Tapi Bie Lan sendiri memang telah bersiap-siap. Dia sangat menyesal, mengapa ia menotok dengan mempergunakan ilmu It-yang-cie yaitu menotok dengan jari tunggal yang sakti, jaraknya pun dekat sekali, iapun memang telah menyerang dengan cara membokong, dengan tiba-tiba sekali namun masih gagal.
Ia begitu melihat si pendeta tak rubuh, si gadis sudah melompat ke belakang. Dengan demikian ia berhasil menghindarkan dari hantaman si pendeta, karena ia melihat datangnya tangan Pu San Hoat-ong, segera melompat lagi.
Pu San Hoat-ong yang dibokong seperti itu jadi murka bukan main, mana mau ia melepaskan gadis ini, melihat pukulannya jatuh di tempat kosong dia membarengi menghantam lagi. Malah sekali ini beruntun beberapa kali.
Bie Lan tetap mengandalkan kelincahannya buat menghindarkan diri ke sana ke mari.
Pu San Hoat-ong semakin gesit, serangannya semakin gencar.
Bie Lan mengeluh juga di dalam hatinya. Ia tahu jika keadaan seperti ini berlangsung terus, niscaya akhirnya dia bisa bercelaka di tangan Pu San Hoat-ong.
"Tahan dulu Taysu!" Katanya dengan suara teriakan yang nyaring sekali, "Tahan dulu!"
"Tahan dulu, apa?" Bentak si pendeta sengit. "Monyet kecil tidak tahu mampus, apakah kau kira bisa menipu Loceng lagi buat kedua kalinya?"
"Tadi ada yang hendak boanpwe bicarakan!" Teriak Bie Lan nyaring, dia juga mengelakan serangan si pendeta.
"Kau ingin mengatakan apa?"
"Hentikan dulu serangan Taysu!"
Pu San Hoat-ong ragu-ragu tapi walaupun demikian, tetap saja ia merangsek maju mendesak si gadis.
"Apakah Taysu tidak mau mendengarkan dulu kata-kata boanpwe?" Tanya Bie Lan tetap suaranya nyaring. Dia bicara seperti itu buat mempengaruhi si pendeta.
Pu San Hoat-ong tidak menjawab, dia benar-benar ragu dan telah menyerang terus dengan cepat dan kuat. Dia tidak mau kalau sampai harus tertipu lagi.
Tapi Bie Lan terus juga berseru nyaring meminta si pendeta mendengar dulu kata-katanya.
Setelah Bie Lan berteriak beberapa kali, akhirnya si pendeta menahan tangannya juga.
"Nah, katakanlah apa yang ingin kau katakan!" Bentak Pu San Hoat-ong, "tapi ingat jika kau main gila hendak mempermainkan aku, hemmm, hemmm, Loceng akan turunkan tangan kematian buat kau!"
Waktu bilang begitu, mata si pendeta menatap tajam sekali, wajahnya juga sangat bengis.
Bie Lan tersenyum.
"Boanpwe ingin memberitahukan bahwa tadi boanpwe cuma ingin mencoba apakah memang benar-benar ilmu boanpwe belum ada artinya. Sengaja boanpwe menyerang Taysu, untuk mengetahui hal itu dan memang kenyataannya ilmu boanpwe belum berarti apa-apa karena Taysu sangat liehay sekali."
Si pendeta memandang ragu-ragu.
"Benarkah itu?" Tanyanya.
"Benar Taysu!"
"Kau bukan sedang main gila?"
"Mana berani boanpwe main gila terhadap Locianpwe?" kata si gadis tertawa.
Sedangkan otak Bie Lan sendiri sebetulnya saat itu tengah bekerja keras. Ia berusaha untuk mencari jalan keluar, untuk dapat melepaskan diri dari si pendeta. Karena dari itu dia tidak hentinya sengaja mengulurkan waktu.
Ia mengetahui, jika si pendeta menyerang terus menerus, niscaya ia akan kewalahan dan juga akan membuat akhirnya rubuh tanpa daya. Karena memang kepandaian si gadis masih berada di sebelah bawah kepandaian pendeta itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasyCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
