Besoknya, aku masuk seperti biasanya. Semalam aku memang demam, tapi paginya aku sudah lebih baik. Demam ku juga sudah tidak separah semalam, jadi aku memutuskan masuk sekolah seperti biasa, meskipun Eomma menyuruh ku untuk izin. Hanya saja, aku tidak ingin dan masuk seperti biasa karena hari ini ada ulangan harian. Aku tidak ingin melewatkannya begitu saja.
Aku berjalan dengan perlahan menuju kelas ku. Hari ini tidak seperti biasanya, aku sedikit agak terlambat. Mungkin karena tadi Eomma memang tidak membangunkan ku untuk sekolah, jadinya aku terlambat bangun tadi pagi.
Di lorong kelas, saat aku hendak berbelok, aku bertemu dengan Wooseok yang sepertinya juga baru datang. Aku langsung menyapanya, begitu juga dengan dirinya.
“Selamat pagi, Wooseok,” sapa ku lembut.
“Selamat pagi juga, (y/n),” sapanya balik dengan senyum hangat. “Oh ya, bagaimana dengan keadaan mu? Sudah lebih baik?” tanyanya, terlihat jelas ada nada khawatir di suaranya.
“Eung, aku sudah agak lebih baik. Terima kasih sudah menolong ku kemarin,” ucap ku sambil tersenyum tulus ke arahnya.
“Tak masalah. Aku malah bersyukur karena bisa menolong mu kemarin,” ucapnya sambil tersenyum dan menatap ku dalam-dalam.
Aku pun ikut tersenyum. Tiba-tiba, Wooseok menarik ku sedikit agar tidak bertabrakan dengan adik-adik kelas yang sedang berlarian.
“Hai, perhatikan langkah mu!” teriak Wooseok sedikit kesal.
“Maafkan kami, sunbae!” jawab mereka, balas berteriak tanpa mengurangi kecepatan lari.
“Tch... Adik kelas sekarang sangat berbeda saat zaman kita dulu, bukan? Dulu kita benar-benar sangat takut jika berpapasan dengan para sunbaenim. Kita dulu sangat sopan,” ucapnya sambil menggelengkan kepala.
“Eung, kau benar. Aku saja sangat takut. Jika saat berjalan dan di belakang ku para sunbaenim, aku lebih baik berada di belakang mereka ketimbang mereka yang ada di belakang ku,” timpal ku sambil tersenyum geli mengingat masa-masa itu.
Wooseok juga ikut tersenyum sambil menatap ku. Kami berjalan beriringan tanpa menyadari jika kami sudah sampai di depan kelas ku.
“Aku masuk duluan, Wooseok,” ucap ku sambil tersenyum dan melambaikan tangan ku padanya.
Wooseok hanya mengangguk pelan sambil tersenyum ke arah ku dan berjalan menuju kelasnya. Aku langsung masuk dan mendudukkan diri ku di meja ku. Jina dan Kino tentu langsung menghampiri ku karena melihat ku bersama Wooseok tadi.
“Yakk... Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa bersama?” tanya Kino langsung, suaranya penuh rasa ingin tahu.
Aku tersenyum ketika Jina memukul kepala Kino sambil menatap tajam ke arah Kino.
“Aku hanya berpapasan dengan Wooseok tadi, tidak lebih. Sudah, sana kembali ke tempat duduk kalian!” ucap ku, berusaha mengakhiri interogasi.
“Kau tidak asyik, sama seperti Seungkwan. Sudahlah, aku juga jika sedang dekat dengan seseorang, tidak akan memberitahu kalian!” ucap Kino sambil beranjak, merajuk.
Aku hanya menggelengkan kepala ku saat mendengar perkataan Kino tadi.
“Aku akan menceritakannya nanti saat aku sudah siap,” ucap Seungkwan, yang tiba-tiba menimpali sambil menatap Kino dari kursinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
Randomseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
