Hi Guyz,
Does my name ring a bell? Hopefully yaaa..
Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman.
Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
Sorry ya aku bilang Cici kamu pecun. Kadang-kadang kalau ngomong aku lupa pakai otak. Sorry, sekali lagi sorry. Ferry.
Denise tertegun. Ferry, si sombong itu minta maaf. Pakai surat pula. Apa ini lelucon? Mungkin orang lain yang menulis surat ini untuk menggodanya ? Rasanya tidak mungkin orang seperti Ferry menulis surat, apalagi untuk minta maaf. Denise melipat surat itu asal-asalan dan menaruhnya di dalam tas. Ferry adalah cowok nge-top di sekolah. Bertubuh tinggi dan parasnya seperti seorang anak saudagar. Rambutnya lurus terbelah ke samping, wajahnya tak bercela. Dan yang lebih penting lagi, ia kaya. Ayahnya punya beberapa restoran Cina yang terkenal di daerah Kota. Kepala sekolah dan guru-guru pun tahu betapa makmurnya keluarga Ferry dari sumbangan yang diberikan orang tua Ferry untuk kegiatan-kegiatan sekolah.
Denise hampir lupa akan surat itu kalau saja Ferry tidak menelepon.
"Hallo ?"
"Denise ?"
"Siapa ini ?" Ada suara yang tidak dikenalnya di seberang sana.
"Ferry."
"Oh..."
"Kamu sudah baca suratku ?" suara Ferry terdengar jauh lebih ramah dari biasanya.
"Oh...itu beneran dari kamu ya...aku pikir siapa..."
"Sorry ya.." suaranya benar-benar lembut kali ini.
"Ya." Untuk beberapa saat keduanya tidak berbicara apa-apa. Hanya hembusan nafas gugup Ferry yang terdengar.
"Denise, besok sore sepulang sekolah, ada acara nggak ?"
"Memangnya kenapa ?" Besok ada latihan paduan suara. Tapi Denise ingin tahu apa yang ada di pikiran Ferry.
"Nonton yuk, aku yang traktir." Hening. Kali ini Denise yang bertanggung jawab atas keheningan ini.
"Aku merasa tidak enak, sudah menghina cici kamu. Anggap saja aku menebus dosa."
"Hmm..." Denise belum pernah keluar berdua dengan anak laki-laki sebelumnya. Bukankah ini kencan ? Atau Ferry akan mengajak orang lain ?
"Nonton di mana ?"
"Di Sarinah bagaimana?"
"Naik apa ke sana?"
"Mobilku. Pulangnya aku antar. Ada supir."
"Hmm...." Hening lagi. Denise baru pertama kali diajak kencan. Ia benar-benar tidak bisa memutuskan. Jantungnya berdegup lebih kencang sedikit.
"Begini. Kamu pikir saja dulu malam ini. Besok di sekolah kasih tahu aku, jadi atau tidak."
"Ok." Denise lega. Setidaknya ia bisa menenangkan diri dahulu sebelum memutuskan pergi atau tidak.
"Ok deh, sampai ketemu besok."
"Bye."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bagaimana ? Bagaimana ?" Di rumah, Ci Felice sudah tidak sabar menanti ceritanya.
"Dia bilang dia sudah lama suka sama aku."
"WAAAAAAAA !!!"
"Tapi tidak tahu bagaimana harus mendekatiku. Jadi dia cari gara-gara supaya dapat perhatianku katanya. Aneh ya.."
"Hmm...mungkin juga bisa begitu."
"Terus, kamu bilang apa ?"
"Aku bilang mau pikir-pikir dulu."
"WAAAAAAA..bagus ! Bagus ! Playing hard to get. Bikin dia tambah penasaran." Denise dapat mengerti sikap antusias yang ditunjukkan Ci Felice. Tidak ada di antara mereka bertiga yang pernah ditembak cowok.
"Hmm..tidak juga...aku cuma bingung. Baru pernah sekali ini diajak jadian. Nggak tahu mesti jawab apa."
"Coba saja." Ci Felice mengusulkan dengan antusias. Denise kesal. Ia merasa seolah-olah Ci Felice ingin membuatnya jadi bahan eksperimen. Tapi di lain pihak, ia juga ingin tahu. Bagaimana sih rasanya berpacaran ? Di sekolahnya ada beberapa pasangan. Mereka bagaikan selebritis, muncul dalam percakapan, dan orang berusaha menghafalkan nama-nama pasangan itu. Sementara yang lain masih sibuk berkutat dengan PR dan ulangan, atau menghabiskan akhir pekan dengan orang tua, pasangan-pasangan ini sudah melangkah setapak ke arah kedewasaan. Mereka bergandengan tangan di pekarangan sekolah, pergi nonton berdua, dan saling mengunjungi di saat istirahat. Rita adalah salah satunya.
Pacar Rita adalah kakak kelas mereka. Walaupun sebenarnya wajahnya tidak terlalu cantik, kulitnya yang demikian mulus membuatnya tampak sangat menonjol. Apalagi di tengah badai jerawat puber yang menjangkiti hampir semua anak SMP. Waktu Rita masih anak baru di kelas 1, beberapa senior berebut mengejarnya. Rita memilih yang paling keren dari semuanya.
Denise sebenarnya curiga, kalau Karen mau berteman dengan Rita karena ingin menebeng popularitasnya. Sebagai gadis Indo yang cantik, Karen sendiri sebenarnya sudah cukup terkenal di sekolah. Tapi itu tidak sebanding dengan kemahsyuran seorang gadis yang punya pacar senior seperti Rita. Sayangnya, begitu Rita naik kelas, si senior pun lulus dan melanjutkan sekolah ke Singapura. Namun, fakta bahwa Rita berhubungan jauh dengan pacar yang sekolah di luar negeri justru membuat reputasi Rita bertambah 'high class'. Ia bagaikan seorang janda diplomat.
Gambar surat diambil dari http://www.themindfulword.org/wp-content/uploads/2015/12/love-letter1.jpg
Gambar di cinema diambil dari http://www.gannett-cdn.com/-mm-/961a10112757c66b6146f985ced690a672d3763a/c=220-0-3652-2574&r=x404&c=534x401/local/-/media/Rochester/2014/02/17/roc0218screenb.jpg