Hari ku benar-benar sangat berat, sungguh berat sampai aku tak sanggup lagi menjalani hidup ku ini. Bagaimana, tidak? Di sekolah aku menjadi salah satu murid yang menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh para Sunbaenim ku dan teman-teman ku juga, karna aku hanya mengandalkan beasiswa untuk berada di sekolah mereka. Bahkan, mereka selalu mengatakan jika aku tak pantas untuk sekolah di sana bersama mereka."
"Hikss... Eomma," isak ku akhirnya keluar begitu aku tak sanggup lagi untuk menahannya. Namun, isak ku terhenti ketika aku mendengar suara kucing yang seperti meminta bantuan pada ku.
"Meow... Meow."
"Huh, Omo... Kau tak apa? Kenapa kau bisa terikat seperti ini?" tanya ku sambil menyeka air mata yang berada di pipi ku tadi, dan segera menolong kucing itu.
"Apa sakit?" tanya ku begitu melihat luka pada wajah sang kucing.
Kucing itu hanya memperhatikan ku sambil menggeserkan tubuhnya pada lutut ku. Entah kenapa juga, aku merasa nyaman dan segera mengusap-usap kepalanya.
"Kau kesepian, ya? Dimana pemilik mu?" ujar ku dengan masih mengusap-usap kepalanya.
Hingga, tak lama hujan turun dengan derasnya yang membuat ku mau tak mau menggendong kucing itu dan membawanya bersama ku.
"Ah, untung saja!" seru ku.
"Hai, apa kau tak keberatan untuk ikut bersama ku?" tanya ku dengan menatap kucing ini. Seolah mengerti, kucing ini malah mengeluarkan lidahnya yang membuat ku tersenyum senang, karena itu seperti jawaban untuk ku.
"Baiklah, mulai sekarang kau adalah teman ku. Kaja, kita pulang sekarang!" ucap ku dengan berlari menerobos hujan.
Akhirnya setelah berlari di bawah hujan, kami sampai di rumah ku. Aku segera mengeringkan kucing tadi. Setelah kering, aku segera memberinya makan dan menyelimutinya karna sepertinya dia kedinginan. Aku juga tak lupa mengobati lukanya.
"Nah, kau tunggu di sini sebentar. Aku harus mengobati beberapa luka ku dulu, ya," ujar ku begitu selesai mengurusnya.
Sebelum mengobati luka ku, aku pergi mandi dan mengganti pakaian ku. Begitu selesai, aku segera mengobati luka yang mereka buat tadi. Begitu selesai, kucing yang kubawa tadi mendekati ku. Aku mengelus-elus kepalanya, sambil memikirkan nama yang akan ku berikan padanya. Terbesit dalam pikiran ku, jika aku berikan nama Hui saja, karna namanya menggemaskan seperti kucing ini.
"Hui-ya," kucing itu langsung menoleh dan mengeong pada ku begitu aku memanggilnya.
"Aigoo, kau suka nama yang ku berikan pada mu?" Aku tersenyum, dan menarik napas ku.
Aku kembali mengobati luka ku. Begitu selesai, aku merapikan kotak obatnya. Hui, seperti khawatir pada ku, dia mendekati ku dan mengeluskan kepalanya di lengan ku.
"Hai, aku tak apa. Ini hanya luka kecil," seru ku begitu melihat Hui tengah memperhatikan ku.
"Hoam, aku mengantuk. Apa kau juga mengantuk? Kaja, kita pergi tidur sekarang," ucap ku sambil membawanya menuju tempat tidur ku.
"Selamat malam, Hui," ujar ku dengan perlahan menutup mata ku.
Besoknya, aku mencium aroma masakan yang membuat ku terbangun. Begitu terbangun, aku sedikit terkejut karna sudah ada makanan di meja ku.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
Randomseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
