Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaanku saat ini?” ujarku dalam hati. Aku sudah mendapatkan kabar yang menyakitkan beberapa kali hari ini, dan sekarang aku harus berhadapan dengan seseorang yang sudah lama kucari. Aku ingin bertemu dengannya, tetapi setelah ia berada di hadapanku, aku malah menghindarinya. Terlebih saat aku tahu dia telah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Sungguh, rasanya aku ingin berteriak sekarang, begitu hancurnya aku. Bahkan anak perempuannya itu adalah kekasih dari orang yang kucintai.
Aku menoleh saat Mingyu mengusap bahuku perlahan, mencoba menenangkan ku. Aku meraih tangan Appa yang sedang terbaring di bangsal rumah sakit di ruang rawat. Ia sudah siuman. Dokter bilang ia baik-baik saja, hanya tekanan darahnya saja tinggi, dan dia butuh istirahat yang cukup.
“Bagaimana kabarmu sekarang? Apa semua berjalan sesuai dengan rencanamu?” tanya Appa.
“Kabarku baik. Maafkan aku, karena pergi begitu saja darimu dan tidak mengatakan apa pun padamu. Eomma juga minta maaf padamu, (y/n)-ya,” ucap Eomma.
Yah, yang tadi datang ke rumah sakit adalah Eomma-ku bersama putrinya, Sohyeon, kekasih dari Dokyeom.
“Eomma juga minta maaf karena berbohong padamu waktu itu. Eomma bilang Appa-mu berselingkuh dari Eomma yang membuat Eomma harus meninggalkannya. Pada kenyataannya, Eomma lah yang meninggalkannya dan pergi bersama laki-laki yang Eomma cintai,” ucapnya.
“Aku sudah tahu itu semua. Aku juga sudah tahu kau pergi karena memang tidak ingin menikah dengan Appa, bukan? Aku juga tahu kau melahirkan ku karena terpaksa untuk membuat Halmeoni dan Harabeoji bahagia, bukan? Aku sudah tahu itu semua, kau tak perlu mengatakan lagi,” ucapku sambil menatap Eomma.
“Eomma hanya ingin meluruskan semua padamu agar kau tak membenci Eomma,” ucap Sohyeon.
“Aku bahkan tidak pernah membencinya. Justru, orang yang merawat ku selama ini yang ku benci. Jika bukan karena Dokyeom, mungkin aku akan terus membenci Appa-ku. Yah, Dokyeom yang bilang aku harus membicarakan semuanya dengan Appa karena saat itu aku bukan anak kecil lagi. Jadi, aku harus tahu segalanya yang terjadi di antara mereka, meski itu urusan mereka berdua,” ucapku sambil menatap Sohyeon.
“Bahkan aku selalu mencarinya untuk menanyakan, apa dia tidak menyayangiku seperti dia menyayangi putri tirinya? Dia bahkan meninggalkanku begitu saja tanpa ada ucapan ‘Eomma menyayangimu, (y/n)-ya. Dan kalimat yang ia ucapkan hanya ‘Appa-mu selingkuh dan Eomma tidak bisa bersama lagi dengan Appa-mu’. Hanya itu kalimat terakhir yang kudengar saat ia meninggalkanku begitu saja,” ucapku lagi.
Aku mengembuskan nafasku saat Appa menepuk-nepuk pelan tanganku.
“Maafkan Eomma, Nak. Eomma saat itu hanya memikirkan diri Eomma sendiri tanpa berpikir kau akan terluka karena sikap Eomma padamu,” ucapnya dengan tatapan sedih.
“Lupakan. Sekarang lebih baik kalian pergi karena Appa-ku butuh istirahat. Aku juga sedang ingin sendiri sekarang,” ucapku sambil beranjak dari tempatku.
“Mingyu, tolong jaga Appa sebentar. Dan kalian, aku harap bisa pergi sekarang,” ucapku lagi sambil berjalan pergi.
“Mwo? Kau mengusir kami? Cih, ayo Eomma, sebaiknya kita pergi saja,” ucap Sohyeon.
Aku mengepalkan tanganku saat mendengar perkataannya.
Aku mendudukkan diriku di tepi danau yang dulu sering aku kunjungi saat sedang ingin sendiri. Aku menoleh saat melihat Dokyeom duduk di sampingku.
“Pergi, aku ingin sendiri,” ketus ku.
“Tidak baik sendirian seperti ini. Aku ingin menemanimu, dan anggap saja aku tidak ada,” ucapnya sambil mengusap kepalaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
De Todoseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
