-[50]- Lunch Invitation

10.3K 578 1
                                        

Budayakan klik BINTANG dulu (VOTE) sebelum membaca

Jangan lupa tinggalkan VOTE dan COMMENT kalian yaaa plus minta tolong rekomendasikan cerita ini 😁😁🤗

Happy reading all ^_^

.

.

.

.

.

.

.

"HALOOO, Kakek, Nenek."

Rhinvero tersenyum bahagia saat menyapa Rhine dan Skylar. Skylar dan Rhine pun tersenyum senang. Mereka berdua telah terhipnotis dengan keimutan malaikat kecil yang berada di dalam gendongan Amare.

"Ini Paman Aro. Ayo Paman Aro disapa dulu." Ujar Amare sambil menunjuk Amaro.

"Halooo, Paman Aro." Ujar Rhinvero sambil tersenyum lebar.

Semua tertawa geli saat melihat Rhinvero yang bersemangat untuk menyapa.

"Ayo masuk. Azhe dan Inver tunggu dulu ya. Aku dan Ame mau menyiapkan makan siang kita dulu." Ujar Rhine.

"Inver ikut Bunda sama Nenek." Rengek Rhinvero.

"Kalau Inver ikut Bunda nggak bisa bantu Nenek dong." Ujar Amare

"Sama Paman aja gimana? Inver lihat Bunda sama Nenek lagi nyiapkan makan tapi Paman gendong." Ajak Amaro

"Okedeh."

Amare segera menyerahkan Rhinvero pada Amaro dan sekarang Rhinvero duduk tenang dalam gendongan Amaro. Rhine, Amare, Amaro, dan Rhinvero pun meninggalkan Azhevadino dan Skylar yang berada di ruang keluarga.


Azhevadino's POV

"Ehem, jadi kamu sudah berapa lama berhubungan dengan putri saya?"

Gue hampir tersedak air ludah gue sendiri saat mendengarkan pertanyaan Om Skylar yang to the point.

"Kami baru menjalin sebagai kekasih beberapa minggu ini, Om."

"Kenapa nggak langsung ngelamar Ame?"

Astagaaa, pertanyaan yang to the point hingga memojokkan gue ke tepi jurang yang tak kasat mata.

"Pendekatannya yang lama Om."

"Emang kamu PDKT berapa lama sih?" tanya Om Skylar dengan nada tegas.

"Empat tahun, Om." Ujar gue nggak kalah tegas.

Gue tersenyum geli saat teringat dengan saran dan petuah yang beberapa menit lalu disampaikan Ame sebelum gue dan Inver memasuki mansion ini.

Jadi, sayang. Kalau Ayah menanyakan berbagai macam dengan tegas dan to the point kamu langsung jawab aja dengan simpel, padat jelas dan juga dengan nada yang tegas juga.

"Ibunya Inver masih hidup?"

"Tidak, Om."

Gue memerhatikan Om Skylar yang terdiam sambil menatap lekat – lekat gue. Sepertinya Om Skylar jadi teringat kisah yang gue ceritakan beberapa bulan yang lalu saat gue ada di Surabaya. Gue melihat laki – laki paruh baya itu, Om Skylar menghela napas panjangnya.

AMAZHETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang