Hi Guyz,
Does my name ring a bell? Hopefully yaaa..
Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman.
Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
"Pokoknya Sun nggak mau balik ke Malaysia!" Ia berteriak dan meninggalkan Papa. Tuhan sudah membawanya kembali ke Indonesia. Dengan pengorbanan A Mah. Sekarang, giliran dirinya sendiri memperjuangkan nasibnya. Ci Felice sedang berkemas-kemas. Besok, mereka dijadwalkan kembali ke Penang.
"Sun..jadi kamu bagaimana? Kamu juga 'kan, tidak ada kegiatan di sini."
"Masa bodoh! Aku bisa cari sekolah sendiri."
"Duitnya, dari mana?"
"Ah! Masa bodoh! Pokoknya aku nggak mau kembali ke Penang. Nggak ada enaknya sedikit pun!"
"Sun...tapi 'kan tiket pesawat sudah dipesan."
"Sudah dipesan bukan berarti harus dipakai 'kan?!"
Ci Felice memutar bola matanya dan melanjutkan berkemas. Tidak ada suara di luar. Tapi ia yakin Papa dan Mama sedang berbisik-bisik membicarakannya.
Matahari masih bersahabat ketika ia meninggalkan rumah keesokan paginya. Papa sedang jogging. Mama sedang ke pasar bersama Ci Felice. Hati Denise berdegup. Ranselnya terasa berat. Cukup dua tiga hari di rumah Dinda dan tiketnya akan hangus. Papa dan Mama pasti menyerah.
Bangku-bangku plastik KOPAJA masih banyak yang kosong. Beberapa pegawai kantor dan anak berseragam sudah mengambil tempat. Denise merapat ke jendela. Semilir angin berbau asap knalpot yang masuk dari jendela terasa sejuk. Hatinya berbunga. Comberan yang menggenang, lubang di aspal dan got hitam pekat, kenapa dulu ia mengeluhkannya?
This is where I belong: Metropolitan nan kampungan. Genit dengan patung dan air mancur, tapi menyembunyikan rumah kardus di kolong jembatan.
Denise menemui pagar-pagar tinggi yang baru dicat berdiri di hampir setiap gang yang dilewatinya. Di depan kompleks rumah mereka juga ada satu. Warnanya biru tua, tingginya sekitar empat meter. Bagian atasnya berbentuk seperti ujung tombak. Siap menusuk siapa pun yang mencoba melangkahinya. Seakan belum cukup, di antara jeruji-jeruji itu dipasangi kawat berduri. Trauma kerusuhan menunjukkan wujudnya di seluruh kota. Sehari sesudah ia sampai di Jakarta, Denise menemukan seperangkat pakaian tentara lengkap dengan belati bersarung dan sebuah tabung gas di gudang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa ini?" tanyanya.
"Oh, itu punya Papa. Kalau sampai ada kerusuhan lagi, Papa mau menyamar jadi ABRI, biar kita bisa menyelamatkan diri." Jawab Mama.
"Tabung gas ini?"
"Itu gas air mata."
"Beli di mana?"
"Nggak tahu. Itu Om Yen Hung yang kasih Papa. Dia juga sudah punya satu di rumah."
Denise berdecak, negara ini sudah kacau!
Denise membuka lebih lebar jendela Kopaja, kacanya yang buram menghalangi pandangannya. Denise melirik, merasa sepasang mata mengawasinya. Benar saja, ketika dia menengok, seorang pemuda berkulit gelap menyeringai. Denise membuang muka. Sekali lagi ia melirik, dan pemuda itu menyeringai lagi. Dipalingkannya wajahnya cepat-cepat, sambil memeriksa apakah pemuda itu menujukan tatapan matanya yang nakal ke orang lain. Tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. Sekali lagi. Dan ya..sekarang pemuda itu tambah berani. Ia berdiri dan jelas-jelas menghampirinya. memegang tasnya erat-erat.
"Pagi Moy..sendirian?" Pemuda itu mengambil tempat di sampingnya. Ia terkurung!
"Mau ke mana pagi-pagi begini?"
"Mau apa tanya-tanya?" Denise membalas dengan ketus. Tubuhnya sudah dalam posisi meringkuk.
"Sombong amat sih Moy, saya 'kan cuma mau kenalan aja."
Hilang sudah kesabarannya. Denise berdiri dan keluar dari tempat duduknya. Ia bergelantung di bagian belakang bus. Seorang bapak berusia 40-an bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di dekat pintu. Ketika bus berhenti di halte, bukannya turun, Bapak itu malah menghimpitkan dirinya ke Denise. Pada saat yang sama seorang pemuda berkuncir masuk ke dalam bus dan berdiri di belakangnya. Denise mulai merasa tidak nyaman. Masih banyak kursi yang kosong, untuk apa mereka berdiri berdempet-dempet dengannya?
"Non, tasnya buat saya aja ya." Si pemuda berkuncir berbisik di telinganya. Bau nikotin menyengat hidung Denise. Belum sempat bereaksi, si Bapak sudah menggenggam tasnya.
"Kasih tasnya!" Ia berbisik. Denise menggeram. Mereka satu komplotan!
"Lepaskan!" Ia meronta dan menarik tasnya. Pemuda yang tadi duduk di sampingnya berdiri dan berjalan ke arahnya. Ah....rupanya ia telah salah sangka. Pemuda itu orang baik. Pahlawan penolongnya.
"Moy, kasih Moy. Lepas tasnya." Denise lemas. Pemuda ini juga menarik tasnya.
"Tolong! TOLOONG!! TOLONGG!!" Sang kenek melongok, tapi kemudian memalingkan kepala. Begitu pula sang supir. Ia menengok ke belakang, tapi kembali menyetir.
"TOLOONG!! TOOLONGG!!" Teriakannya semakin keras. Ia melawan dengan sekuat tenaga. Denise dapat merasakan dadanya diraba-raba. Sementara tasnya juga ditarik. Ia menahan tasnya dengan satu tangan sambil menampik tangan yang kurang ajar itu dengan tangan lainnya.
"Moy..ayolah..Moy..kita cuma mau tasnya aja.." Suara Bapak itu begitu lembut, membuatnya ingin muntah. Ia gunakan giginya, kukunya, sikunya, kakinya, "JAMBRETT..TOLOONG!!!" Penumpang lain bergeming. Tidak ada satu pun yang menolongnya. Ia harus keluar dari KOPAJA keparat ini.
-------
Buat teman2 yang merayakan...Selamat Idul Adha ya...Hihihi...dapet gambar lucu dari Whatsapp, saya share di sini. Lucu sih, tapi maknanya dalem. Mau babi, mau sapi, bernasib sama...berakhir di meja makan hahaha...begitu juga yang makan babi dan yang makan sapi, pada akhirnya bernasib sama, kembali ke yang punya, hehehe... Jadi buat apa kita gontok-gontokan, bikin cape sendiri aja. Kalau mau gontok2an, kita gontok koruptor dan provokator yang bikin Indonesia sengsara, okay???
Jadi inget Idul Adha beberapa tahun yang lalu, anak saya diajak tetangga lihat sapinya, whoaa..sapi..sapi...anak kota kan jarang liat sapi dari dekat! Binatang langka itu!! Pas sore2 udah dapet potongannya dalam plastik. Anak saya nengok2 ngintip2 ke rumah tetangga, nanyain, sapinya kok gak ada lagi ya, Ma? Errr...ehmm....gak tega jelasinnya..hahaha...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gambar Kopaja diambil dari http://jadwalbis.com/images/bus_logo/kopaja.jpg
Gambar seragam tentara diambil dari http://www.grosirperlengkapansecurity.com/wp-content/uploads/2016/02/Grosir-Perlengkapan-Security-sekuritisatpamjual-seragam-tentara-harga-seragam-tentara-seragam-tentara-i-seragam-tentara-terbaruseragam-militer1-300x273.jpg