Aku menggeliat saat mendengar suara bel pintu apartemen ku terus berbunyi. Berat rasanya meninggalkan ranjang, tapi suara berulang itu tak memberiku pilihan. Aku menyibakkan selimut hangat yang membalut tubuhku dan beranjak keluar kamar.
Aku berjalan dengan perlahan menuju pintu depan, jantungku sedikit berdebar bertanya-tanya siapa gerangan yang bertamu sepagi ini. Namun, saat aku membukanya, aku langsung disambut dengan suara ocehan seorang bayi yang baru berusia satu setengah tahun ini. Senyum tipis terukir di bibirku melihat si kecil yang energik.
"Huh, Yuri Eonni, sedang apa kau sepagi ini ada di apartemenku?" tanyaku heran, melihat kakakku sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar.
"Augh, kau lama sekali membuka pintunya, Dita! Aku kemari karena ada sesuatu yang ingin ku sampaikan," ucapnya sambil berjalan masuk tanpa permisi, seolah apartemenku adalah rumah keduanya.
Yah, dia adalah Eonni-ku, Yuri. Sudah biasa dia seperti ini.
"Kau kemari pasti ingin menitipkan Eunjung, kan?" tanyaku sambil mengikutinya masuk ke ruang tengah. Aku sudah bisa menebak niatnya.
"Benar sekali!" jawabnya riang. "Ngomong-ngomong, di mana Dokyeom? Apa suamimu itu masih tidur?" tanyanya sambil melirik ke arah kamar.
Aku hanya mengangguk pelan, sudah terbiasa dengan kebiasaan Dokyeom yang sulit bangun pagi di akhir pekan. Aku mengambil alih Eunjung dari gendongannya, mendekap tubuh mungil itu. "Hanya Eunjung? Di mana Eunha?" tanyaku lagi, menyadari hanya ada satu keponakanku.
"Eunhae di rumah Eomma kemarin, dia menginap di sana," jawab Yuri Eonni, ekspresinya penuh arti.
Aku mendengus pelan. "Kau akan pergi berkencan dengan Leeteuk Oppa, kan? Itu sebabnya kau menyuruh Eunha menginap di rumah Eomma dan menitip Eunjung di sini. Kau ini kebiasaan!" ucapku, setengah menggerutu tapi juga tersenyum geli.
Aku melihat dia hanya tersenyum lebar, senyum yang selalu membuatku sulit marah padanya. "Aku menitip Eunjung di sini supaya kau terbiasa merawat bayi, (y/n)-ya, bukan ada alasan lain," kilahnya.
"Eyy, sudahlah. Berdebat denganmu akan membuat kepalaku pusing. Sudah sana, kau pergi saja berkencan dengan suamimu!" ucapku sambil beranjak, membawa Eunjung di pelukanku.
"Ne, tolong jaga anakku, ya! Aku pergi dulu!" ucapnya sambil melambaikan tangan dan melenggang pergi.
Aku hanya mengangguk pelan dan berjalan menuju kamarku kembali. Eunjung sudah mulai merengek kecil dalam gendonganku.
Aku meletakkan Eunjung di samping Dokyeom yang masih terlelap. Suamiku itu memang punya bakat tidur pulas. Kami menikah baru satu tahun lalu, dan rasanya masih banyak hal baru yang kami lalui bersama. Aku ikut naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhku kembali, tersenyum lebar saat melihat Eunjung menepuk-nepuk pipi Dokyeom dan kemudian menciumnya dengan gemas.
Aku melihat Dokyeom menggeliat dan perlahan membuka matanya. Pandangannya yang masih sayu langsung bertemu dengan mata besar Eunjung. "Huh, Eunjung? Kupikir Immo. Kenapa kau sepagi ini ada di sini, sayang?" ucap Dokyeom sambil mengusap kepala Eunjung dengan lembut.
"Dia akan ada di sini sampai urusan kencan Yuri Eonni dan Leeteuk Oppa selesai, Dokyeom," ucapku sambil tersenyum, menjelaskan situasinya.
Dokyeom hanya mengangguk pelan dan beranjak dari tempat tidur. "Kau mau ke mana?" tanyaku.
"Aku ingin pergi mandi," jawabnya singkat.
"Yasudah, setelah mandi kau jaga Eunjung, ya. Aku ingin menyiapkan sarapan untukmu nanti," ucapku. Aku tahu Dokyeom pasti sudah lapar.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
De Todoseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
