Aku tersenyum lebar dan menggelengkan kepalaku pelan saat melihat seorang namja berlari ke arahku sambil menggendong seorang bocah laki-laki dalam gendongannya. Langkahnya cepat namun terarah, seolah tak sabar untuk mendekat. Aku beranjak berdiri, merentangkan tanganku, merasakan angin sepoi-sepoi menerpa rambutku. Saat mereka sudah hampir di dekatku, aku segera memeluk mereka erat, merasakan hangatnya tubuh Jun dan lembutnya pipi tembam Jinhyuk. Mengecup pipi gembul bocah laki-laki yang berada di gendongan Jun, hatiku meluap kebahagiaan.
"Apa kalian bersenang-senang tadi?" ucapku, suaraku dipenuhi kelembutan.
"Tentu! Kami menaiki banyak wahana tadi, sayang," jawab Jun, napasnya sedikit terengah namun senyumnya lebar.
"Araseo, tapi waktu bersenang-senang sudah habis sekarang. Ayo kita pulang," ucapku lagi, membelai rambut Jinhyuk.
"Eung, ayo! Aku juga sudah sangat lapar, (y/n)-ya, apa kau keberatan jika kita mampir ke kedai makan terdekat dulu?" Jun bertanya, matanya berbinar penuh harap.
"Huh, apa kau sangat lapar sampai tak bisa menunggu kita sampai di rumah?" tanyaku, sedikit menggoda.
"Begitulah," jawabnya sambil tersenyum malu.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang. Jun, kemari kan Jinhyuk biar aku yang menggendongnya sekarang." Aku mengulurkan tangan, siap mengambil alih Jinhyuk yang terlihat nyaman dalam dekapan ayahnya.
Yah, namja yang ku maksud tadi adalah Jun, atau Wen Junhui. Dia adalah suamiku. Kami sudah menikah sejak dua tahun lalu dan bocah laki-laki tadi yang ia gendong adalah anak pertama kami, Wen Jinhyuk, usianya baru saja menginjak sepuluh bulan. Dia adalah permata kecil kami.
Jun hanya mengangguk pelan sambil tersenyum padaku, lalu dengan lembut menyerahkan Jinhyuk ke pelukanku. Dia kemudian berjalan merangkulku, kehangatan lengannya membuatku merasa aman.
"Apa saja wahana yang kalian naiki tadi?" tanyaku, memulai percakapan ringan saat kami berjalan perlahan menuju pintu keluar taman hiburan yang mulai sepi.
"Banyak sekali! Kau tahu tidak, tadi aku sempat kewalahan saat Jinhyuk tidak mau turun di salah satu wahana," ucapnya sambil menatapku, matanya memancarkan sedikit keputusasaan yang lucu.
"Benarkah? Jangan bilang kalau itu komidi putar?" ucapku sambil menatapnya, aku sudah bisa menebaknya.
Jun hanya mengangguk pelan, seolah mengakui kesalahannya.
"Kau ini! Aku sudah bilang jangan melewati komidi putar atau jangan sampai ia melihatnya, yang ada Jinhyuk tidak mau berhenti!" ucapku lagi, sedikit memarahinya tapi dengan senyum di bibir.
"Aku sudah berputar arah sayang, tapi kau tahu kan Jinhyuk anak pintar? Ia langsung berteriak saat tahu aku akan melewati wahana kesukaannya tadi," jawabnya membela diri, menggelengkan kepala.
"Jinhyuk-ya, lain kali jangan seperti itu, ya," ucapku sambil menatap Jinhyuk yang kini menatap kami dengan mata bulatnya.
Aku dan Jun hanya tersenyum lebar saat melihat Jinhyuk mengoceh tak jelas, seolah menjawab perkataanku tadi. Suara cerewetnya membuat hati kami meleleh.
"Haha, iya, kau boleh menaikinya lagi tapi hanya sekali, tidak boleh beberapa kali," ucap Jun, mencubit pelan pipi Jinhyuk.
"Hm, Eomma hanya takut kau pusing sayang," timpal-ku, mengelus punggungnya.
Jinhyuk kembali mengoceh tak jelas sampai aku dan Jun hanya diam memperhatikannya dan berjalan menuju parkiran. Langit mulai gelap, dan lampu-lampu taman hiburan mulai menyala, menciptakan suasana magis. Langkah kami terhenti ketika kami tak sengaja berpapasan dengan seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
Randomseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
