seventeen x you
yuk halu bareng...
dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1...
disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng..
bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu..
Nantinya bukan hanya all member s...
Menjalin sebuah hubungan yang begitu lama—seperti lima tahun yang sudah kami jalani—tentu sangat sulit jika kami tidak memiliki kepercayaan satu sama lain.
Hubunganku dengan kekasihku, Woozi, berjalan baik-baik saja. Hanya saja, selalu ada perdebatan kecil ketika sudah menyangkut sahabat kecil Woozi yang rasanya selalu hadir di antara kami. Awalnya, aku bersikap biasa saja, tetapi semakin lama, aku semakin muak melihat tingkah lakunya kepada kekasihku.
Seperti sekarang ini, aku hanya berharap gadis itu tidak akan menggangguku dan Woozi, karena aku sedang berusaha keras agar Woozi memaafkan ku. Ya, Woozi tengah mendiamkan ku sejak tadi setelah ketahuan pergi party bersama teman-temanku tanpa memberitahunya.
Saat ini aku sedang bersama Woozi di apartemennya. Ia tengah sibuk dengan layar laptopnya, sementara aku masih terus memperhatikannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Sampai kapan kau akan mendiamkan ku seperti ini?” ujarku sambil menatap Woozi yang begitu fokus pada layar laptopnya.
Woozi tidak menggubris ku. Ia terus saja menatap layar laptopnya. Aku menghela nafasku. Aku merebut laptopnya, lalu mendudukkan diriku di pangkuannya. Tadinya aku hanya duduk di sampingnya, kini aku duduk di pangkuan Woozi.
“Lee Jihoon, aku kan sudah meminta maaf padamu. Kenapa kau terus mendiamkan ku seperti ini?” rengek ku sambil menangkup kedua pipinya.
Woozi menghela napas. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya.
“(Y/n)-ya, bagaimana jika keadaannya dibalik? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Woozi sambil menatapku.
“Aku pasti marah juga. Mian, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya lupa tidak memberitahumu,” kataku sambil menundukkan kepala.
“Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu sekarang. Lebih baik kau pergi tidur sana, pekerjaan kantorku masih banyak,” tukasnya.
Aku kembali menangkup kedua pipi Woozi, yang membuat Woozi menatapku lagi.
“Mianhae, jangan mendiamkan ku seperti ini terus,” rengek ku sambil memeluknya.
“Arraseo... Sudah, sana tidur,” jawab Woozi sambil mengusap lembut punggungku.
Aku melonggarkan pelukanku dan tersenyum ke arah Woozi. Aku langsung mengecup bibirnya sebelum akhirnya menggerakkan bibirku untuk melumatnya. Aku pikir Woozi tidak akan membalas, tapi ternyata ia membalas setiap lumatan yang kuberikan, hingga ciuman kami semakin lama semakin bergairah.