48.MINGYU

1.9K 123 2
                                        

Seharusnya sebuah pernikahan itu adalah sebuah kebahagiaan untuk kedua insan yang memang sudah meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, mengikat satu sama lain dalam sebuah janji suci yang hanya diucapkan sekali seumur hidup. Tapi tidak dengan ku. Alih-alih bahagia, aku malah merasa ini tidak adil untuk ku dan hidup ku. Kenapa harus aku yang menanggung semua ini? Kenapa bukan orang lain saja yang menanggung semua ini? Kenapa harus aku.

​Perjodohan ini yang membuat ku harus menikah dengan pemuda bernama Kim Mingyu. Hilang sudah semua cita-cita yang ingin ku capai sebelum aku menikah. Kenapa pemuda itu malah memilih ku ketimbang saudari perempuan ku yang jelas-jelas menyukainya dibandingkan aku.

​Yah, saudari ku Jina. Jina sangat menyukai Mingyu bahkan sejak pertama kali mereka bertemu di perusahaan. Jina bilang pada ku, ia jatuh hati pada Mingyu pada pandang pertama. Dan bahkan, aku merasa Mingyu pun seperti tertarik dengan Jina. Namun, entah kenapa saat perjodohan antara perusahaan ini berlangsung, ia malah memilih ku, bukan Jina.

​Aku menghela napas ku saat melihat Jina masuk ke dalam ruangan khusus pengantin wanita. Ia tersenyum ke arah ku sambil membantu ku berdiri. Aku menatap dirinya yang sedang menatap ku sambil merapihkan gaun pengantin ku yang terasa sangat berat.

 Aku menatap dirinya yang sedang menatap ku sambil merapihkan gaun pengantin ku yang terasa sangat berat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​“Gaun ini merepotkan, apa aku tidak bisa mengganti dengan yang lain saja?” ucap ku, sedikit merengek.

​Jina tertawa kecil, “Bodoh, bagaimana bisa? Ini acara pernikahan, bukan pesta biasa,” ucapnya sambil menyentil dahi ku pelan.

​Aku menghela napas ku, “Kau tidak marah aku menikah dengan pemuda yang kau sukai?” ucap ku dengan berhati-hati, menanyakan hal yang sudah enam bulan terakhir ini mengganggu pikiran ku.

​Jina menggelengkan kepala, senyumnya tetap cerah. “Marah? Untuk apa marah? Dia sudah memilih mu, jadi aku tidak akan marah lagi. Lagipula, beberapa temannya juga cukup tampan untuk menjadi teman kencan ku,” jawab Jina sambil tersenyum penuh rahasia.

​Aku hanya tersenyum tipis ketika mendengar perkataan Jina tadi.

​Aku tahu Jina seperti apa. Itu sebabnya, saat mendengar jawabannya seperti itu, aku sedikit lega. Pasalnya, itu berarti dia sudah merelakan Mingyu dan lebih memilih mencari pengganti Mingyu. Tak lama setelah itu, akhirnya kami keluar ruangan untuk menuju tempat di mana aku dan Mingyu akan mengikat janji suci bersama.




































​Beberapa jam kemudian. Pesta pernikahan sudah selesai. Sekarang, aku dan Mingyu sudah berada di apartemen milik Mingyu. Aku menghela napas ku saat mencoba meraih resleting pada gaun yang ku gunakan saat ini. Yah, tadi aku sempat berganti gaun setelah janji suci selesai diucapkan dan acara pun berganti menjadi pesta pernikahan ku dan Mingyu. Aku mencoba kembali untuk meraihnya, namun nihil, aku tidak bisa meraihnya. Aku berjalan keluar kamar yang memang sudah disediakan oleh Mingyu untuk ku tempati sendiri, tentu saja.

SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang