Masih diliputi oleh keraguan, ia melangkah perlahan-lahan ke arah timur. Ia bermaksud buat menempuh perjalanan memutar, tapi justeru yang membuat ia ragu-ragu kalau saja ia terlambat datang ke tempat tujuannya.
Tengah ia berjalan perlahan-lahan seperti itu baru satu atau tiga lie, tiba-tiba ia mendengar suara derap langkah kaki kuda. Malah disusul dengan kata-kata: "Nah, itu dia......."
Hui-houw-to menoleh, hatinya tercekat.
Kiranya kuda hitam dengan penunggang¬nya lelaki baju hitam dengan wanita yang diduganya sebagai Giok-tiauw Sian-lie tengah mendatangi dengan cepat.
Rupanya, laki-laki berbaju hitam itu memang licik sekali. Waktu dia mau memasuki permukaan hutan itu, dia telah berpikir, bahwa kalau memang Hui-houw-to bersembunyi di sekitar hutan itu, sulit buat dia mencarinya. Kemungkinan dia yang akan diserang secara menggelap.
Karena dari itu, sengaja dia mengajak Giok-tiauw Sian-lie pergi, seakan juga mereka tidak mencurigai bahwa Hui-houw-to ini bersembunyi disitu. Dan sengaja mereka melarikan kuda mereka belasan lie, setelah itu barulah mereka kembali, untuk memergoki lawan mereka.
Siasat mereka ternyata berhasil. Memang Hui-houw-to tidak berpikir bahwa musuhnya tengah mempergunakan siasat, karenanya dia telah terpancing keluar dari tempat persembunyiannya.
Melihat mereka, segera juga Hui-houw-to tanpa berpikir dua kali menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat cepat sekali ke depan. Dia berlari sekuat tenaganya, mengempos semangatnya dan mengerahkan gin-kangnya.
Tadi Giok-tiauw Sian-lie, wanita itu tidak mau melepaskannya lagi. Dia melesat turun dari atas punggung kudanya, dia telah berlari dengan cepat sekali mengejar Hui-houw-to.
Sedangkan kuda hitam itu, yang kini sudah berkurang bebannya, karena cuma orang berbaju hitam itu saja seorang dari yang duduk di punggungnya, dapat berlari lebih cepat mengikuti di belakang Giok-tiauw Sian-lie.
Begitulah mereka tampak saling kejar mengejar, sedangkan Hui-houw-to berusaha berlari sekuat tenaganya.
Giok-tiauw Sian-lie ternyata memang hebat sekali, gin-kangnya pun sangat mahir karena dia mengejar seperti juga terbang, sepasang kakinya tidak menginjak tanah seperti tubuhnya melayang di tengah udara saking cepat. Dia berlari dan bajunya berkibar-kibar.
Hui-houw-to mengeluh, dia tidak berani mengurangi sedikit pun larinya. Malah dia berusaha berlari lebih cepat lagi, buat menjauhi diri dari Giok-tiauw Sian-lie.
Hanya saja, gin-kang Giok-tiauw Sian-lie rupanya berada di atas Hui-houw-to. Dalam waktu singkat dia sudah bisa memperpendek jarak antara dirinya dengan Hui-houw-to.
Hati Hui-houw-to jadi gelisah bukan main. Dia merogoh sakunya mengeluarkan Tiat-lian-cu.
Di waktu itu, dia pun segera menggerakkan tangannya, menimpuk ke belakang.
Giok-tiauw Sian-lie sangat gesit. Dia mengelakan sambaran Tiat-lian-cu. Dia malah melesat lebih cepat lagi. Sedikit pun larinya tidak berhenti atau berkurang kecepatannya.
Setelah saling kejar beberapa saat lagi, jarak mereka cuma dua tombak lebih.
"Berhenti!" Bentak Giok-tiauw Sian-lie sambil mengayunkan tangannya.
Dua batang hui-to atau golok terbang menyambar ke punggung Hui-houw-to.
Di waktu itu, Hui-houw-to tidak bisa berlari terus, karena jika dia tidak mengelakkan diri dari sambaran hui-to itu, punggungnya akan jadi sasaran. Karenanya dia telah merandek, berhenti berlari dan mengibaskan tangannya menangkis hui-to itu.
Dia berhasil meruntuhkan hui-to, tapi begitu ia mengibaskan tangannya meruntuhkan hui-to justeru diwaktu itu Giok-tiauw Sian-lie sudah berada di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasyCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
