##Bab 134 Penghinaan

707 73 4
                                        

Denis berdiri di samping ranjang Jasmine dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Nenek, kelak kamu tidak boleh kelelahan lagi. Kalau sakit, Nenek akan merasa tidak nyaman."

Jasmine menepuk kepala Denis sambil tersenyum, "Benar-benar cucu nenek yang baik."

Aku ingin tinggal di rumah sakit untuk menemani dan merawat Jasmine, tapi dia tidak setuju. Dia memintaku untuk membawa Denis pulang, dia berkata udara di rumah sakit tidak sehat, anak-anak tidak boleh tinggal di rumah sakit. Sementara aku harus bekerja besok, jadi aku harus istirahat. Cukup Bibi Lani yang menjaga di rumah sakit.

Aku mau tidak mau membawa Denis untuk pergi.

Setelah Denis tertidur, aku tidak dapat menahan diri untuk menelepon Candra. Suara Candra terdengar dalam, mungkin dia sudah menebak apa yang akan aku katakan, nada suaranya sangat acuh tak acuh.

"Candra, aku mohon. Demi Denis, bolehkah kami menemui Bibi Jasmine? Bagaimanapun, dia adalah ibumu!"

Candra berkata dengan dingin, "Ibuku berada di rumah dalam kondisi sehat. Kalau kamu tidak punya urusan lain, tutup teleponnya. Aku mau tidur."

Candra menutup telepon. Meskipun aku tidak rela, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hubungan Candra dan Jasmine sangat buruk, hubungan mereka juga tidak akan membaik hanya karena ucapanku.

Di pagi hari, Candra datang untuk menjemput Denis ke taman kanak-kanak. Aku meninggalkan rumah lebih awal dan bergegas ke rumah sakit. Setelah satu malam, Jasmine terlihat sudah membaik.

Aku meletakkan makanan yang aku beli di toko halal, lalu meminta Bibi Lani untuk merawat Jasmine dengan baik. Aku memesankannya untuk meneleponku kalau ada sesuatu. Setelah itu, aku pergi bekerja dengan tergesa-gesa.

Setelah sepagian sibuk di luar. Dalam perjalanan kembali ke Kewell, aku menelepon Bibi Lani dan bertanya tentang kondisi Jasmine. Saat menelepon, aku merasakan mobil bergoyang hebat dan telepon terhempas keluar dalam sekejap. Sopir membanting setir, mobil berbelok dan menabrak pohon di pinggir jalan.

Aku berkeringat dingin. Baru saja, mobil kami hampir menabrak mobil mewah yang mengemudi di seberang jalan. Sopir duduk di kursi pengemudi dengan ekspresi takut, mulutnya hanya terus bergumam satu kalimat, "Dia sendiri yang menabrak."

Aku berpura-pura tenang sambil membuka pintu dan turun dari mobil. Hanya berjarak belasan meter di belakangku, sebuah mobil mewah yang memesona berhenti dengan cara yang mengerikan. Logo emas mobil itu terlihat sangat mencolok.

Mobil itu adalah Lamborghini. Sebagian cat di bodi mobil telah tergores. Jika mobil biasa, goresan ini mungkin tidak akan menghabiskan banyak uang, tapi ini adalah Lamborghini. Mungkin uang reparasi sangat akan sangat mahal. Aku langsung berkeringat dingin.

Meskipun sopir berkata pria itu yang menabrak kami, aku tetap tidak tenang.

Ketika aku berdiri di samping Lamborghini dalam keadaan linglung, pintu mobil tiba-tiba terbuka. Kemudian, seorang pemuda berpakaian bagus turun. Penampilan lelaki itu terlihat tidak serius dengan wajah yang terlihat sedikit familier. "Hei Nona, Kalian yang menabrak mobilku, kalian harus ganti rugi."

Pada saat ini, sopir berkata dengan wajah pucat, "Kamulah yang menabrakku terlebih dulu."

Pemilik Lamborghini itu meraih kerah sopir, "Apa kamu mau bilang aku sengaja menabrak? Sialan!"

Orang itu melayangkan tinjunya ke wajah sopir. Sopir itu dipukuli hingga tersungkur ke tanah. Aku sangat marah, mengapa ada begitu banyak orang yang tidak masuk akal di dunia ini? "Pak, pria sejati tidak akan bermain tangan. Apalagi, sebenarnya siapa yang menabrak, kita akan tahu setelah lapor polisi dan cek rekaman CCTV!"

Kelembutan yang AsingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang