Sang Jit

421 37 9
                                        


"Oh! Mereka sudah datang!" I I Ning-ning buru-buru merapikan kerut merut bajunya. Rumah Denise penuh sesak hari itu. Dua buah AC dan dua kipas angin yang dinyalakan tetap tidak sanggup menyejukkan ruang tamu mereka. I Cong A Kim, I Cong A Seng, A Em, A Pek, Mama, Papa, dan Denise segera berdiri melihat iring-iringan keluarga Ko Edward datang. Papa dan Mama Ko Edward berada paling depan, diikuti Ko Edward serta encim dan enceknya. Masing-masing membawa sebuah nampan merah dengan berbagai seserahan di atasnya.

"Ah..ya..silakan masuk, silakan masuk, maaf agak panas. Kami tidak pernah punya tamu sebanyak ini." Sambut Papa. Keluarga Ko Edward dan Denise tertawa-tawa risih, sementara salah seorang encek Ko Edward memandu gerakan mereka.

"Ayo, kamu ke sini, serahkan nampannya sama I Cong-nya Denise." Ia menarik salah seorang saudaranya ke depan. Nampan-nampan itu pun berpindah tangan. Satu setelan baju perempuan dengan sepatu, yang sebenarnya Denise pilih sendiri dan ia serahkan kepada Ko Edward sebelumnya, seperangkat alat kosmetik, apel-apel merah tua, pear xiang li dan jeruk mandarin, masing-masing jumlahnya delapan buah. 2 pasang lilin merah besar bermotif naga dan burung hong yang diikat pita merah, dua buah kaki babi kalengan, kue mangkok merah tua dan merah muda, serta sebotol champagne juga diserahkan ke keluarga Denise. Tidak lupa dua nampan yang masing-masing berisi baju perempuan, satu untuk Ci Erlis, dan satu untuk Ci Felice, karena Denise akan menikah lebih dulu dari kedua kakaknya. Kemudian, orang tua Ko Edward menyerahkan nampan berisi dua angpau merah tebal kepada orang tua Denise. Satu untuk uang susu, uang tanda terima kasih dari keluarga mempelai pria karena sudah merawat calon menantu perempuan mereka dari bayi, serta sebuah lagi angpau berisi mas kawin. Ko Martin, anak I Ning-ning, hari itu ditugaskan menjadi fotografer dan sibuk menjepret kamera sementara Mama Ko Edward mengalungkan seuntai kalung berlian ke leher Denise, sebagai tanda pengikat. Terakhir, Ko Edward maju ke depan dan menyematkan cincin berlian di jari Denise. Pasangan muda ini tersenyum malu. Ruangan bergemuruh dengan suara tepuk tangan.

"Habis ini mau ke mana Ko? Langsung pulang?" Denise berbisik pada Ko Edward. I Cong, I I, Encek dan Encim mereka ribut bercengkerama mengelilingi meja bundar. Sebagai tanda terima kasih pada semua yang terlibat dalam acara lamaran, Papa mengundang makan siang di sebuah restoran Chinese sea food yang terkenal.

"Iya, pulang, istirahat sebentar. Kemudian mau mengantar Jake ke airport." Denise mengangguk. Akhirnya, sumber keresahan itu pulang juga. Ia berharap, dengan kembalinya Jake ke Amerika, kegalauan hati Ko Edward bisa sirna. UUI menawarkan posisi sebagai salah satu staff-nya. Ko Edward langsung menerimanya, "Mungkin, kalau aku jadi salah satu dari mereka, lama-lama aku akan bisa seperti mereka. Hidup tenang tanpa memikirkan yang susah-susah." Ia menghembuskan nafas, "Maybe that's the best!" dan membenamkan garpunya dalam-dalam ke daging lobster yang gemuk.

" Ia menghembuskan nafas, "Maybe that's the best!" dan membenamkan garpunya dalam-dalam ke daging lobster yang gemuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Senyum prihatin menggantung di wajah Denise. Resah. Selama ini, Ko Edward bak pelita yang selalu menuntunnya. Tapi perlahan-lahan cahayanya redup, kehilangan sinarnya. Ia prihatin Ko Edward tidak berhasil mengerjakan apa yang ia cita-citakan, tapi di lain pihak, ia lega. Mungkin sekarang, dengan kepergian Jake, Ko Edward akan terbangun dari mimpi-mimpi idealisnya. Mungkin ia akan lebih memikirkan pernikahan mereka, masa depan mereka berdua. Ya! Denise yakin, dirinya bisa memenuhi rongga yang ditinggalkan Jake.

Tapi ternyata ia salah.

Hanya sebulan setelah acara lamaran, sepulangnya mereka dari session foto pre-wedding, Ko Edward menggengam tangannya dan berbisik, "Menurut kamu, bagaimana kalau kita kembali ke US lagi? "

"Ha?!"

Ko Edward membeberkan rencananya. Orang tua Ko Edward sudah setuju karena tujuan Ko Edward kembali ke Amerika adalah untuk melanjutkan studi, mengambil gelar Master. Bagi mereka, ini adalah persiapan yang baik untuk mewarisi kerajaan bisnis keluarga.

"Well, of course, aku tidak bilang kalau aku tidak berniat untuk kembali. Hati Papa pasti terluka."

"Tapi sekolah Koko 'kan yang bayar Om Tjan?" Denise bingung. Apa Ko Edward berniat menipu ayahnya sendiri? Terbayang wajah Om Tjan, calon mertuanya yang punya sepasang mata burung dara.

"Yah...I know. Kalau sudah lulus aku akan bekerja keras dan mengembalikannya. Lagipula, 'kan ada Jeff." Ko Edward dengan tidak acuh melemparkan tanggung jawab itu di atas bahu adiknya.

"Nanti mau kerja apa di sana?"

"Hmm..entahlah...apa saja..aku lulus dari universitas di sana, dan punya pengalaman empat tahun di UUI. Pasti ada satu dua perusahaan yang bersedia mempekerjakanku." Denise menatap Ko Edward tidak percaya. Pemuda ini, yang selalu tahu apa tujuan hidupnya, yang selalu punya visi, yang berani melawan arus....sejak kapan ia berubah?

"Aku sudah bicara dengan Papamu juga, Nis. Dia menyambut baik keputusanku. Malah dia bilang, mungkin kamu bisa mengambil gelar Master juga di sana."

"Papa?!"

"Iya. Dia belum cerita sama kamu?" Denise menggeram. Dia selalu memuji Ko Edward yang pintar mengambil hati orang tua Denise. Tapi kadang-kadang Denise justru merasa itu merugikannya. Seperti sekarang ini. Bisa-bisanya mereka memutuskan masa depannya tanpa membicarakannya dengannya sekalipun!

"Yah..mungkin ide ini baru untuk kamu. Tapi aku sudah memikirkannya selama berbulan-bulan. Empat tahun sudah aku mencoba untuk tinggal di sini, Nis. Tapi akhirnya, aku sadar, rumahku adalah LA, bukan Jakarta." 

Denise tidak menjawab. Ia terpekur menatap mata Ko Edward yang kosong.

Ke acara multicultural festival kemaren ini.. sampe kaget ketemu makanan yg mirip, ternyata namanya Hoppers/APPA, makanan dari Srilanka. Mirip banget sama kue APE Jakarta. Rasanya percis seperti kue Pancong yg tidak pakai gula, bau santan, asin2 sedikit. Kue APE sama saja seperti APPA cuma ditambah rasa pandan aja jadi hijau. Siapa yg duluan nih? Orang Srilanka yang ajarin kita, atau kita yang ajarin mereka?

Tapi Hoppers ini beda dengan APE, dimakan dengan daging dan sambal, pakai telur segala. Kalau kita kan sebagai kue manis. Lucu ajaah...dan jadi kangen sama kue Ape hehehe..

dan jadi kangen sama kue Ape hehehe

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

----

Gambar Sang Jit / Lamaran diambil dari http://www.tionghoa.info/wp-content/uploads/2013/06/sangjitan-keluarga-mempelai.jpg

Gambar lobster dimakan diambil dari https://ak6.picdn.net/shutterstock/videos/25017566/thumb/1.jpg?i10c=img.resize(height:160)

Gambar kue hoppers dan ape diambil dari http://3.bp.blogspot.com/-pZXeYXtyJT4/U0xABjVmKuI/AAAAAAAAXVk/ZQFRZoZW7-g/s1600/Hoppers+4.jpg dan http://3.bp.blogspot.com/_w85_k3X8goY/Sl-LeRggWwI/AAAAAAAABjo/JXrwMAMI0r8/s400/100_4781.jpg

Di Mana NegerikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang