"Jangan bicara ngaco dan sembarangan!" bentak si pendeta dengan suara yang bengis dan galak. "Kau kira siapa lolap ini sehingga kau bisa bicara sembarangan seperti itu?"
"Hemmm, tentu saja kau seorang pendeta pengecut yang tak tahu malu, yang tak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu!" menyahuti Kim Lo.
"Kurang ajar! Un Ma Siansu disegani oleh semua orang, tapi kau, kau terlalu temberang dan takabur! Orang-orang Kay-pang saja yang berani bicara kurang ajar telah kubinasakan. Kukira sekarang Kay-pang tak akan berani untuk berlaku lancang lagi pada Un Ma Siansu! Hahaha! Hahaha!"
Waktu tertawa begitu, suara Un Ma Siansu terdengar bengis sekali.
"Apa?" Tanya Kim Lo terkejut bercampur girang. "Jadi, orang-orang Kay-pang yang belum lama lalu terbunuh itu, telah dilakukan oleh kau?"
Un Ma Siansu mendengus.
"Hemm, sekarang kau baru tahu bukan? Dan tentunya kau jeri dan ingin meminta ampun padaku?" kata si pendeta.
Tapi waktu itu Kim Lo jadi girang bukan main, karena justru ia pernah berjanji kepada orang Kay-pang, bahwa ia akan berusaha membantu mereka mencari pembunuh orang-orang Kay-pang. Siapa tahu tanpa disengaja telah berhasil menemuinya di sini. Maka ia jadi bertepuk tangan saking girangnya.
"Bagus! Jika demikian kau harus menyerahkan dirimu padaku!" Kata Kim Lo dengan suara yang tegas. "Kau harus diserahkan kepada tetua-tetua Kay-pang!"
"Apa?" Kini sebaliknya pendeta itu yang jadi kaget. "Apa kau bilang?"
"Aku pernah berjanji kepada orang-orang Kay-pang, bahwa aku akan berusaha untuk merangkap pembunuh beberapa orang-orang Kay-pang. Ternyata aku telah bertemu dengan si pembunuh itu."
Muka Un Ma Siansu berobah.
"Siapa kau sebenarnya? Mengapa begitu pengecut, sampai mukamu sekalipun tidak berani kau perlihatkan!" Kata Un Ma Siansu dengan muka yang merah padam.
Kim Lo tertawa dingin.
"Hemmm...... kau tidak perlu banyak bertanya, nanti jika telah kuserahkan kepada tetua-tetua Kay-pang, di waktu itu, kau bisa bicara dan bertanya kepada mereka......" Sambil berkata begitu, Kim Lo telah melangkah mendekati dan mengayunkan tangan kanannya untuk menjambret lengan si pendeta.
Tapi Un Ma Siansu bukan pendeta yang berkepandaian lemah, ia cepat mengelak. Waktu itu iapun tengah gusar, karena setelah berkelit cepat sekali membalas menyerang.
"Kau akan kubikin tahu rasa dan agar mengetahui Un Ma Siansu bukanlah orang yang mudah untuk diremehkan!" Bentaknya dangan suara bengis.
Serangan balasan dari Un Ma Siansu ternyata cukup kuat, karena rupanya ia memiliki lweekang yang tinggi.
"Mengapa kau membunuh orang-orang Kay-pang itu?" Tanya Kim Lo sambil mengelakkan pukulan tersebut.
"Hemm mereka berani kurang ajar terhadapku. Mereka berusaha untuk mencampuri urusanku, dimana mereka berusaha untuk mencegah keinginanku mengambil beberapa orang gadis menjadi gundikku. Karena mereka tidak kenal selatan, sudah selayaknya jika mereka dikirim ke kerajaan langit!"
Setelah berkata begitu, gencar sekali Un Ma Siansu menyerang Kim Lo. Yang dimaksudkannya dengan kata-kata kerajaan langit, ia mau mengartikan sebagai akherat.
Kim Lo mudah mengelakan. Walaupun kepandaian Un Ma Siansu tidak lemah, tapi kepandaian pendeta itu tidak berarti banyak buat Kim Lo yang kepandaiannya sudah mahir sekali.
Tiga kali ia mengelak tahu-tahu tubuhnya melesat ke samping kanan. Ia menghantam dengan tangan kiri. Un Ma Siansu mengelak, tapi baru saja si pendeta berkelit belum lagi ia bisa berdiri tetap di saat itu justeru tampak Kim Lo menyentil dengan jari telunjuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasíaCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
