-[15]- The Seeds of Love

25.3K 1.4K 8
                                        

Jangan lupa tinggalkan VOTE dan COMMENT kalian

Happy reading all ^_^

.

.

.

.

.

.

.

AZHEVADINO melirik laki – laki yang duduk di hadapannya dengan wajah datar dan jengkelnya. Lalu sepasang mata dark choco miliknya beralih pada perempuan yang duduk di samping laki – laki sialan itu dengan memangku Rhinvero. Cuih, apa – apa an mereka bertiga itu? Kayak keluarga bahagia aja, batin Azhevadino.

Kedua bola mata Azhevadino membulat sempurna saat laki – laki yang ada di hadapannya menyuapkan sepotong telur dadar untuk perempuan yang ada di sampingnya. What the hell, dia udah punya pacar tapi masih godain cewek lain, umpat Azhevadino dalam hati.

"Wah, wah, kalian kayak keluarga bahagia ya." Ujar Anggi sambil tersenyum geli.

Wanita paruh baya itu memang sengaja memanas – manasi suasana. Dia sudah daritadi sibuk mengamati putra semata wayangnya yang sedang menatap tajam Yovan dan Amare. Seperti suami yang cemburu.

"Maunya sih gitu Tant, tapi Yovan udah kepincut duluan sama Vina." Ujar Yovan sambil sesekali melirik Azhevadino.

Oh lalala, Azhevadino yang tidak sadar jika sedang dipanas – panasin oleh Ibunda dan sahabatnya sendiri hanya diam membisu sambil menatap tajam Yovan dan Amare. Amare yang tidak menahu apa – apa hanya memandangi Anggi, Azhevadino dan Yovan secara bergantian. Ini ada apa sih, pikir Amare.

"Kamu lagi cuti ya, Me?" tanya Anggi.

"Iya, Bunda. Liburan lah. Selama kerja belum pernah ambil cuti."

Azhevadino dan Yovan langsung menoleh cepat ke arah Amare. Bunda? Mereka tidak salah dengar kan? Anggi menahan tawa melihat tingkah lucu Azhevadino dan Yovan itu.

"Bunda yang minta Ame buat manggil gitu." Ujar Anggi.

Perasaan aneh itu muncul kembali saat Azhevadino mengetahui jika Anggi dan Amare sudah menjadi sangat dekat. Entah kenapa dia sangat bahagia.

"Terus bagaimana bisa kalian bertemu?" tanya Anggi.

"Ah, tadi Ame lagi ada kencan, Bun. Terus ketemu sama Pak Azhe. Ha-"

"Azhe, Ame. Ini di luar jam kantor jadi panggil Azhe."

Amare mendengus kesal saat sifat seenak jidat milik Azhevadino muncul.

"Kamu punya pacar?" tanya Anggi dengan nada terkejut.

"Calon suami lebih tepatnya. Bundaku menjodohkanku dengannya."

"Tante Rhine ngelakuin itu lagi?" tanya Yovan.

Lagi? Kali ini Anggi dan Azhevadino sangat penasaran dengan pertanyaan yang diajukan Yovan. Yhaa, sangat mungkin anak secantik dan semanis Ame tidak ada yang menyukainya. Apalagi jarang juga ada perempuan yang cantik di luar dan cantik di dalam, pikir Anggi.

"Begitulah."

"Dan lo nerima dia?"

"Entahlah, tapi dia lumayan dibanding sama yang sebelum – sebelumnya."

Sebelum – sebelumnya? Jangan bilang Ame udah berulang kali ngelakuin kencan seperti ini, pikir Azhevadino. Membayangkan Amare yang berkencan dengan pria lain membuat Azhevadino semakin emosi.

"Lalu kelanjutannya bagaimana, Me?" tanya Anggi.

Jujur saja. Wanita paruh baya itu sangat penasaran dengan kisah cinta gadis muda yang ada di hadapannya ini. Sangat disayangkan bukan, kalau harus melepaskan calon menantu yang hampir sempurna ini. Mungkin saja dia bisa membantu anaknya untuk mendapatkan Amare.

"Ah, soal it-"

"Bundaaaa, Inver ngantuk."

Pandangan Amare beralih pada Rhinvero. Anggi dan Azhevadino menghela napas kesal. Mereka berdua sudah sangat penasaran. Yovan yang memerhatikan tingkah laku ibu dan anak yang duduk di hadapannya itu hanya bisa menahan tawanya. Well, Zhe, sepertinya lo jatuh cinta sama Ame tapi nggak sadar – sadar juga, batin Yovan.


Amare's POV

Gue memandangi Inver sambil tersenyum. Aih, kencan buta gue hancur deh gara – gara bocah tengil ini. Ponsel gue bergetar, gue pun mengambilnya dari nakas yang ada di sebelah kasur.

"Halo?"

"Lo dimana sekarang?"

"Bentar gue sharelock dulu."

Gue dengan gesit langsung mengirim lokasi gue berada tanpa memutuskan percakapan telepon.

"Apa – apa an ini? Lo kenapa bisa ada di situ?"

"Ceritanya panjang."

"Ya. Sangat panjang. Eaton udah cerita ke gue."

"Lo kenal dia, Bang?"

"Dia partner bisnis gue dulu tapi masih tetep saling ngehubungi. Lo tunggu gue di sana. Gue otw nih. Bilang dong kalo pulang malem. Bunda sama Ayah khawatir sama lo."

"Gue lupa, Bang. Nanti gue ceritain yak."

"Oke, see yaa."

"See yaa."

Gue menghela napas panjang lalu gue kembali memandang Inver. Gue mengelus lembut kepala Inve lalu mencium kening Inver.

"Have a nice dream, My Little Angel."

Gue pun segera beranjak dari tempat dengan mengendap – endap biar Inver nggak kebangun. Nggak lupa juga gue ngambil sling bag dan barang – barang gue yang ada di sofa dekat pintu kamar lalu gue tutup pintu kamar itu sepelan mungkin.

Gue menghela napas panjang setelah berhasil keluar tanpa membangunkan Inver. Hari yang sangat melelahkan. Gue pun membalikkan badan dan sh*t, lidah gue kegigit anjir. Gue langsung menatap tajam laki – laki yang ada di hadapan gue. Ngagetin aja pake nggak ada suara langkah kaki lagi.

"Kamu udah selesai?"

"Iya, saya sudah selesai, Pak."

"Aku ka-"

"Bisa kita turun dulu Pak kalau mau berebat? Saya tidak ingin membangunkan Inver."

Masa bodo lah dia atasan gue. Gue bisa cari kerja lain kalau pun dipecat. Dia dulu sih, bukan siapa – siapa gue tapi tingkahnya seenak jidatnya aja. Gue langsung duduk di sisi Bunda Anggi saat sampai di ruang tamu.

"Kamu jadi pulang, Me?"

"Iya, Bun. Udah dijemput nih."

"Sama laki – laki yang tadi?"

"Bukan, Bun. Beda lagi."

TING. TONG.

Gue melihat Azhe yang berdiri dan entah kenapa Azhe berdiri cukup lama di ambang pintu itu hingga gue melihat sosok yang datang dan betapa senangnya gue akhirnya bisa lepas dari kungkungan Azhe. Aduuuuh, Abang, I love you so much.




TBC

.

.

.

See yaaa

AMAZHECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang