24.SEUNGKWAN

1.3K 77 5
                                        

Aku memanjat tembok belakang rumahku sambil terus menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada seorang pun dari keluargaku yang melihatku. Dengan hati-hati, aku melempar tas yang kubawa tadi ke bawah untuk memudahkan diriku turun.

“(Y/n)-ya, cepatlah sebelum orang tuamu mengetahuinya,” ucap seseorang dengan suara agak tergesa.

“Tunggu sebentar,” jawabku pelan sambil menahan degup jantungku yang berpacu lebih cepat dari biasanya.

“Lompat lah, aku akan menangkap mu. Kau tenang saja,” ucapnya lagi, suaranya terdengar lebih meyakinkan.

Eoh, Seungkwan benar, kau lompat saja. Aku dan dia akan menangkap mu,” sahut Kino sambil membuka tangannya lebar-lebar.

“Baiklah, hitungan ketiga. Hana, dul, set!” ucapku, lalu tubuhku langsung melayang turun dari atas tembok.

“Yap, kami mendapatkannya!” ucap keduanya bersamaan sambil menopang tubuhku agar tidak jatuh.

Aku hanya bisa tersenyum lega, menatap wajah mereka bergantian. Hangat sekali rasanya berada di antara orang-orang yang selalu ada di sisiku.

“Ayo pergi sebelum kedua orang tuamu mengetahuinya. Kaja, (Y/n)-ya,” ucap Kino sambil meraih tanganku dan menarik ku agar segera berjalan.

Aku hanya mengangguk pelan sambil mengikutinya, namun tiba-tiba aku menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang.

“Tasmu aman bersama Seungkwan!” teriak Kino.

“Baiklah! Gomawo, Seungkwan, Kino!” teriakku sambil melambaikan tangan.

Dan setelah itu, aku melanjutkan langkahku bersama mereka, menyusuri jalan yang terasa lebih menenangkan dibanding suasana rumahku.

Sesampainya di apartemen milik Yuri, aku melempar tas ke lantai dan langsung menjatuhkan tubuhku di atas sofa. Aku menghela napas panjang, seolah beban berat di dadaku ikut terhempas bersama udara yang keluar. Namun tiba-tiba aku merasakan sebuah lengan merangkul bahuku. Aku menoleh, dan mendapati Yuri menatapku dengan senyum hangat. Yah, Yuri adalah teman ku, begitu juga dengan Kino dan Seungkwan.

“Tenang, kau aman di apartemenku,” ucap Yuri lembut.

“Tentu. Jika aku di apartemen Kino, aku pasti akan berakhir seperti biasa,” ucapku sambil memutar bola mata, membuat Yuri tertawa kecil.

“Kau benar. Mulut Kino memang harus kita lakban agar tidak bisa membocorkan semua rahasiamu,” balas Yuri dengan nada bercanda.

“Eyy, apa kalian akan setega itu padaku?” sahut Kino, pura-pura merajuk.

“Tentu saja! Agar mulutmu tidak bisa berbicara lagi,” ucap Yuri tanpa basa-basi.

Aku hanya tersenyum geli melihat perdebatan kecil mereka. Rasanya suasana hatiku yang sempat sesak jadi sedikit lebih ringan. Namun tawaku terhenti saat melihat Seungkwan baru saja masuk dengan beberapa jinjingan di tangannya.

“Kino-ya, tolong bantu aku!” ucapnya, terlihat sedikit kewalahan.

Aku baru sadar, setelah mengantar kami tadi, Seungkwan memang tidak ikut naik. Rupanya dia pergi membeli cemilan untuk kami.

“Kau tidak membeli Soju?” tanyaku sambil mengangkat alis.

“Ani, kali ini tidak ada acara minum-minuman,” jawab Seungkwan dengan nada serius.

“Menyebalkan,” gumamku sambil manyun.

“Yak, kau tak perlu khawatir. Aku sudah menyiapkannya. Tunggu sebentar, biar kuambil dulu,” bisik Yuri di telingaku, membuatku tersenyum penuh arti.

SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang