22.DOKYEOM

1.9K 96 3
                                        

Aku menatap kesal kearah samping rumahku saat melihat pot taman pecah karena tersenggol oleh seseorang yang kini berdiri di hadapanku. Aku berjongkok dan mulai merapikannya.

“Biar aku yang merapikannya, kau ambil pot lain saja,” ucapnya yang entah sejak kapan sudah ada di sampingku.

“Pergi! Jangan coba-coba berani menyentuh semua tamanku,” tegas ku.

“Sungguh, aku tidak sengaja. Tadi aku pikir kayu yang kubawa tidak akan menyenggol pot mu,” jelasnya.

“Pergilah! Jika kau di sini, semua tanaman peliharaanku akan rusak,” ucapku sambil menariknya keluar dari halaman rumahku.

“Tapi sungguh tidak sengaja tadi, jadi jangan ma—”


Prakk

Aku mengepalkan tanganku saat melihat pot taman kembali terjatuh dan rusak karena ia menabraknya lagi.

“LEE DOKYEOM!!!” teriakku kesal.

Mianhae, aku tidak sengaja!” teriaknya sambil langsung berlari keluar dari rumahku.

“Ada apa? Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu?” Aku menoleh ketika melihat Eomma baru saja keluar dari rumah.

“Lihat, Eomma! Tetangga menyebalkan itu menghancurkan semua tanaman uji coba ku!” rengek ku dengan wajah cemberut.

“Astaga… tinggal kau tanam lagi, apa susahnya, (y/n)-ya,” ucap Eomma santai sambil berjalan masuk lagi ke dalam rumah.

“Eomma!! Eomma pikir mudah menanam kembali semuanya?!” teriakku sangat kencang.

“Suitt! Diam lah, jangan berteriak seperti itu lagi, nanti adikmu terbangun,” ucapnya dari dalam rumah.

Aku hanya bisa menghentakkan kakiku dengan kesal sambil kembali merapikan taman yang berantakan.

Aku menghela napas lega saat akhirnya selesai menanam kembali tanaman di pot baru. Untungnya mereka tidak rusak parah, jadi aku bisa menanamnya kembali tanpa harus mengulangi semuanya dari awal.

“(Y/n)-ya, apa kau bisa menjaga adikmu sebentar? Eomma harus menyiapkan makan malam sekarang,” teriak Eomma dari dalam rumah.

“Ne!” jawabku sambil ikut berteriak.

Tak lama setelah itu, aku melihat Jinhyuk keluar dari rumah dengan membawa robot mainannya. Ia berjalan kearah ku sambil tersenyum lalu berdiri di hadapanku.

“Noona, aku ingin bermain di taman. Apa Noona mau menemani aku?” tanyanya polos.

“Tentu. Tapi, Jinhyuk, sebentar saja ya. Noona harus merapikan barang-barangnya dulu. Ayo, duduk dulu di sini sambil menunggu noona,” ucapku lembut.

Yah, Jinhyuk ini adalah adikku yang baru berusia lima tahun. Memang jarak umur kami sangat jauh. Bayangkan saja, aku yang sudah berusia dua puluh tahun harus punya adik berusia lima tahun. Sangat jauh, bukan? Tapi aku sangat bersyukur bisa memiliki Jinhyuk sebagai adikku.

“Ayo, kita pergi ke taman sekarang,” ucapku setelah selesai merapikan semua barangku.

“Noona, Eomma memberi aku uang untuk membeli es krim. Katanya kalau noona dan aku pergi ke taman, boleh membelinya,” ucapnya sambil menatapku.

“Jinhyuk bisa menyimpan uang ini di tabungan Jinhyuk. Kalau Jinhyuk ingin membeli es krim, biar pakai uang noona saja,” ucapku sambil tersenyum.

Ia hanya mengangguk pelan lalu kembali memasukkan uangnya ke dalam saku celana.

SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang