Hi Guyz,
Does my name ring a bell? Hopefully yaaa..
Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman.
Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
"Dinda, masa kamu sampai berpikir begitu..." Denise menatap Dinda prihatin.
"Tinggal di rumah ini seperti kos, Denise. Setiap orang punya jadwalnya sendiri. Sekali-sekali ketemu, kita bertegur sapa. Makanan selalu tersedia di meja makan. Masing-masing makan sendiri-sendiri. Jadi aku pikir, buat apa aku kos di luar? Buang-buang duit saja. Sekarang pun aku sudah tinggal di rumah kos."
Denise trenyuh. Tidak seharusnya seorang anak beradaptasi dengan rumah tangga yang rusak. Hati Dinda mengeras. Emosinya sudah terlepas dari keluarganya.
"Aku lebih senang kamu seperti dulu." Ujar Denise sedih.
"Maksudnya?"
"Aku lebih senang kamu marah pada orang tua kamu. Setidaknya, kamu yang dulu ingin mereka kembali damai."
Dinda meringis, "Nis, aku sudah capai berharap. Harapan yang tidak terjawab hanya membuat orang jadi putus asa. Lebih baik aku terima keadaanku sekarang. Jadi aku bisa memikirkan hal-hal yang lebih penting. Masa depanku, misalnya."
Denise tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oh, Dinda. Kenapa ya, umur kita sama, tapi kamu kok begitu dewasa?"
"Kalau kamu datang dari keluarga broken home, kamu juga bisa jadi dewasa, tahu?!"
Denise tidak menjawab. Ia sedih. Orang tua Dinda bertanggung jawab atas kerusakan jiwa anaknya. Tunggu dulu! Orang-orang gembong huru-hara bertahun-tahun yang lalu juga bertanggung jawab! Kerusuhan itu hanya terjadi sehari. Tapi ekornya yang tajam begitu panjang, menoreh bekas yang tidak bisa hilang. Mengubah hidup Dinda untuk selamanya.
Denise bertanya-tanya, berapa banyak keluarga yang rusak akibat kerusuhan Mei 98? Berapa bayi tak bersalah yang dilahirkan dengan rasa malu? Berapa orang yang kepribadiannya diubah karenanya? Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai semua efek yang tidak mengenakkan itu hilang?
Ia tidak mungkin tahu. Ia hanya berharap kejadian itu tidak terulang lagi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di pabrik situasi memanas. Papa tidak pernah mengajaknya untuk melakukan cek rutin ke pabrik lagi. Setiap kali ia mengosongkan ruangan dan pergi ke pabrik, Papa selalu menghabiskan waktu yang cukup lama, kemudian kembali dengan wajah kusut. Beberapa kali Papa marah besar kepada staf-nya hanya karena urusan kecil. Ci Nina kena semprot hanya karena salah membeli kertas. Di lain waktu, Ko Gary yang kena giliran. Ia tidak sengaja membuat mesin foto kopi rusak.
"Sst...Papa kamu kenapa sih belakangan ini ? Begitu saja kok marah-marah." Mbak Mulyani menoel Denise dan menujuk ke ruangan Papa. Mbak Arti sedang diomeli Papa. Adegan itu tampak jelas karena ruangan Papa dikelilingi jendela kaca tanpa tirai.
"Memang Mbak Arti salah apa?"
"Ah, dia itu cuma lupa mencatat nomor telepon. Tadi ada orang yang cari Papa kamu. Tapi dia lagi ke belakang. Si Arti lupa menanyakan nomor teleponnya."