Lamunanku teralihkan saat mobil yang membawa kami terhenti di suatu tempat. Aku langsung menoleh ke arah Seungcheol begitu mobil yang membawa kami ini terparkir. Entahlah, aku benar-benar bingung sekarang. Kenapa Seungcheol malah membawaku ke tempat ini? Ia bahkan tak mengatakan apa pun padaku tadi, dan di perjalanan pun tadi ia hanya sibuk dengan layar laptopnya.
“Turun!” serunya.
“Tunggu, kau bilang ingin mempertemukanku dengan Lee Minhyuk? Lalu, kenapa kita kesini?” tanyaku dengan bingung.
“(Y/n)-ssi, justru di tempat ini kau akan bertemu dengan Lee Minhyuk, pemuda yang kau incar selama ini,” jawab Mingyu yang membuatku langsung menatap Seungcheol.
Seungcheol seperti tahu dengan tatapanku, ia langsung mengangguk pelan, sebelum ia keluar mobil ini lebih dulu. Akhirnya aku pun beranjak keluar dari mobil ini. Aku bersama Seungcheol berjalan masuk ke sebuah rumah yang bisa dikatakan begitu besar. Begitu kami masuk, ada penjaga yang menyambut kami dan mengantarkan kami ke halaman belakang rumah ini. Saat kami sampai di halaman belakang, di sana terdapat meja besar yang sedang diisi oleh satu laki-laki tua dan satu pemuda muda.
“Wah, lihat siapa yang membawa seorang gadis cantik. Kau akan menjualnya padaku?” ucap pemuda itu tanpa disaring.
“Ah… Rasanya aku ingin menembak kepalamu sekarang, sungguh. Jika tidak ada Harabeoji mungkin kau sudah mati di tanganku sekarang,” kata Seungcheol dengan penuh penekanan.
“Haha… Leluconku sangat lucu, bukan, Nona?” ucapnya sambil menatapku.
Tawanya terhenti ketika laki-laki tua itu meletakkan cangkirnya dengan kasar.
“Siapa gadis itu?” tanya beliau.
“Kekasihku, Shin (y/n), Harabeoji,” jawab Seungcheol sambil menggenggam tanganku.
“Haha, aigoo… Ternyata kau kembali membuka hatimu setelah membunuh gadis yang kau cintai?” katanya yang membuatku terkejut.
Aku mengerjap mataku begitu mendengar perkataannya tadi. Aku melihat Seungcheol mengepalkan tangannya dengan menatap tajam kearah pemuda itu (Lee Minhyuk).
“Pergilah, kau sudah selesai dengan urusanmu untuk bertemu denganku, bukan?” ucap laki-laki tua itu membuyarkan lamunanku tadi.
“Harabeoji mengusirku? Omo… Kau jahat sekali, aku juga cucumu, Harabeoji,” rengek Minhyuk yang membuatku tak habis pikir.
Harabeoji Seungcheol langsung menatapnya dengan tajam dan bersiap melemparkannya dengan cangkir teh yang sedang ia pegang sekarang, namun tak jadi karena Minhyuk sudah lebih dulu beranjak.
“Arraseo… Aku pamit sekarang. Sampai ketemu lagi, Nona,” katanya sambil beranjak pergi.
Seungcheol menghalangiku saat Minhyuk melewati kami tadi, hingga akhirnya kami duduk di salah satu kursi di meja besar itu saat Minhyuk sudah benar-benar pergi.
Kami sudah kembali dari rumah keluarga Seungcheol tadi. Yah, tadi Seungcheol bilang ia sengaja membawaku ke rumah keluarganya untuk bertemu dengan Harabeoji-nya sekaligus mempertemukanku dengan Minhyuk, karena Minhyuk memang selalu ke rumah keluarganya di hari itu untuk melaporkan pekerjaannya pada Harabeoji Seungcheol.
Satu hal yang baru kusadari setelah pertemuan tadi adalah bahwa Seungcheol dan Minhyuk mereka satu keluarga. Aku melirik Mingyu yang tengah sibuk dengan ponselnya. Sejak kembali aku belum bertemu dengan Seungcheol lagi. Mingyu bilang ia sedang mengurus sesuatu, jadi aku harus bersama Mingyu selama Seungcheol mengurus urusannya.
“Mingyu-ssi, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku setelah lama diam.
Mingyu hanya mengangguk pelan tanpa melepaskan tatapan pada layar ponsel miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
Randomseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
