Aduh maaf ngaret, iya temen-temen janji ngga lagi. Sebenarnya kalau boleh jujur udah ada beberapa cerita di draft iya aku cuman karna ada sesuatu jadi tertunda upnya. Maafnya, janji ngga lagi ok. Ya udah langsung aja..
Aku berlari kencang menyusuri lorong kampus. Mataku terus melirik ke jam tangan yang melingkar di tangan kiri. "Aish... Bagaimana bisa mahasiswa sepertiku harus telat di hari sepenting ini?" gumamku panik. Ini pasti karena aku begadang semalam untuk belajar, atau jangan-jangan begadang karena aku bermain game semalaman? "Ah... Molla, masa bodoh. Yang penting sekarang aku berharap dosen killer itu belum datang dan ujian belum dimulai," batinku penuh harap.
Aku membuka pintu depan kelasku dengan kasar, nafasku terengah-engah. Mataku menyapu sekeliling ruangan yang sudah tidak ada siapapun. Tiba-tiba, rasa sakit menjalar di telingaku.
"Yakk... Aish... Beris..." ucapku terhenti ketika aku mendongak dan melihat siapa orang yang sedang menarik telingaku.
"Mwo? Kau mau mengumpati dosenmu sendiri, eoh?" tanyanya dengan nada kesal, sebelum berteriak, "IKUT AKU SEKARANG!"
"Baik, Bu," jawabku pelan.
Aku langsung berjalan mengikutinya dari belakang sambil menundukkan kepala.
"Penampilanmu tidak sama dengan kelakuanmu. Cih, aku tidak habis pikir kenapa kau selalu melewati hari yang penting untukmu sendiri," omelnya tanpa henti.
Aku hanya diam tak berani menjawabnya. Hingga kami telah sampai di ruangannya, kami langsung berjalan masuk.
"Berdiri disana sampai aku selesai merapikan beberapa barangku," perintahnya.
"Ne," jawabku pelan.
Aku langsung berdiri tak jauh dari mejanya. Cukup lama aku menunggumu, hingga aku mendengar suara pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Masuklah," ucapnya.
Aku cukup terkejut saat melihat siapa seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf, Bu. Hoshi bilang Ibu memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu, Bu?" ucap seseorang yang baru masuk tadi.
"Iya, duduklah. Jeonghan-ssi, apa kau punya waktu senggang saat ini?" tanyanya.
"Ne, kebetulan saya sudah menyelesaikan semua tugas saya, Bu," jawabnya.
"Baguslah. Itu berarti kau tidak keberatan untuk membantu seseorang belajar untuk meningkatkan nilainya selama satu semester," ucapnya sambil menatap Jeonghan dan sesekali melirikku dengan ekor matanya.
Aku mengerjapkan mataku saat mendengar perkataan Ibu Yoon, dosen killer yang ku maksud tadi. "Ani... Aniya... Aku pasti salah dengar. Bagaimana bisa dia menyuruhku untuk belajar dengan sunbae yang ditakuti oleh semua anak angkatanku?" seruku dalam hati. "Andwae, jebal. Aku tidak akan mungkin bisa berlama-lama bersamanya! Hanya dengan berpapasan dengannya saja nyaliku sudah ciut, apalagi harus bersamanya berjam-jam? Tidak! Aku pasti akan habis olehnya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
De Todoseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
