seventeen x you
yuk halu bareng...
dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1...
disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng..
bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu..
Nantinya bukan hanya all member s...
Helaan napas keluar begitu saja saat aku melihat seorang pemuda yang tengah meneguk segelas bir miliknya di meja sebuah bar. Aku segera menghampirinya yang sudah begitu mabuk itu.
Aku menatap jengah padanya saat ia tak peduli pada kehadiranku saat ini. Ia terus saja meneguk gelas bir miliknya, yang membuatku sedikit kesal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Daepyonim, kaja. Kita pulang. Anda harus berhenti minum sekarang,” ucapku sebisa mungkin membuatnya langsung beranjak pulang.
“Kau! Pergi sana. Jangan menggangguku!” tukasnya sambil sedikit mendorong tubuhku.
Aku menghela napas kembali begitu mendengar perkataan tadi, dan kembali mendekat sambil bergumam pelan.
“Yakk.. Choi Seungcheol, bisakah sekali saja kau tidak membuatku susah seperti ini? Aku ini sekretarismu, bukan asisten pribadimu. Merepotkan saja,” gerutuku sambil menatapnya.
Setelah itu, aku langsung mencoba membopongnya untuk berjalan menuju mobil miliknya. Ya, dia adalah bosku di perusahaan tempatku bekerja, tapi dia suka sekali merepotkanku seperti ini. Anehnya, manajer bar ini selalu saja meneleponku ketika Seungcheol mabuk berat. Mereka tidak pernah menelepon para kekasih Seungcheol, tapi malah meneleponku yang notabene hanya seorang sekretarisnya.
“Nona, biar kami bantu,” kata salah satu pegawai bar itu.
“Tak usah. Oh, iya, apa Tuan Choi sudah membayar tagihan miliknya?” tanyaku pada salah satu pegawai yang akan membantuku.
“Sudah, Nona. Seperti biasa, beliau membooking tempat ini untuk beliau minum disini,” jawabnya.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi. Dan satu lagi, saya harap ini yang terakhir kalian menghubungi saya karena Tuan Choi mabuk,” ucapku dengan penuh penekanan.
“Dia benar. Jangan hubungi dia lagi karena dia hanya bisa menghamburkan uangku saja,” oceh Seungcheol yang membuatku menggelengkan kepala.
Seungcheol menjauhkan dirinya dariku, namun aku dengan segera kembali menahan tubuhnya agar ia tak jatuh. Bisa kalian bayangkan, aku harus membopong tubuh besar Seungcheol dengan sekuat tenagaku, dengan tubuh kecilku, ditambah aku harus ekstra memegangi Seungcheol yang sejak tadi terus berusaha melepaskan diri.
Nafasku terengah-engah begitu aku berhasil membawanya masuk ke dalam mobil miliknya.
“Oh, Hyeojin, kau kuat sekali membopongku kemari. Berikan aku kecupan manis mu dulu,” oceh Seungcheol yang hendak menciumku.