Sulit dipercayai bagaimana bisa seorang appa menjodohkan seorang putrinya dengan pemuda yang disukai oleh putrinya yang lain. "Ternyata benar, Appa hanya menyayangi Geunhye eonni dibandingkan aku. Bahkan setelah Eomma wafat pun, ia tak pernah sedikit pun menanyakan bagaimana kabarku. Beliau hanya menemuiku karena ingin memarahiku. Terlepas dari itu, beliau hanya menganggap dirinya yang hanya memiliki satu putri saja,” bisikku dalam hati.
Aku mengusap kasar air mata yang mengalir di pipiku sekarang ini. “Haha, kenapa juga aku harus menangis seperti ini? Lucu sekali. Berhenti menangis, (y/n)-ya, ini tidak seperti dirimu,” monologku sambil menyeberang jalan.
Dan saat aku hendak menyeberang, sebuah motor menyerempetku, yang membuatku terhuyung dan terjatuh.
“Akh... Sial! Yakk... Ahjussi! Kau har– bodoh! Sudah menyerempet orang, malah pergi begitu saja!” ucapku, berusaha berdiri. Luka gores mulai terasa pedih di lutut dan siku.
“Kau tak apa?” Aku langsung menoleh saat mendengar suara Wonwoo.
Aku langsung menepis tangannya yang hendak membantuku untuk bangun. Tak berapa lama, aku juga melihat Geunhye eonni datang.
“Astaga, (y/n), kau tak apa?” ucapnya cemas.
“Mck... Tidak usah memperdulikanku!” ucapku dengan ketus, lalu berjalan meninggalkan mereka.
“Yakk...” teriak Geunhye eonni dengan isakan yang samar-samar kudengar.
Aku tahu dia pasti akan menangis sekarang karena melihatku terluka seperti ini. Namun, aku dikejutkan oleh sebuah lengan yang tiba-tiba menggendongku.
“Turunkan aku, Wonwoo-ssi,” tegasku.
Bukannya menurunkan, dia malah membawaku pergi dengan Geunhye eonni yang mengikuti kami dari belakang.
“Kau tuli? T-u-r-u-n-k-a-n a-k-u!” Aku menekankan setiap huruf ketika mengucapkannya tepat di telinga Wonwoo.
Wonwoo menatapku dengan wajah datarnya yang membuatku memalingkan wajah.
“Won, kita bawa dia ke klinik terdekat saja,” ucap Geunhye eonni.
“Tak perlu! Aku baik-baik saja. Cepat turunkan aku!” kataku lagi, memberontak.
“Diam! Jangan banyak bicara!” bentak Geunhye eonni, nadanya terdengar panik.
“Turunkan aku, Jeon Wonwoo!” teriakku dengan menggigit bahu Wonwoo sekuat tenaga.
“Akh...” ringisnya.
“Turunkan aku! Jika tidak, aku akan menggigit bahumu lagi!” ucapku lagi dengan tatapan penuh amarah.
Wonwoo benar-benar tak menurunkanku sampai kami tiba di sebuah klinik. Entahlah, mungkin sekarang bahu Wonwoo luka parah karena aku benar-benar menggigitnya begitu kencang tadi.
“Tak perlu diobati, biarkan saja,” aku menepis tangan seorang perawat yang akan mengobati lukaku.
“(Y/n)-ya, jebal... Aku tahu kau marah, tapi jangan menyakiti dirimu sendiri seperti sekarang,” ucap Geunhye eonni dengan mata berkaca-kaca.
Aku tak mendengar perkataannya. Sungguh, untuk kali ini aku ingin benar-benar sendiri, tapi kenapa mereka malah berada di dekatku seperti sekarang ini?
“Jung (y/n)!” panggil Wonwoo dengan menahan tanganku yang hendak bergerak.
Aku langsung menepis tangannya dan menghentikan langkahku yang ingin keluar dari klinik ini.
“Aku tak ingin melihat kalian berdua. Sebaiknya kalian pergi sekarang,” ucapku dengan pelan, tapi masih bisa didengar oleh mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
De Todoseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
