Karena terpikir begitu tidak membuang waktu lagi, Ko Tie segera mendorong daun pintu dengan mendadak. Ia juga membolang-balingkan pedangnya buat menjaga suatu kemungkinan serangan mendadak atau membokong. Ia juga menerobos masuk ke dalam rumah.
Tapi tak ada orang, hanya saja begitu Ko Tie melesat masuk, menyambar angin serangan yang kuat dan dingin sekali.
Ko Tie menangkis dengan pedangnya.
Namun seketika Ko Tie jadi terkejut.
Karena pedangnya terlilit oleh sesuatu dan malah terasa ada teriakan yang kuat sekali. Pedangnya hendak dirampas.
Ko Tie mengempos semangatnya, dia menarik juga.
Akhirnya lilitan itu terbuka, dan pedangnya bebas, terdengar tertawa dingin seorang laki-laki,
"Hemm, memang liehay!" kata orang itu dari tempat gelap. "Memang tak percuma Lie Ko Tie terkenal dalam kalangan Kang-ouw sebagai seorang pendekar yang sangat tinggi kepandaiannya........!"
Di waktu itu Ko Tie yang memiliki pandangan mata sangat tajam, sudah mengawasi cermat.
Di tempat yang gelap tampak sosok bayangan tubuh yang besar dan tinggi tegap, seorang laki-laki.
Ko Tie, jadi heran, kemana perginya Ang-hoa Liehiap? Apakah laki-laki itu temannya?
Belum lagi Ko Tie sempat menjawab pertanyaan hatinya sendiri, justeru laki-laki itu sudah menggerakkan tangan kanannya, maka menyambar cambuk yang sangat kuat, memperdengarkan suara "tarr!" nyaring sekali.
Ko Tie mundur keluar dari rumah itu.
"Dia berada di dalam!" Kata Ko Tie memberitahukan kepada Kim Lo, yang memandang heran padanya, mengapa Ko Tie melompat keluar lagi dari dalam rumah itu.
"Biar aku yang masuk, paman Lie....." melompat Kim Lo dengan segera.
"Tunggu dulu...... ada temannya!" kata Ko Tie.
Baru saja Ko Tie berkata begitu, dari dalam rumah itu telah melompat keluar seorang pendeta! Dia tidak lain Pu San Hoat-ong! Tangannya mencekal cambuk dan siap untuk membuka serangan.
Melihat Pu San Hoat-ong, Ko Tie jadi tertawa dingin.
"Hemm! Dugaanku memang tidak salah bahwa Ang-hoa Liehiap bukan manusia baik-baik. tidak tahunya memiliki tulang punggung kau, manusia rendah.......!"
Pu San Hoat-ong tidak memperdulikan ejekan itu karena dia sudah tertawa bergelak dengan suara menyeramkan. Cambuknya menyambar ke mulut Ko Tie.
"Akan kuhancurkan mulutmu.......!" Kata Pu San Hoat-ong kemudian.
Diwaktu itu Kim Lo melompat ke depan. Dia mawakili Ko Tie untuk menangkis serangan cambuk dari Pu San Hoat-ong.
Malah dia pun telah melompat ke depan lagi untuk membalas dan menyerang. Dengan cara demikian, dia tidak mau memberikan kesempatan kepada Pu San Hoat-ong untuk meneruskan serangan berikutnya.
Diwaktu itu tampak Pu San Hoat-ong sudah mengerahkan tenaganya, mengayunkan cambuknya untuk menyerang lagi semakin hebat. Serangan cambuknya memang dahsyat sekali, walaupun hanya merupakan cambuk belaka, tapi Pu San Hoat-ong dengan menyalurkan lweekang pada cambuknya, dia bisa merobek dan menabas pecah kain yang paling tipis sekalipun juga!
Diwaktu itu Kim Lo sudah bertempur dengan Pu San Hoat-ong. Ko Tie setelah mengawasi beberapa jurus, dan yakin Kim Lo tidak memperoleh kesulitan dari Pu San Hoat-ong, dia pun segera melompat masuk ke dalam rumah lagi, untuk mencari Ang-hoa Liehiap.
Begitu tubuh Ko Tie melambung masuk ke dalam rumah, dengan terjangan yang cepat sekali, justeru diwaktu itu berkelebat sinar terang menikam ke dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasiaCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
