7.WOOZI

3.5K 160 11
                                        

Aku menoleh saat mendengar suara pintu kamar rumah sakit yang sedang ku tempati ini terbuka lebar. Mataku menatap kesal ke arah Woozi, suamiku, yang sedang berjalan ke arah ranjangku dengan buket bunga di tangannya. Ia mengusap kepalaku dengan lembut, seolah ingin meredakan amarahku, lalu meletakkan buket bunga anggrek putih dan lily di nakas dekat bangsal. Harumnya langsung memenuhi ruangan, sedikit melembutkan suasana hatiku. Ia mendudukkan dirinya di tepi bangsal dan meraih tanganku, jemarinya membelai punggung tanganku dengan hati-hati.

"Kau masih marah padaku, maafkan aku jika kau masih marah padaku," ucapnya lirih, tatapannya penuh penyesalan sambil mengusap perutku yang sudah membesar, sarang bagi calon buah hati kami.

Aku hanya diam, mengalihkan pandanganku ke arah jendela, menatap awan yang bergerak lambat di luar. Udara pagi yang sejuk menyusup masuk, namun tak mampu mendinginkan hatiku yang masih panas.

"(Y/n)-ya, aku janji tidak akan seperti itu lagi. Maafkan aku, ya kumohon jangan diam saja seperti ini. Aku merindukan suaramu, sayang," ucapnya lagi, suaranya terdengar putus asa.

"Apa peduliku? Urusin saja lagumu dan pekerjaanmu, Woozi. Jangan pedulikan aku dan calon anakmu," jawabku akhirnya, suaraku sedikit bergetar menahan emosi yang meluap.

"Ya, aku salah, maafkan aku, sayang. Sungguh aku menyesal tidak ada saat kau membutuhkan ku karena aku terlalu fokus pekerjaan semalam," ucapnya, menatapku dengan mata berkaca-kaca, seolah benar-benar terluka oleh kata-kataku.

Aku menatapnya dengan wajah kesal, namun ada sedikit kelegaan karena ia akhirnya mengakui kesalahannya. Aku menghembuskan napas pelan saat merasakan bayi di dalam kandunganku bergerak, seolah ikut merasakan ketegangan di antara kami.

"Aku akan melahirkan dua bulan lagi. Apa kau akan terus fokus pada pekerjaanmu? Aku tahu kau bekerja keras untukku juga, tapi setidaknya luangkan waktumu untukku juga, Woozi," ucapku sambil merunduk, merasa lelah dengan perdebatan ini. Air mataku mulai menggenang.

"Ya, maafkan aku. Mulai sekarang aku akan lebih memperhatikanmu, sayang," ucapnya, menarik ku ke dalam pelukannya. Pelukannya hangat, menenangkan, dan aku bisa merasakan ketulusan dalam setiap sentuhannya. Aku membenamkan wajahku di dadanya, menghirup aroma tubuhnya yang familiar, dan sebagian besar amarahku melunak.

Sedikit ku beritahu, Woozi atau Lee Woozi ini adalah suamiku. Dia adalah seorang komposer lagu yang sangat berbakat, dikenal dengan karya-karyanya yang menyentuh hati. Kami menikah dua tahun lalu, dan sekarang aku sedang mengandung anak pertama kami. Kandunganku sudah tidak muda lagi, bahkan dua bulan lagi aku akan melahirkan. Ya, usia kandunganku sudah memasuki usia tujuh bulan, itu sebabnya terkadang aku suka mengeluh pada Woozi yang semakin hari semakin sibuk dengan pekerjaannya.

Yah, meskipun memang ia selalu mengantarku ke rumah sakit untuk memeriksa anak kami dan mengingatkanku agar tak lupa meminum vitamin, tetap saja aku membutuhkannya saat-saat seperti ini. Disaat aku tak sengaja terpeleset di kamar mandi yang membuatku harus dilarikan ke rumah sakit seperti sekarang. Untung saja bayi di dalam kandunganku baik-baik saja, hanya kakiku yang terkilir. Rasa sakitnya masih terasa, namun kehadiran Woozi sedikit meringankan.

"Kau janji tidak sibuk lagi dengan pekerjaanmu?" ucapku, melepaskan pelukan.

"Ya, sayang, aku janji. Mulai hari ini aku akan ada di sampingmu terus sampai kau melahirkan, bahkan saat anak kita sudah lahir nanti," ucapnya sambil mencium puncak kepalaku, memberikan ketenangan yang sangat ku butuhkan.

"Aku akan pegang janjimu," ucapku sambil membalas pelukannya, membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatannya.

Aku mengecup pipi Woozi saat ia mendudukkan ku di ranjang tidur kami. Yah, setelah dua hari di rumah sakit, akhirnya aku diizinkan pulang oleh dokter. Aku tersenyum melihat Woozi yang mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang tidur kami, menatapku dengan tatapan lembut.

SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang