11.SEUNGKWAN

2.1K 114 3
                                        

Aku menggelengkan kepalaku begitu aku melangkah masuk ke dalam kamar. Mataku tertuju pada seorang namja yang masih terlelap pulas di ranjang, dengan posisi tengkurap. Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden jatuh lembut di punggungnya. Aku berjalan perlahan menghampirinya, langkahku tanpa suara, dan mendudukkan diri di tepi ranjang.

Perlahan, aku mulai mengusap-usap pundaknya, berharap sentuhan lembut itu akan membangunkannya dari mimpi indahnya.

"Seungkwan! Ayo bangun, kau akan terlambat kalau tidak bangun sekarang," bisikku pelan, memastikan suaraku tidak terlalu keras namun cukup untuk menarik perhatiannya.

Yah, Namja yang ku maksud tadi adalah Seungkwan, suamiku. Kami sudah menikah sejak satu tahun lalu, dan setiap pagi seperti ini adalah ritual kecil kami.

Aku melihat Seungkwan menggeliat pelan, mendesah pelan, dan kemudian membuka matanya secara perlahan, kelopak matanya yang berat tampak berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya.

"Lima menit lagi, kumohon," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur, mencoba menarik ku kembali ke pelukan kehangatan tempat tidur.

"Ayolah, Sayang. Ini sudah jam tujuh. Kalau kau tidak bangun sekarang, kau akan terlambat mengajar hari ini," ucapku lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tegas namun tetap lembut, sambil mengelus rambutnya yang berantakan.

"Baiklah, aku akan bangun sekarang," jawabnya akhirnya, menyerah pada bujukan ku, lalu beranjak duduk dengan malas.

Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum simpul padanya, puas dengan kemenangan kecilku.

Beberapa saat kemudian, aku meletakkan sepiring nasi goreng kimchi hangat di hadapan Seungkwan yang baru saja mendudukkan dirinya di meja makan. Aroma gurih pedas langsung memenuhi dapur, menggugah selera.

"Gomawo, Sayang," ucapnya sambil melirik piringnya. "Apa kau sudah sarapan dan sudah meminum vitamin mu?" Tanyanya dengan nada perhatian, matanya menatapku lekat-lekat.

"Sudah, tadi Eunsang ku suruh membeli bubur kacang merah di kedai Jung Ahjumma," jawabku santai, sambil menarik kursi dan duduk di sampingnya.

"Kenapa tidak membangun ku untuk membelikannya untukmu?" ucapnya, ada sedikit nada kecewa dalam suaranya saat menatapku.

"Tak apa. Tadi Eunsang sekalian jogging, jadi aku menitip padanya," jawabku meyakinkan, sambil tersenyum kecil.

"Yasudah, aku berangkat sekarang," ucapnya setelah menghabiskan suapan terakhir. Ia bangkit dari kursi. "Kau mau titip apa padaku?"

"Kimbap dan es krim vanila," jawabku cepat, sudah membayangkan rasanya.

"Baiklah," ucapnya sambil tersenyum lembut. Ia kemudian membungkuk dan mengecup puncak kepalaku dengan hangat. "Aku pergi. Kau hati-hati di rumah, ya."

"Iya, kau juga hati-hati di jalan," balasku, membalas senyumnya. Aku mengawasinya sampai ia menghilang di balik pintu.

Aku menoleh saat mendengar suara pintu kamar terbuka. Senyum lebar langsung merekah di bibirku saat melihat Seungkwan berjalan ke arahku. Ekspresi khawatir terpancar jelas di wajahnya.

"Apa yang sedang kau lakukan sampai-sampai kau terduduk di lantai seperti ini?" tanyanya, suaranya dipenuhi nada cemas, sambil mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.

"Aku sedang merapikan dan menyimpan beberapa selimut dan seprai di laci bawah," jawabku, sedikit malu karena tertangkap basah.

"Biar aku yang melakukannya," ucapnya lembut, dengan nada tegas namun penuh kasih. "Tadi aku tidak mau melihatmu kesusahan untuk bangun. Kau harus sadar, saat ini kau sedang mengandung, Sayang." Jemarinya kemudian mengusap kepalaku dengan penuh kelembutan.

SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang