Akuu tersenyum dan menggelengkan kepala saat melangkah masuk ke dalam kamar tidur. Di atas ranjang, dua orang yang paling kucintai masih terlelap. Minseok, malaikat kecilku yang baru berusia dua tahun, tidur tengkurap dengan wajahnya bersandar nyaman di dada Minghao, suamiku, dan tangan mungilnya menutupi wajah Minghao. Sementara Minghao, terbaring telentang, lengannya terangkat di atas kepala, tampak begitu damai dalam tidurnya.
Aku berjalan pelan mendekati mereka dan menduduki tepi ranjang. Perlahan, ku singkirkan tangan mungil Minseok dari wajah Minghao.
"Minghao, sayang, ayo bangun," ucapku lembut, berusaha tak mengagetkannya.
Aku melihatnya menggeliat dan perlahan membuka matanya yang masih mengantuk.
"Jangan dulu bergerak, anakmu masih tidur," bisikku lagi, menunjuk Minseok yang masih pulas.
Minghao hanya menghela napas, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya saat ia mengusap kepala Minseok dengan penuh kasih sayang.
"Jam berapa ini, sayang?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Baru jam tujuh pagi," jawabku sambil perlahan memindahkan Minseok dari dada Minghao agar dia bisa tidur lebih nyaman di sampingnya.
"Lima menit lagi? Apa aku boleh tidur lima menit lagi?" pintanya, mengubah posisinya agar lebih nyaman.
"Baiklah, lima menit lagi. Minseok-ah, bangun sayang," aku mencoba membangunkan Minseok dengan suara yang lebih lembut.
"(Y/n)-ya, biarkan saja dia. Dia pasti akan bangun sendiri nanti," ucap Minghao, seolah sudah tahu kebiasaan tidur Minseok.
Aku hanya menghela napas, menyerah, dan beranjak dari tepi ranjang.
"Baiklah, kalian bisa tidur kembali. Lima menit, Minghao, setelah itu kau harus bangun dan mandi. Oh iya, jangan lupa mandikan juga Minseok," pesanku sambil berjalan menuju pintu.
Yah, seseorang yang ku maksud tadi adalah Seo Minghao, suamiku. Kami menikah tiga tahun lalu, dan Minseok adalah anak pertama kami yang baru berusia dua tahun. Minghao adalah seorang fotografer profesional yang menekuni profesinya sejak tujuh tahun lalu. Pertemuan kami juga tidak jauh dari sana. Aku bertemu dengannya ketika sedang mengantar model ku ke lokasi pemotretan, dan kebetulan Minghao adalah salah satu fotografer di sana. Dulu aku memang bekerja sebagai manajer, tapi aku berhenti setelah memiliki anak. Terlalu merepotkan, dan aku juga tidak ingin meninggalkan anakku sendiri di rumah dengan pengasuh.
"Araseo, aku akan melakukannya," jawabnya dari dalam kamar, suaranya sedikit serak tapi penuh persetujuan.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya tadi dan menutup kembali pintu kamar kami dengan perlahan. Senja pagi yang lembut mulai menyinari jendela, membawa harapan untuk hari yang baru.
Aku berjalan menghampiri meja makan dan meletakkan sepiring pancake kesukaan Minseok. Setelah bangun dan mandi, mereka kini duduk manis di meja makan, siap menyantap sarapan. Aku mendudukkan diri di samping Minseok dan membantunya memotong-motong pancake menjadi potongan-potongan kecil agar mudah dimakan.
"(Y/n)-ya, jangan lupa, setelah dari dokter gigi nanti kau dan Minseok langsung ke studio pemotretan, ya," ucap Minghao di sela-sela sarapannya.
"Eung, aku juga tidak akan lupa, Minghao," jawabku, memastikan.
"Apa kita akan berjalan-jalan setelah Appa selesai bekerja?" tanya Minseok dengan mulut penuh, matanya berbinar penuh harap.
Yah, meskipun usia Minseok baru dua tahun, gaya bicara dan ucapannya sudah tidak cadel lagi, meski dia sesekali melakukannya. Ia adalah anak yang sangat cerdas.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
Randomseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
