-[36]- Credence

11.9K 745 2
                                        

Budayakan klik BINTANG dulu (VOTE) sebelum membaca

Jangan lupa tinggalkan VOTE dan COMMENT kalian yaaa plus minta tolong rekomendasikan cerita ini 😁😁🤗

Happy reading all ^_^

.

.

.

.

.

.

.

AZHEVADINO melirik Amare yang dari tadi diam saja selama kepulangan mereka ke Jakarta. Ada apa dengannya, perasaan kemarin sepulangnya mereka dari restoran Amare terlihat bahagia, batin Azhevadino. Sebenarnya Azhevadino sudah curiga sejak tengah malam tadi dengan sikap aneh Amare. Azhevadino melirik kaca spion belakangnya ia melihat Mervina yang juga diam dan tidak cerewet seperti biasanya. Yovan yang dari tadi mengoceh tidak dihiraukan oleh Mervina. Ada apa sih dengan mereka berdua, batin Azhevadino. Azhevadino menghentikan perjalanan mereka yang sudah setengah jalan ke sebuah peristarahatan setelah di jalur tol Dawuan Interchange.

"Kita makan siang dulu." Ujar Azhevadino setelah berhasil memarkirkan mobil milik Yovan itu.

Yovan dan Mervina segera keluar dari mobil. Azhevadino yang hendak keluar mengurungkan niatnya saat ia melihat Amare sedang melamun dan tidak beranjak dari tempatnya. Azhevadino yakin jika Amare tidak menyedari jika sekarang mereka sedang berhenti.

"Sweetheart, are you okay?" tanya Azhevadino sambil memegang pundak Amare dengan lembut.


Amare's POV

"Sweetheart, are you okay?"

Gue tersentak dan tersadar dari lamunan gue saat gue merasakan pundak gue yang sedang disentuh. Wajah kekhawatiran Azhe langsung terlihat di kedua mata gue. Seharusnya lo nggak perlu memikirkan masalah itu saat bersama dengan Azhe, Ame, batin gue. Gue hanya tersenyum kecil lalu entah dorongan darimana gue ingin sekali memeluk Azhe saat ini juga untuk mengurangi kegundahan yang saat ini gue rasakan. Tanpa meminta izin sang pemilik, gue langsung memeluk erat Azhe lalu menyembunyikan wajah gue di dada bidang milik Azhe. Sandaran yang selalu membuat gue nyaman. Gue yakin kalo Azhe pasti kaget dengan sikap gue yang aneh ini.

"Kamu tidak apa – apa?" tanya Azhe

"No, I'm not." Ujar gue lirih.

Lagi dan lagi gue memikirkan kejadian semalam. Percakapan yang menjadi jawaban keanehan sikap Mama dan Papa yang diperuntukkan gue dan percakapan yang juga nggak ingin gue dengar. Astaga, kenapa gue merasa sesak sekarang.

Gue merasakan kedua lengan kokoh yang selalu merengkuh tubuh gue itu mengelilingi tubuh gue dan membawa gue ke dalam pelukan yang semakin hangat, dalam, nyaman, dan aman. Gue juga merasakan belaian lembut di rambut gue. Karena sikap Azhe yang manis ini, gue merasa sangat emosional karena sentuhan Azhe. Entah perasaan apa yang gue rasakan ini. Campur aduk semuanya. Gue merasa nyaman, sedih, kecewa, gundah, dan senang menjadi satu.

"Jika kamu sudah siap, ceritalah."

Gue terdiam. Setidaknya gue harus menceritakan kegundahan gue ini kan? Lagi pula dari awal kita sudah berkomitmen jadi gue juga harus terbuka dengan Azhe. Selain itu, gue juga nggak perlu merepotkan Vina dan Yovan lagi.

Gue menghela napas panjang dan posisi gue masih sama dengan Azhe. Saling berpelukan.

"Aku....aku mendengar hal konyol semalam." Ujar gue.

"Hal konyol?"

"Ya. Hal yang sangat konyol hingga aku sulit memercayainya walaupun terucap dari orang yang sangat kupercayai."

"Kamu bisa cerita padaku, Sweetheart."

Gue terdiam. Menjeda sebentar. Apa yang harus gue ungkapkan? Langsung to the point atau bercerita dari awal?

Gue pun menghela napas panjang. Gue memutuskan untuk menceritakan secara garis besarnya. Untuk detail gue akan menceritakan ke Azhe jika sudah siap.

"Bunda dan Ayah bilang aku sebenarnya anak kandung mereka. Berarti aku selama ini bukan anak kandung Mama dan Papa kan?"

"Kamu ingin aku bantu?"

Gue melepaskan pelukan gue lalu memandang bingung Azhe. Membantu? Membantu apa, batin gue.

"Aku akan membantumu untuk menyelidiki masalahmu itu. Apakah yang Bunda dan Ayahmu ucapkan benar atau tidak."

"Kamu bisa?" tanya Ame.

"Absolutely, Sweethaert. So, may I?"

"Yes, you may. Aku tidak tau harus memercayai siapa lagi selain dirimu."

"Can I ask something?"

"Tentang?"

"Kenapa aku merasa kamu seperti memercayai apa yang Ayah dan Bundamu katakan. I mean, Mama dan Papa memiliki setiap foto masa kecilmu itu yang membuktikan jika mereka orangtua kandungmu."

"Entahlah. Mungkin sudah dari awal aku meragukan Mama dan Papa sebagai orangtuaku."

"Maksudnya?"

Gue terdiam dan menatap Azhe dalam – dalam. Laki – laki yang ada di hadapan gue juga ikut memandang gue. Gue bisa melihat sorot mata kekhawatiran yang terpancar di sepasang mata deep choco itu. So, I trust him. Menunda akan semakin memperkeruh keadaan.

"Semenjak kelahiran Mandy. Aku merasa tidak disayangi lagi oleh Papa dan Mama. Mereka benar – benar tidak menggubrisku. Sejak kelahiran Mandy, mereka sudah tidak memanjakanku lagi dan aku berakhir hidup sendirian di mansion mewah itu. Karena hal itu, aku memastikan untuk tetap tegar hingga aku mampu meninggalkan mansion itu. Ya. Aku akhirnya bisa keluar dari mansion itu saat duduk dibangku SMA. Aku mendaftar di SMA Kota Surabaya dan berakhir tinggal di kediaman Bunda dan Ayah. Anehnya, Bunda dan Ayah sangat senang akan kedatanganku itu. Tiga tahun berlalu, aku memutuskan kuliah di Jakarta sambil mencari part time. Hasil uang part time milikku membuahkan sebuah apartemen yang saat ini sedang aku tinggali. Karena itu, aku sedikit percaya dengan hal konyol yang dikatan Ayah dan Bunda."

"Understand. Aku akan membantumu untuk menemukan kebenarannya. Sekarang bagaimana kalau kita makan? Yovan dan Vina sepertinya sudah menunggu kita dari tadi."

"Okay. And thank you, darl." Ujar gue sambil tersenyum tulus.

Gue sungguh sangat beruntung memiliki kekasih seperti Azhe. I'm lucky girl.

"Tak masalah karena aku akan melakukan apa saja untukmu."

Gue pun keluar dari mobil lalu gue berjalan beriringan dan mengaitkan jemari – jemari gue dengan Azhe sambil menuju resto peristirahatan itu. Hati gue menjadi lega setelah menceritakan kegundahan gue pada Azhe. Sepertinya gue sudah jatuh ke dalam pesona Azhe dan sepertinya juga gue sudah memercayakan seluruh hati gue pada Azhe. Bisakah ini disebut cara kita mencintai seseorang?




TBC...

AMAZHETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang