"Aku mendorong pelan bahu pria yang sejak tadi menindih tubuhku dan mencium ku. Perlahan aku mengusap pipinya, menatap dalam-dalam wajahnya yang tampan.
"Sudah cukup Vernon, aku harus menyiapkan makan malam sekarang," ucapku sambil tersenyum lembut.
"Ayolah, aku masih merindukanmu. Kenapa kita tidak makan malam setelahnya?" bisiknya, menyembunyikan wajahnya di tengkukku, napas hangatnya menggelitik.
Yah, Vernon atau Chwe Vernon adalah suamiku. Kami baru menikah sekitar tiga bulan lalu. Ia adalah seorang pengusaha yang memiliki cabang perusahaan di beberapa negara. Pekerjaannya menuntutnya untuk sesekali mengontrol perusahaannya di luar negeri. Seperti sekarang, ia baru saja pulang dari New York setelah dua minggu di sana. Biasanya aku ikut bersamanya, tapi saat ia berangkat kemarin, aku memiliki pekerjaan mendesak yang tidak bisa kutinggalkan, alhasil aku tidak bisa ikut dengannya.
Aku hanya tersenyum simpul, mengusap punggungnya dengan penuh kasih. "Tapi aku lapar, Vernon," ucapku pelan, sedikit merengek.
"Baiklah, baiklah. Kita pesan makan sekarang. Biar aku yang pesan, kau tunggu sebentar," ucapnya sambil beranjak dari tempat tidur, meraih ponselnya.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku pelan saat melihat Vernon asyik dengan ponselnya. Aku beranjak, mendekatinya, dan memeluknya dari belakang.
"Waeyo? Ah, aku tahu, kau juga merindukanku, kan? Tunggu sebentar, aku sedang memesan makanan untukmu," ucapnya sambil tersenyum, tanpa menoleh.
Aku hanya tersenyum sambil memukul bahunya pelan.
"Sayang, kau mau ini?" tanyanya, menunjukkan layar ponselnya. Ada banyak pilihan makanan.
"Yang ini. Aku ingin burger double cheese juga, dan jangan lupa beli es krim," ucapku sambil tersenyum lebar.
Ia hanya mengangguk pelan, seolah permintaanku adalah perintah yang harus segera dilaksanakan. Setelah selesai memesan, ia meletakkan kembali ponselnya dan melepaskan pelukanku.
Aku mengusap pipi Vernon sambil tersenyum. "Aku akan mandi dulu. Kalau pesanan datang, dompetku ada di dalam jas-ku, kau ambil saja," ucapnya, mengecup bibirku sekilas, lalu beranjak menuju kamar mandi.
Aku hanya mengangguk pelan, masih tersenyum.
Beberapa menit kemudian. Aku membuka bungkusan pesanan yang sudah sampai sejak tadi, aroma burger dan es krim langsung menyeruak. Senyumku mengembang saat merasakan sepasang lengan memelukku dari belakang, melingkari pinggangku dengan lembut.
"Apa pesanannya sudah sampai?" tanyanya, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
"Sudah sejak tadi, ayo makan sekarang," jawabku sambil mengusap tangannya yang melingkar di perutku.
Aku merasakan Vernon melepaskan pelukannya dan mendudukkan dirinya di kursi meja makan. Aku meletakkan satu piring berisi burger pesanannya, lalu duduk di sampingnya.
"Bagaimana keadaan perusahaanmu yang ada di New York itu?" tanyaku, penasaran.
"Lancar saja, orang kepercayaanku mengelolanya dengan baik," jawabnya sambil menggigit burger-nya.
"Baguslah. Kau tidak akan ke sana lagi kan dalam waktu dekat?" tanyaku lagi, harap-harap cemas.
"Kurasa tidak. Kenapa? Apa kau tidak bisa jauh dariku?" tanyanya, menatapku dengan tatapan jenaka.
"Vernon!" rengek ku, pipiku sedikit merona.
Aku melihat Vernon hanya tersenyum geli sambil mengusap kepalaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
Acakseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
