kouw sudah memberikan angin baik padanya, yaitu mereka akan tidur bersama di sebuah kamar?
Tapi, disaat itu juga Pek Ie Siu-cay semakin yakin, bahwa nie-kouw ini bukanlah pendeta wanita yang alim dan suci. Karena pendeta wanita ini pasti merupakan pendeta yang cabul dan senang main serong dengan laki-laki mana saja.
Bukankah sekarang saja tampaknya memang nie-kouw tersebut hendak memberikan angin kepada Pek Ie Siu-cay? Dan dengan hanya memesan sebuah kamar saja, dimana mereka akan tidur bersama di dalam kamar itu, nie-kouw ini sudah memberikan peluang buat Pek Ie Siu-cay menyambutnya.
Walaupun masih berusia muda, Pek Ie Siu-cay tidak bodoh. Dia memang sering bermain dengan wanita-wanita bunga raya, yaitu pelacur, dan ia tahu nie-kouw ini membutuhkannya malam ini.
Pek Ie Siu-cay tidak merasa rugi jika harus kencan dengan nie-kouw tersebut, karena iapun melihat wajah nie-kouw itu sangat cantik sekali. Karenanya, membuat Pek Ie Siu-cay diam-diam bergirang hati dan iapun tidak bosan-bosannya sering melirik kepada nie-kouw itu, untuk mencuri lihat kecantikannya.
Matanya yang bagus bentuknya, hidungnya yang bangir dan bibirnya yang berbentuk kecil mungil sangat indah sekali. Bentuk tubuhnya, potongannya yang indah. Betapa pun juga, nie-kouw ini seorang wanita yang sangat menarik sekali.
Dan diam-diam Pek Ie Siu-cay tersenyum.
Ang-sian Sienie melihat si pemuda senyum-senyum seperti itu, dia meletakkan cawannya di atas meja, kemudian dia mengawasi si pemuda, tanyanya:
"Apa yang kau tertawakan, Kong-cu?"
Tersentak Pek Ie Siu-cay.
"Tidak..... tidak ada.......!" Katanya kemudian dengan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada? Tapi kulihat tadi engkau tersenyum-senyum saja!" Kata Ang-sian Sienie.
Kaget Pek Ie Siu-cay. Rupanya sejak tadi si nie-kouw memang memperhatikannya.
"Ini....... Ini.....," Pipi si pemuda pelajar baju putih ini berobah memerah! "Sebetulnya....... sebetulnya aku tengah berpikir betapa cantiknya Sienie.......!" dan setelah berkata begitu, si pelajar tersenyum.
Girang nie-kouw itu, ia membalas senyum si pelajar.
"Kalau demikian kau rupanya menyukai kecantikan pienie bukan?"
"Ya!"
"Tapi, pienie tentunya tak terlalu cantik, banyak siocia-siocia yang cantik dan halus!"
"Mungkin di dunia ini cuma Sienie yang paling cantik..... cuma sayang.......!" setelah berkata begitu, Pek Ie Siu-cay tidak meneruskan kata-katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasíaCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
