Aku tersenyum menatap seorang Namja yang sedang tidur pulas di depanku. Cahaya pagi yang lembut menyelinap masuk melalui celah gorden, membelai wajahnya yang damai. Aku mengecup bibirnya sekilas, sentuhan ringan yang membuatnya sedikit terusik. Sebuah senyuman merekah di bibirku saat merasakan tangannya perlahan mengusap punggungku. Aku kembali mengecup bibirnya berulang kali, lebih intens kali ini, hingga akhirnya ia membuka matanya, menatapku dengan sorot mata mengantuk namun penuh kasih.
"Biarkan aku tidur sebentar lagi," ucapnya, suaranya serak khas orang baru bangun tidur, sambil menutup kembali matanya.
"Bangunlah, jangan bermalas-malasan, meskipun ini akhir pekan bukan berarti kau bisa tidur seharian, Oppa," ucapku lembut, disusul kecupan lagi di bibirnya.
"Baiklah-baiklah, aku bangun sekarang. Lihat, aku sudah bangun sekarang. Jadi, apa yang kau inginkan sekarang?" ucapnya, membuka mata sepenuhnya dan menatapku dengan senyuman tipis.
Aku tersenyum lebar melihatnya benar-benar terjaga. "Scoups Oppa, anakmu ingin kau mengusapnya sekarang," ucapku, meletakkan tanganku di perutku yang mulai membesar.
Yah, Namja yang ku maksud tadi adalah Scoups, suamiku. Kami menikah enam bulan lalu, dan sekarang aku sedang mengandung anak pertama kami. Usia kandunganku baru menginjak tiga bulan, jadi perutku sudah agak berbentuk. Aku juga masih mengalami mual dan pusing, meski tak sesering saat awal kehamilan.
Semenjak hamil, aku semakin manja pada Scoups. Aku sering menangisi hal-hal kecil yang membuatku tak nyaman, dan perubahan mood juga sering aku alami. Entahlah, semenjak hamil aku merasa seperti bukan diriku. Yah, aku ini gadis yang terkesan cuek dan dingin, tapi saat mengandung, perubahan itu sangat kurasakan.
Aku melihat Scoups hanya tersenyum lebar dan mulai mengusap perutku dengan lembut. "Apa perutmu kram lagi?" tanyanya, suaranya penuh perhatian.
Aku hanya mengangguk pelan sambil memegangi tangannya yang ada di perutku. "Ini pasti kau berendam terlalu lama di bathtub, sayang. Kau tahu kan, dia tak suka berlama-lama berendam," ucapnya sambil terus mengusap-ngusap perutku.
"Oppa!" rengek ku, merasa sedikit kesal. "Dia yang menginginkannya tadi, kenapa Oppa jadi menyalahkan aku? Aku kan hanya menuruti kemauan anakmu!" ucapku sambil menepis tangannya perlahan dan duduk di tepi ranjang.
"Mianhaeyo, aku tidak tahu jika ia yang menginginkannya," ia berbicara sambil memelukku dari belakang, menaruh dagunya di bahuku, dan mencium puncak kepalaku.
Aku hanya diam sambil menatap ke arah jendela, masih sedikit merajuk. Setelah itu, aku melepaskan pelukannya dan beranjak, menuju kamar mandi untuk bersiap.
POV Scoups...
Aku membuka pintu kamar mandi dan melihat (y/n) yang sedang merapikan barang yang akan kami bawa ke rumah Eomma-ku. Ya, kami akan menginap di sana untuk beberapa hari ke depan. Aku berjalan menghampirinya, dan saat sudah dekat, aku menyodorkan handuk kecilku padanya. Aku melihat ia menatapku, kemudian meraihnya. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang tidur kami, dan aku langsung duduk di lantai menghadapnya. Yah, ini memang salah satu kebiasaannya. Ia selalu mengeringkan rambutku saat aku sudah selesai mandi. Katanya, aku tidak pernah benar ketika mengeringkan rambutku sendiri, jadi dia selalu mengeringkan rambutku seperti ini, dengan telaten dan penuh perhatian.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
De Todoseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
