Aku menghembuskan napas panjang saat mataku kembali tertuju pada seorang namja yang sudah hampir dua jam duduk di meja pojok kafe tempatku bekerja sekarang. Sejak tadi ia hanya duduk, sesekali menatap layar ponselnya, dan menunggu dengan sabar. Aku berjalan menghampirinya sambil membawa sepiring cheesecake yang ia pesan beberapa waktu lalu.
Aku meletakkan sepiring cheesecake itu di mejanya dengan hati-hati.
“Huh, terima kasih. Aku baru akan mengambilnya tadi,” ucapnya sambil tersenyum lembut, senyum khasnya yang selalu membuat orang lain ikut merasa hangat.
“Iya, tidak masalah. Apa kau masih mau menunggu Jina? Kurasa Jina tidak akan datang. Apa kau sudah menghubunginya lagi, Josh?” tanyaku sambil menatapnya dengan ragu.
“Dia akan datang, dia bilang terjebak macet di jalan. Aku baru saja selesai bertelepon dengannya tadi,” jawabnya santai sambil tetap menampilkan senyumnya.
“Baiklah, kalau begitu aku kembali bekerja dulu, Joshua,” ucapku sambil sedikit membungkuk lalu beranjak pergi.
Yah, Namja yang ku maksud tadi adalah Joshua, atau lebih tepatnya Joshua Hong. Dia ini adalah kekasih dari temanku, Jina. Bukan hanya sekadar teman, Jina adalah saudari angkat ku, karena kedua orang tuanya mengangkat ku sebagai anak mereka juga. Jadi, hubunganku dengannya bisa dibilang lebih dari sekadar teman biasa.
Aku menghembuskan napas lagi, kali ini disertai senyum tipis saat melihat Jina akhirnya datang. Dia berjalan dengan tergesa sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Namun, sebelum aku sempat menyapanya, sebuah lengan menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh dan langsung tersenyum begitu melihat Serim, sahabat kecilku yang selalu tahu banyak hal tentangku.
“Apa hatimu baik-baik saja setelah melihat mereka seperti sekarang?” tanyanya pelan tapi menusuk.
Aku hanya bisa tersenyum lebar ke arahnya, mencoba menutupi perasaan yang sebenarnya.
“Jangan terus tersenyum seperti itu. Aku tidak suka senyummu akhir-akhir ini, karena kau bodoh membiarkan pemuda yang kau sukai dibodohi oleh gadis yang ia cintai,” ucapnya sambil menatapku kesal.
“Aku harus apa? Apa aku harus mengatakan bahwa Jina sudah tidak menyukainya lagi, dan mengatakan Jina berselingkuh darinya? Jika aku seperti itu, bukankah aku akan merusak kebahagiaan mereka?” ucapku lirih sambil menunduk, lalu menatap Serim dengan mata yang bergetar.
Yah, Jina memang sudah tidak menyukai Joshua lagi. Padahal aku sudah merelakan Joshua untuknya sejak dulu, saat ia mengaku bahwa dirinya menyukai Joshua. Aku tahu perasaanku lebih dulu, aku yang lebih dulu jatuh hati pada Joshua, tapi karena aku tahu posisiku dan aku tidak ingin merebut kebahagiaan Jina, akhirnya aku mengalah dan merelakan Joshua untuknya. Menyakiti diriku sendiri, tapi aku tetap melakukannya. Karena bagiku, saat itu, Jina terlihat jauh lebih pantas untuk Joshua.
Namun setelah aku tahu bahwa Jina mengkhianati Joshua, jelas aku marah. Tapi apa dayaku? Aku bahkan tidak sanggup untuk memberitahu Joshua semuanya. Aku terlalu takut melihat tatapan kecewanya, terlalu takut menjadi orang yang menghancurkan dunianya. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berusaha mengingatkan Jina, berharap ia sadar, dan mungkin hubungan mereka masih bisa diselamatkan.
“Setidaknya, beritahu Joshua yang sebenarnya, bodoh. Jika seperti ini, bukankah dia akan terluka pada akhirnya?” ucap Serim lagi, kali ini dengan nada tegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
Ngẫu nhiênseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
