Dan terpaksa sekali Tang-ting Hweshio melayani lagi. Waktu memiliki kesempatan pula, Tang-ting Hweshio segera melompat ke samping, ia menghindar dan cepat sekali ia sudah bisa memunahkan terjangan lawannya.
Di saat seperti itulah Tang-ting Hweshio sudah menjauhi lawannya, ia mengerahkan gin-kang istimewanya, yaitu "Lari di Permukaan Air". Tubuhnya seperti terbang saja dan sepasang kakinya seperti tidak menginjak tanah telah meninggalkan tempat itu.
Pek Lojie murka bukan main, dia mengejarnya.
Sengaja Tang-ting Hweshio mengambil arah yang berlawanan dengan arah yang diambil Hui-houw-to, ia berlari cepat sekali. Walaupun Pek Lojie memiliki gin-kang yang mahir, tokh lama kelamaan ia semakin tertinggal.
Tang-ting Hweshio semakin jauh juga. Hal ini membuat Pek Lojie tambah murka. Ia mengempos seluruh sisa tenaganya, mengejar lebih cepat, ia mengerahkan gin-kangnya.
Tetap saja jarak mereka terpisah semakin jauh, karena Tang-ting Hweshio berlari secepat terbang saja.
Pek Lojie penasaran, dia mengejar terus. walaupun perlahan-lahan jarak mereka semakin jauh, malah akhimya dia tidak melihat bayangan si pendeta lagi. Dia tetap berlari ke depan mengejar terus, karena dia yakin, nanti dia akan berhasil mengejarnya.
<>
Hui-houw-to kuatir bukan main. Kalau Pek Lojie bisa mengejarnya, di mana setelah dia merubuhkan Tang-ting Hweshio dan mengejarnya, dia akan menghadapi bahaya yang tidak kecil.
Hui-houw-to juga menyadari. Dengan Tang-ting Hweshio meminta dia meninggalkan mereka yang tengah bertempur itu, disebabkan Tang-ting Hweshio telah kehilangan keyakinannya bahwa dia bisa, menghadapi Pek Lojie.
Malah Hui-houw-to menduga. Kemungkinan Tang-ting Hweshio merasa sudah jatuh dibawa angin, dan itu memang membahayakan sekali buat Hui-houw-to. Dan dia berlari tanpa pernah berhenti, dia berlari terus mengerahkan seluruh gin-kangnya.
Walaupun napasnya sudah memburu keras, tetap saja dia tidak berani berhenti dan atau memperlambat larinya. Dia terus juga mengerahkan seluruh, gin-kangnya berlari dengan cepat sekali. Setiap kali dia menoleh ke belakang, dia bernapas lega, sebab tidak melihat ada yang mengejarnya.
Sambil berlari begitu, hati Hui-houw-to Khang Lam Cu kuatir sekali untuk keselamatan Tang-ting Hweshio. Entah bagaimana keadaan si pendeta? Dan apakah mereka sampai sekarang ini masih juga terlibat dalam pertempuran yang seru, pertempuran yang merupakan adu jiwa satu dengan yang lainnya.
Hui-houw-to merasakan napasnya pendek-pendek karena lelah bukan main, napasnya juga memburu keras sekali. Dia ingin beristirahat namun hatinya masih kuatir dikejar Pek Lojie maka dia berlari sekuat sisa tenaganya.
Sampai akhirnya, sepasang kakinya lemas tidak bertenaga lagi. Dia seperti kehabisan tenaga, tubuhnya terjungkal rubuh di tepi jalan.
Napasnyapun kini memburu. Hui-houw-to merangkak ke dekat bawah batang pohon di tepi jalan itu dia meneduh.
Setelah duduk mengasoh beberapa waktu lamanya, akhirnya napasnya tidak memburu keras seperti tadi lagi. Dia sudah bisa mengendalikan pernapasannya. Dia mengawasi ke arah dari mana tadi dia mendatangi. Tidak ada yang mengejar.
Tentunya Tang-ting Hweshio dengan Pek Lojie masih terlibat dalam pertempuran yang seru.
Teringat kepada si pendeta Siauw-lim-sie itu Hui-houw-to menghela napas dalam-dalam.
Tang-ting Hweshio sangat baik. Dia merupakan pendeta Siauw-lim-sie yang alim dan juga jujur. Dia selalu bertindak welas asih, dan memang pendeta Siauw-lim-sie itu seorang pendeta yang patut untuk dihormati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasíaCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
