Jilid 8

3.2K 53 0
                                        

Ang Kwang tertawa bergelak-gelak. Namun tertawanya itu tidak selesai. Sesuatu benda kecil bulat telah menyambar ke arah mulutnya yang tengah terbentang.

Waktu Ang Kwang melihat benda yang tengah menyambar itu, dia kaget dan ingin menutup mulutnya dan berkelit, namun sudah tidak keburu lagi, karena benda itu telah menyambar cepat sekali terlambat buat Ang Kwang mengelakkan diri, giginya terhantam dengan kuat sehingga rontok.

Di kala itu Ang Kwang menjerit dengan muka yang merah padam kebiru-biruan akibat gusar yang bukan kepalang.

"Bangsat, siapa yang menyerang membokong.......?!" Teriaknya.

Tapi tengah dia memaki seperti itu, justeru telah menyambar lagi sebutir batu kerikil menghantam mukanya, tepat pada matanya. Seketika Ang Kwang menjerit kesakitan dan matanya yang kiri, yang disambar batu kerikil itu telah menjadi buta mengalirkan darah yang tidak sedikit.

Bagaikan kalap Ang Kwang mencak melompat-lompat ke sana ke mari, ia berseru-seru perintahkan anak buahnya untuk mencari orang yang menyerang padanya secara membokong itu.

Lain dengan orang-orang itu, justeru Bun Hong sangat girang sekali, malah dia telah menyebut: "In-kong akhirnya kau datang juga!" perlahan sekali.

Dan Bun Hong yakin, bahwa orang yang telah menepuk Ang Kwang dengan batu kerikil itu tidak lain dari penolongnya, yang telah datang lagi, akan tetapi di saat itu, Bun Hong sendiri tidak bisa melihatnya, entah di mana beradanya si tuan penolongnya itu, karena di sekitar tempat itu tidak terlihat orang lain, hanya rombongan Ang Kwang dan dia sendiri.

"Keluarlah jika seorang Ho-han, mengapa harus bersikap seperti Siauw-cut yang main sembunyi-sembunyi seperti itu?!" Teriakan Ang Kwang dengan murka.

Tapi kembali meluncur sebutir batu kerikil yang cepat sekali. Ang Kwang kini telah bersiap sedia. Dia juga memang memiliki kepandaian tidak rendah.

Melihat sambaran baru kerikil itu ke arah mulutnya dia cepat-cepat melompat ke samping untuk menghindarkan diri. Akan tetapi gerakannya terlambat lagi. Batu kerikil itu seperti juga memiliki mata, karena tahu-tahu batu kerikil itu telah melesat ke samping dan ......

"Tukk!" Batu kerikil itu telah menghantam mulut Ang Kwang pula malah sekarang jauh lebih besar keras, sampai gigi Ang Kwang copot tiga! Dia kembali teraduh-aduh.

Waktu itu terdengar suara orang berkata perlahan sekali, begitu aneh suara orang itu, terdengarnya aneh buat telinga, karena seperti jauh tapi terdengar jelas, dikatakan dekat, tapi tidak terlihat orangnya.

"Jika kalian tidak cepat-cepat angkat kaki, kalian menerima ganjaran yang lebih bagus lagi!" Ancam orang yang tidak terlihat ujudnya.

Ang Kwang tertegun sejenak. Seketika ia menyadari bahwa ia memang tengah menghadapi orang pandai yang sakti. Ia merangkapkan sepasang tangannya, menjura memberi hormat ke sumber datang suara itu, yaitu dari sebelah kanannya!

"Siapakah yang telah memberikan petunjuknya untuk Boanpwe, Ang Kwang harap keluar untuk memberikan petunjuk lebih jauh!"

"Hemm, jika aku keluar memperlihatkan diri, apakah kalian masih sempat untuk memiliki jiwa?" Itu adalah jawaban orang yang tidak terlihat ujudnya.

Ang Kwang mengerutkan sepasang alisnya, tapi kemudian dia telah berseru. "Baiklah? Boanpwe, Ang Kwang dari Kim-giok-pang, ingin sekali orang pandai untuk memperlihatkan diri dengan memandang muka Pangcu kami, yaitu Sam Tok Pangcu!"

"Hemmm, memang aku sebentar lagi ingin pergi menemui pangcu kalian! Sekarang pergilah kalian mengeliling dan sampaikan pesanku kepada pangcu kalian itu bahwa tidak lama lagi aku akan mengunjunginya, untuk menanyakan kesehatannya.......!"

Pendekar Aneh Seruling SaktiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang