JOSHUA (2 End)

2.1K 165 7
                                        

POV Joshua..

Aku menggeliat saat mendengar suara pintu kamarku diketuk dari luar. Dengan malas aku beranjak dari ranjang, meraih gagang pintu, lalu membukanya. Disana ku lihat (y/n) berdiri sambil menunduk sedikit, tampak gugup.

"A.. aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, maaf kalau mengganggu," ucapnya pelan dengan nada ragu.

Aku tersenyum tipis. "Ne, gomawo. Ngomong-ngomong, kau mau kemana? Sudah rapi sekali seperti ini?" tanyaku sambil menatapnya dari atas ke bawah.

"A.. aku hanya ingin keluar sebentar, membeli obat oles untuk kakiku," jawabnya.

Alisku sedikit terangkat. "Memangnya di kotak obat tidak ada? Kenapa harus membeli lagi kalau sudah ada di sana?" tanyaku lagi.

Ia menghela napas kecil, lalu menatapku dengan senyum kikuk. "A.. aku tidak bisa menemukannya. Apartemen mu terlalu luas untuk mencari kotak sekecil itu."

Aku tidak bisa menahan senyum melihat wajahnya yang terlihat bingung begitu.

"Yasudah, kau tak perlu keluar. Aku punya obatnya," ujar ku. "Tunggu sebentar, aku akan mandi dulu, setelah itu ku bawakan untukmu. Lagipula, kalau aku hanya memberitahu letaknya, aku yakin kau tidak akan menemukannya. Jadi biar aku saja yang mengambilnya."

Ia hanya mengangguk pelan, seperti anak kecil yang tertangkap basah.

Beberapa menit kemudian, aku kembali menghampirinya dengan kotak obat di tangan. Aku duduk di sampingnya dan menyodorkannya.

"Ini, aku sengaja menaruhnya di laci atas dapur," jelas ku.

Ia menatapku dengan ekspresi mengerti. "Pantas saja aku tidak bisa menemukannya," balasnya.

Aku hanya mengangguk, lalu memperhatikan gerakannya saat mulai mengobati kakinya sendiri. Beberapa detik kemudian, tanpa pikir panjang aku berlutut di hadapannya dan mengambil alih obat dari tangannya.

"Biar aku yang mengobatinya," ucapku sambil menatapnya serius.

Ia buru-buru menggeleng. "Ani.. aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik sekarang kau sarapan saja."

"Jebal," pintaku lembut. "Kali ini jangan menolak bantuan dariku. Aku janji akan makan sarapanku setelah ini."

Ia menunduk, wajahnya terlihat bersalah. "Mianhae, belum apa-apa aku sudah merepotkan mu."

"Ani," sahutku cepat. "Jangan berpikir seperti itu. Justru aku yang lebih banyak merepotkan mu."

"Tidak apa-apa. Aku juga tidak mempermasalahkan ini," ucapnya dengan senyum kecil.

Aku menatapnya lekat. "Waeyo?" tanyaku heran.

Ia terdiam sebentar lalu menjawab, "Kau pernah mendengar kata balas budi? Itu yang sedang kulakukan sekarang. Untuk keluarga Kang dan keluargamu." Senyumnya terlihat tulus saat mengatakannya.

Kata-katanya membuat dadaku sedikit sesak. Yah, keluarga Kang memang banyak membantunya. Begitu juga keluargaku. Mungkin itu alasan ia tidak mempermasalahkan pernikahan ini.

"Seharusnya kau menolaknya," ucapku lirih, "dan membiarkan semua ini tidak terjadi."

Ia menghela napas panjang, lalu menatapku. "Jika aku menolaknya, bukankah aku akan jadi gadis yang tidak tahu diri nantinya? Kau tenang saja, setelah Ji—"

Aku langsung memotong kalimatnya. "Jangan sebut namanya lagi. Aku tidak ingin mendengar, bahkan tidak ingin melihatnya." Nada suaraku terdengar lebih keras tanpa sengaja. Aku pun beranjak berdiri.

SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang