Jilid 52

1.9K 40 0
                                        

"Ayo menggelinding pergi atau akan segera kupukul!" Terdengar salah seorang pelayan mengancam.

"Ya kami dapat saja mempergunakan kekerasan melemparkan makhluk-makhluk mesum keluar dengan kasar!" bentak pelayan yang lainnya.

"Ayo menggelinding!"

"Ayo pergi!"

Ramai sekali suara pelayan-pelayan itu.

Mendadak, suara senandung dua orang pengemis itu terhenti, menyusul itu terdengar suara, "plokk, plokk!" berulang kali dan beruntun. Juga di susul dengan jerit kesakitan para pelayan itu saling susul.

Rupanya para pelayan itu seorang demi seorang telah ditempeleng pengemis tersebut.

"Kalian terlalu kasar! Tahukah kalian siapa kami, heh?" bentak salah seorang pengemis itu, dingin sekali suaranya.

Pelayan pelayan itu jadi ciut nyalinya, karena tidak terdengar lagi suara bentakan-bentakan mereka.

"Kalian yang pergi! Nanti jika urusan kami telah selesai tanpa kalian perintahkan tetap kami akan pergi meninggalkan tempat ini! Kalian jangan kasar dan keterlaluan seperti itu."

Setelah berkata begitu, si pengemis meninggikan suaranya: "Ayo pergi!"

Kemudian menyusul dengan bentakannya terdengar suara menggerutu dari para pelayan rumah penginapan. Tapi suara mereka semakin menjauh, menunjukkan bahwa mereka ketakutan dan walaupun hati tidak senang, telah pergi meninggalkan dua orang pengemis tersebut.

Sunyi lagi.

"Tuan maukah tuan menemui kami dua manusia miskin melarat?" tiba-tiba terdengar suara si pengemis yang berkata seperti itu, suaranya dingin tapi sabar.

Kim Lo tahu, kata-kata itu ditujukan padanya. Tapi ia diam saja, tidak sepatah perkataan juga ia menjawab.

"Tuan, jangan memaksa kami mengambil tindakan di luar batas kemampuan kesadaran kami, karena jika tuan tetap tidak mau menemui kami dan tidak sudi menerima kedatangan kami, akan pergunakan cara kami sendiri buat menemui tuan......!" Terdengar suara pengemis itu lagi.

Tapi Kim Lo tetap saja diam rebah di pembaringan, sama sekali tidak bergerak.

"Baiklah!" Terdengar pengemis itu lagi. "Jika memang kami manusia-manusia hina dan rendah tidak pantas diterima oleh tuan, kami akan memberikan diri buat memaksa bertemu dengan tuan!"

Menyusul dengan perkataannya itu tiba-tiba terdengar suara nyaring, pintu diterjang dari luar, pintu kamar menjeblak terbuka. Dan tampak melesat ke dalam kamar dua sosok bayangan.

Kim Lo tetap rebah di pembaringan. Ia cuma melirik dengan sikap yang tenang.

Dua orang pengemis berusia pertengahan. Mereka berdua merupakan pengemis yang baru kali ini dilihat Kim Lo. So Pang tidak dilihat di antara mereka.

Waktu itu salah seorang yang memelihara jenggot panjang telah berkata dengan diiringi senyuman sinis,

"Maafkan tuan atas kelancangan kami, tapi kami perlu sekali bertemu dengan tuan, guna membicarakan urusan yang kami anggap penting! Kami ingin menanyakan sesuatu."

Berkata sampai disitu, si pengemis berhenti sejenak. Pengemis yang tidak memelihara jenggot telah tertawa dingin, kemudian katanya:

"Dan kami kira, kami berhak untuk bertanya kepada tuan karena tiga orang anggota kami telah terbinasa dengan cara yang sangat bengis dan kejam sekali."

"Hemmm. Jadi kau mencurigai diriku melakukan perbuatan itu membinasakan tiga orang perkumpulan kalian?" Akhirnya Kim Lo berkata juga. Dingin suaranya.

Pendekar Aneh Seruling SaktiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang