"Memangnya kenapa kalau Panjul yang ngajak?" tanya Denise.
"Panjul sudah sering bolak-balik Si Ma Tai. Musim dingin pun dia bisa jalan-jalan ke sana."
"O ya?"
"Kalau musim dingin 'kan Chang Cheng berlapis salju. Bahaya. Licin.Tapi buktinya dia selalu pulang dengan selamat. Jadi kupikir ya..mengapa tidak mencobanya?" sahut Vina.
Seperti layaknya orang penting, Panjul datang terlambat. Ia mengenakan ransel dan sendal gunung. Kaus dan celana pendeknya terlihat ngasal dibanding dengan pakaian hiking yang lainnya. Begitu masuk ke dalam minibus, semua orang menyapanya. Beberapa anak laki-laki mengacungkan tangan kanan mereka yang disambut Panjul dengan tepukan keras.
"Yo Man!"
Karena terlambat, Panjul duduk di satu-satunya kursi yang kosong. Di sebelah James. Setelah mengangguk singkat ke James, Panjul meletakkan ranselnya yang besar di antara mereka dan duduk membelakangi James.
"Gimana Tin, sate kambingnya udah Lu bawa 'kan?"
"Lisa, nasinya siap? Berapa banyak?" Ia langsung sibuk memastikan semua orang membawa bagiannya. Sementara itu James yang terjepit antara jendela berkaca buram dan ransel Panjul yang besar hanya diam saja. Sesekali ia melongok, ingin terlibat percakapan, tapi Panjul mengacuhkannya.
"Kira-kira berapa lama..."
"Wo men zou ba!"*17) Panjul menepuk pundak pengemudi. Ia sengaja memotong kalimat James. Beberapa orang menahan tawa. Denise diam-diam tersenyum senang. Biar tahu rasa si James!
Perjalanan memakan waktu kira-kira dua jam. Sesampainya di Si Ma Tai, Panjul memimpin rombongan dan berjalan paling depan. Di belakangnya, Samuel dan Martin tergopoh-gopoh mengangkut sekardus sate domba mentah. Air daging menetes-netes menandai rute yang mereka tempuh di tangga Chang Cheng. Sesuai rencana Panjul, mereka mulai naik jam 7 malam dan akan makan malam di atas, menunya: BBQ sate domba. Kemudian mereka akan terus berjalan sampai setengah perjalanan dan bermalam di atas. Setengah perjalanan berikutnya akan ditempuh besok subuh, supaya mereka tidak terpanggang matahari.
Tidak banyak yang bisa dilihat pada malam hari. Selain penerangan dari senter dan terang bulan, semuanya remang-remang. Sekilas, onggokan bukit berwarna hitam kelam mengintai mereka dengan penuh curiga dari jauh. Selebihnya tidak jelas, malam dengan pelit menyembunyikan semuanya.
Denise sudah bersiap-siap untuk terpukau oleh indahnya alam. Tapi tampaknya ia harus menunggu sampai besok pagi. Yang ia lihat hanyalah tangga dan tangga lagi. Chang Cheng dibangun di atas bukit yang berliuk-liuk. Di bagian yang agak landai tanahnya dibiarkan begitu saja. Di bagian yang terjal dibangun tangga-tangga. Tangga-tangga itu sendiri sama terjal dengan bukit yang dilapisinya. Di beberapa tempat tingginya mencapai lutut. Untuk tentara jaman dulu tentunya itu bukan masalah.
"Ok, kita makan di sini." Panjul menurunkan ranselnya dan duduk bersila.
"Hore!" Sahut Samuel. Mereka sudah berjalan selama dua jam dengan medan yang menanjak. Tempat ini adalah salah satu dari sekian pos yang tersebar di sepanjang jalur Si Ma Tai. Pos besar yang kondisinya masih sangat bagus. Pos-pos yang mereka lewati sebelumnya terlalu kecil dan banyak yang temboknya sudah runtuh, tidak nyaman untuk tempat beristirahat. Pos ini beratap dan bentuknya mirip seperti rumah dengan jendela-jendela besar dan lubang angin di mana-mana.
Panjul tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan terampil ia mengorek pasir dan menumpuk arang, dipasangnya kawat berjaring untuk memanggang daging dan ia mengelilingi lubang perapian itu dengan batu-batu yang dikumpulkannya. Denise terkesima. Ia sendiri masih mengejar nafas. Sementara pemuda ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda lelah. Dalam waktu singkat bau sate yang harum menyengat perut-perut kosong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Mana Negeriku
Ficción históricaHi Guyz, Does my name ring a bell? Hopefully yaaa.. Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman. Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
