MINGYU (2 End)

1.7K 120 0
                                        

Maaf guys aku ngga up kemarin kelupaan hari. Aku ngga sadar kalau kemarin itu hari rabu, maaf ya guys hehe 😆✌




















3 Bulan kemudian...


Hubungan ku dengan Mingyu masih sama seperti dulu, tidak ada yang beda. Mungkin karena sekarang kami saling terbuka dan memiliki kesepakatan, yaitu tidak melarang satu sama lain untuk memiliki hubungan dengan kekasih masing-masing, tidak ikut campur dengan urusan satu sama lain, dan kami tetap berhubungan intim seperti sebelumnya, namun hanya antara aku dan Mingyu yang tahu.

Yah, kami sering melakukan hal ‘itu’ bersama dan hanya kami yang tahu akan hal itu. Aku tidak memungkiri jika Mingyu itu begitu tampan, apalagi saat ia selesai berolahraga dengan peluh membasahi lehernya, membuat ku terpana.

Aku menoleh saat merasakan sebuah lengan kekar melingkar di pinggang ku. Aku juga merasakan kecupan-kecupan ringan pada leher ku yang membuat ku menggigil.

“Mingyu-ssi, hentikan,” ucap ku, mencoba menahan diri.

“Aku menginginkan mu malam ini,” ucap Mingyu pelan, suaranya serak dan menahan hasrat.

Ia melepaskan pelukannya sejenak dan membalikkan tubuh ku untuk menghadapnya. Tanpa banyak bicara, ia langsung mencium bibir ku dengan begitu dalam, seolah menuntut balasan. Ia juga langsung menggendong ku, membawa ku berjalan masuk menuju kamarnya yang lebih besar. Aku mendorong pelan bahunya untuk melepaskan tautan bibir kami.

“Kau punya pengaman, bukan?” tanya ku, napas ku terengah.

Mingyu menghentikan langkahnya, wajahnya menunjukkan kebingungan. “Kenapa memangnya? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan aku punya pengaman atau tidak?” ucapnya.

“Kau tinggal jawab punya atau tidak, Mingyu-ssi,” desak ku.

“Punya, tapi aku tidak ingin memakainya,” ucapnya lagi, meletakkan ku dengan hati-hati di tepi tempat tidur.

“Kali ini kau harus menggunakannya, kumohon,” ucap ku, menatapnya dengan tatapan serius.

“Wae? Bukankah kita jarang memakainya saat kita melakukannya?” tanyanya bingung, tatapannya menyelidik.

“Kumohon, pakaikan saja untuk mencegah sesuatu terjadi,” ucap ku dengan teramat sangat, ada nada panik yang tak bisa ku sembunyikan. Aku sedang berada dalam fase subur ku, dan aku tahu itu.

Mingyu menatap ku lama, lalu menghela napas. Arraseo, aku akan memakainya,” ucapnya sambil beranjak menuju nakas.

Tak lama, Mingyu kembali dan langsung menindih ku lagi. Setelah dia mengambil pengaman dari nakas dekat tempat tidurnya, ia kembali mencium ku dengan begitu dalam dan menuntut. Yang bisa ku lakukan hanya membalas setiap lumatan yang ia berikan, mencoba menikmati momen di mana kami seolah-olah adalah pasangan normal yang saling mencintai.

Beberapa saat kemudian. Aku menatap langit-langit kamar Mingyu. Di samping ku, Mingyu berbaring sambil memeluk ku erat. Aku menoleh saat merasakan lengan Mingyu menarik ku untuk semakin dekat dengannya.

“Seminggu yang lalu aku melihat mu bersama Changkyun di hotel. Apa yang kalian lakukan di hotel?” tanyanya, suaranya terdengar datar.

Aku langsung tersentak. “Mingyu-ssi, bukankah kita sepakat untuk tidak mengurusi urusan masing-masing? Tapi, kenapa akhir-akhir ini kau selalu menanyakan hal yang sama pada ku?” ucap ku sambil mencoba beranjak duduk.

“Aku hanya ingin tahu saja, apa salahnya?” ucapnya sambil menahan tangan ku.

“Ani, tidak ada yang salah, akan tetapi kau berlebihan, Mingyu-ssi. Aku saja tidak pernah ingin tahu urusan mu dengan kekasih mu,” ucap ku dengan menepis tangannya dan berjalan keluar kamarnya. Aku merasa kesal karena ia melanggar kesepakatan kami.

SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang