Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, baik aku dan Mingyu, kami sekarang seperti orang asing yang sama sekali tidak mengenal. Bahkan, untuk saling menyapa atau berpapasan saat di koridor kampus saja, kami sama sekali benar-benar tak peduli satu sama lain. Seperti sekarang, aku tengah berada di ruangan yang sama dengan Mingyu, namun aku sama sekali tidak memperdulikan dirinya. Begitu juga dengan Mingyu yang sibuk dengan anggota klub seni yang lain.
“(Y/n)-ssi, tolong berikan proposal ini pada Pak Lee bersama Mingyu. Sekalian tanyakan proposal yang dua minggu lalu aku ajukan pada beliau,” ucap Hyeonjong, salah satu sunbaenim-ku.
“Sunbae, aku sendi…”
“Biar aku dengan Dokyeom saja. Hanya memberikan proposal dan menanyakan proposal dua minggu lalu, bukan?” ucapan Mingyu memotong perkataanku tadi.
Hyeonjong hanya mengangguk pelan sambil melirik ke arahku yang tengah kembali menatap layar laptopku. Mingyu akhirnya pergi bersama Dokyeom, sedangkan aku kembali dengan kegiatanku tadi.
“Kau sedang bertengkar dengan Mingyu Sunbae?” tanya Soojin yang merupakan teman seangkatanku.
“Aniya,” jawabku singkat.
“Tidak mungkin. Lalu kenapa kalian sejak beberapa hari ini tidak dekat?” ucapnya lagi.
“Soojin, aku hanya tidak ingin ada yang salah paham saja,” kataku dengan beranjak.
“Yakk! Apa maksudmu? Coba, jelaskan yang lebih ku pahami!” teriaknya yang tak ku perduli kan.
Aku berjalan keluar dari klub seni tadi, menuju kafetaria kampus sekadar mendinginkan kepalaku dengan sesuatu yang dingin. Namun, langkahku terhenti ketika ponselku berbunyi.
Aku mengerjapkan mataku begitu melihat layar ponselku yang terdapat sebuah pesan dari sepupuku. Aku langsung berlari menuju parkiran untuk pergi ke rumah sakit.
“(Y/n)-ssi!” panggil Dokyeom yang membuatku menoleh, namun tak menghentikan langkahku.
Nafasku benar-benar tak teratur sekarang. Perasaanku juga begitu kacau. Aku langsung melajukan mobil yang kubawa sejak aku tak lagi dekat dengan Mingyu. Ya, sejak itu aku membawa mobil sendiri karena Mingyu tak lagi mengantar atau menjemput ku.
Pikiranku benar-benar tak bisa tenang sekarang karena pesan yang dikirim oleh Jihya, sepupuku, tentang Appa yang masuk rumah sakit. Hingga saat aku membelokkan mobilku, aku mengerem mendadak karena sebuah motor yang melaju berlawanan arah denganku yang membuat dahiku terbentur setir.
“Omo!” kaget ku.
“Perhatikan laju mobilmu, Nona!” teriak pemuda yang hampir ku tabrak tadi.
“Maafkan saya, Tuan!” teriakku.
Setelah itu, aku kembali melajukan mobilku menuju rumah sakit, sampai akhirnya aku tiba.
“(Y/n)-ya, kau tak apa?” tanya Jihya yang melihatku baru datang.
“Aku tak apa. Bagaimana dengan Appa? Eomma?” tanyaku balik pada Eomma.
“Appa-mu hanya terkena serangan jantung yang membuatnya jatuh pingsan,” jawab Eomma sambil memelukku.
“Mianhae, membuatmu khawatir sampai kau tak sadar jika kau terluka sekarang,” ucap beliau sambil mengusap pipiku.
Helaan napas berat akhirnya keluar dari mulutku. Aku mendudukkan diriku di sofa yang ada di ruang rawat Appa. Aku juga baru merasakan perih di dahiku sekarang.
“(Y/n)-ssi, bolehkah aku mengobati lukamu sebentar saja?” tanya seseorang yang membuatku langsung menegakkan kepalaku.
“Obati luka dulu, setelah itu kau bisa kemari lagi. Pergilah bersama Rowoon, biar dia yang mengobati lukamu,” ucap Eomma pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEVENTEEN IMAGINE (PART 2)
De Todoseventeen x you yuk halu bareng... dipart 2 ini bakal lebih menegangkan dari part 1... disini tempatnya buat kalian ngehalu bareng.. bisa bayangin dong jadi bagian dari kehidupan para member seventeen meski halu.. Nantinya bukan hanya all member s...
