POV Minghao...
Sial, saat aku tiba di pintu apartemen, aku hanya melihat seseorang itu berlari cepat keluar gedung apartemen (y/n). Aku langsung menghampiri (y/n) yang terduduk di lantai dekat pintu. Aku langsung memeluknya, menggendongnya, dan mendudukkannya di sofa ruang tengah. Aku bisa saja mengejar orang tadi, tapi aku tidak bisa meninggalkan (y/n) sendirian di apartemennya.
“Kau tak apa? Apa dia melukaimu?” ucapku pelan, memeriksa keadaannya.
(Y/n) hanya menggelengkan kepalanya sambil masih memegangi tanganku begitu erat, wajahnya pucat.
“Hai, tak apa. Aku di sini. Kau tak perlu takut,” ucapku sambil mengusap lembut kepalanya.
“Sunbae, ia bilang ia akan menjadikan ku miliknya dan akan membuatmu menjauh dariku. Aku takut, Sunbae. Aku bahkan tidak mengenalnya,” ucapnya sambil terisak.
“Ssstt… Sudah, biar saja. Jangan dengarkan perkataannya tadi. Aku tidak akan ke mana-mana. Aku pasti melindungi mu,” ucapku sambil memeluknya, mengusap kepalanya untuk menenangkannya.
POV Minghao end...
Sudah seminggu setelah kejadian menakutkan itu. Aku memilih cuti dari kantor dan tak keluar dari apartemenku. Aku membeli bahan makanan dibantu oleh Song Ahjumma, tukang bersih-bersih di gedung apartemenku. Hampir setiap hari Minghao datang ke apartemenku untuk melihat keadaanku, atau bahkan dia sampai menginap di apartemenku untuk berjaga-jaga. Jieun pun begitu.
Aku menghembuskan nafasku saat aku keluar dari pintu apartemenku. Aku memberanikan diri keluar karena aku harus mengambil beberapa surat yang sudah menumpuk di kotak surat milikku.
Aku langsung pergi ke tempat loker di bawah, mengambil semua surat milikku. Saat aku kembali, aku melihat pemuda yang sama yang saat itu mengatakan bahwa ia akan menjadikanku miliknya sedang berdiri di dekat pintu apartemenku. Aku langsung berlari tanpa bersuara, bersembunyi di tangga darurat, mencoba menelepon Jieun atau Minghao, atau siapa pun untuk kemari. Namun, saat aku ingin menelepon, aku melihat bayangan yang berdiri di hadapanku, membuatku langsung mendongak untuk melihatnya.
“Kau sendirian? Apa kau mencoba menghubungi kekasih barumu itu?” ucapnya pelan, seringai terlihat di wajahnya.
“N-ne… A-ani… Aku hanya sedang mengecek ponselku,” ucapku gugup, gemetar.
“Kenapa kau selalu saja berbohong, (Y/n)-ssi?”
“Ani… Sungguh, aku sedang… Nugu? Kenapa kau tahu namaku?” tanyaku, memberanikan diri.
“Jelas aku tahu, bukankah kita dulu sepasang kekasih? Tapi kau terus saja mengkhianati ku dan berkencan dengan pemuda lain,” ucapnya sambil melepas masker dan topinya.
Aku mengerjapkan mataku saat melihat wajah pemuda itu. Hyungsik. Pemuda yang pernah menyatakan perasaannya padaku saat kami masih duduk di sekolah menengah atas. Namun, aku menolaknya karena aku sedang tidak ingin berkencan saat itu.
“Hyungsik!!”
“Akhirnya kau menyebutkan na— Arghhhh… Sial…” ucapnya dengan ringisan karena seseorang menendangnya dengan keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
De Todoseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
