“Cinta,” kalimat sederhana yang mengandung begitu banyak arti, bukan? Tapi saat kalimat itu berubah menjadi rasa yang dihindari, akankah kalimat itu masih sama artinya? Seperti aku, aku menganggap cinta hanya kalimat yang rumit yang benar-benar tidak bisa ku pahami. Terkadang aku merasa cinta begitu manis, tapi terkadang juga aku merasakan cinta itu begitu pahit dan menyakitkan. Seperti halnya ketika aku akan menggunakan kalimat itu saat aku bertemu dengan orang yang tepat.
Aku sudah berkali-kali merasakannya, dan berakhir selalu aku yang ditinggalkan. Entah apa yang salah, aku juga tidak tahu. Atau mungkin aku yang terlalu penurut? Atau juga aku yang terlalu sibuk? Entahlah, hanya mantan kekasihku saja yang tahu kenapa mereka mengakhiri hubungan denganku.
Aku menghela nafasku saat lagi dan lagi hubunganku berakhir. Tadi baru saja hubunganku dengan Eunwoo berakhir setelah dua tahun berkencan.
Aku meneguk soju dan bir yang ku satukan dalam gelas. Aku memang tidak ingin berlarut dalam kesedihan dan memutuskan untuk tidak berkencan dulu mulai sekarang.
“Yakk… Kau yakin tidak akan berkencan lagi?” kata teman akrabku, Jiyeon.
“Eum, Eunwoo yang mengakhiri. Aku sudah lelah menjalin hubungan seperti ini,” jawabku seraya menatap pantulan diriku di gelas.
“Yasudah lah, semoga kau cepat mendapatkan yang tidak membuatmu lelah menjalin hubungan dengannya,” ucap Jiyeon tulus.
Aku hanya terdiam sambil kembali meneguk soju dan bir tadi. Sebenarnya aku tidak rela melepaskan pemuda seperti Eunwoo, tapi mau bagaimana lagi, dia ingin hubungan kami berakhir.
Aku berjalan dengan tak seimbang masuk ke dalam gedung apartemenku. Dengan perlahan aku berjalan menuju lift, hingga tak sengaja aku melihat seorang pemuda yang baru keluar pintu lift dengan tergesa-gesa dan menabrak ku.
“Jeosonghaminda,” ucapnya tanpa menoleh, langsung pergi.
Aku hanya mengangguk pelan sambil kembali berjalan masuk ke dalam lift. Aku keluar pintu lift saat sudah berada di lantai unit apartemenku. Ketika sampai di depan pintu, aku malah melihat ada sebuah kotak di depan pintuku. Aku langsung mengambilnya dan melihat siapa yang mengirimnya.
“Untukmu, dari Aku.”
Aku sempat terdiam saat melihat surat kecil yang tertulis di sana. Hingga akhirnya aku membuka kotaknya. Isinya hanya sekotak cokelat, yang memang cokelat kesukaanku. Aku langsung menutup kembali dan meletakkan kotak tadi di atas lemari sepatu, lalu aku berjalan masuk. Yah, aku sudah sering menerima cokelat seperti itu setiap kali aku mengakhiri hubunganku dengan kekasihku.
Aku membaringkan tubuhku di sofa ruang tengah apartemenku. Aku menatap langit-langit ruang tengah dengan menopang tangan di dahiku.
“Lupakan dia, karena kami sudah berakhir,” gumamku lirih.
Aku mulai beranjak untuk membersihkan tubuhku. Namun, sebelum pergi ke kamar, aku mendengar suara bel apartemenku berbunyi. Aku langsung berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Ketika membukanya, aku melihat ahjumma tukang bersih-bersih.
“Maaf Nona mengganggu, tapi ada paket untukmu tadi,” ucapnya dengan senyum.
“Terima kasih, Ahjumma. Oh ya, ini untukmu. Cokelat, semoga anakmu suka,” ucapku sambil memberikan kotak cokelat misterius yang baru saja ku terima tadi.
Ia hanya mengangguk pelan sambil tersenyum ke arahku. Kemudian ia menundukkan kepalanya sedikit dan langsung beranjak pergi.
Aku sudah bersiap untuk pergi ke kantor hari ini. Seperti biasa, aku hanya menggunakan kemeja putih dengan celana hitam, beserta tas hitam.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
Randomseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
