Red Rock Affair

407 42 1
                                        


Walaupun Ci Felice terus menerus memperingatkannya untuk tidak terlalu akrab dengan Julie, dan ia sendiri sadar kalau Julie bukanlah gadis baik-baik, ia tidak kuasa menjauhinya. Julie yang menganggur, sering mengajaknya keluar ke mal untuk nongkrong atau sekedar window shopping. Mereka bisa mengobrol berjam-jam di café-cafe, Julie mengebulkan asap rokoknya sambil menceritakan pengalaman-pengalamannya yang dahsyat, dan Denise, dengan senang hati mendengar kisah hidup Julie yang bagaikan telenovela.

"Kalau kamu sering bergaul dengan seseorang, kamu akan jadi seperti orang itu! Benakmu akan teracuni olehnya!" Begitu selalu Ci Felice memperingatinya. Tapi Denise merasa dirinya sudah besar, ia tahu mana yang baik dari yang buruk. Ia hanya butuh teman, desperately.

Berjalan-jalan dengan Julie, window shopping, ngalor ngidul tentang berbagai hal, membuatnya merasa kembali seperti dirinya yang dulu. Kaya teman, penuh kegiatan, bergelimang gempita masa muda.

Mau tidak mau, ia menjadi teman Bob juga. Kadang-kadang, kalau mereka sedang ngelayap berdua, Bob datang dan ikut bergabung. Sering ia merasa munafik, berteman dengan pasangan tak berakhlak ini. Tapi di lain pihak, ia menikmati acara jalan-jalan bertiga ini juga. Bob tidak segan-segan mengantarkan mereka berdua ke mana-mana, bahkan, untuk keperluan Denise sekalipun.

"Ayolah, Nis, kita refreshing."

"Hmm..aku tanya Ci Felice dulu deh."

"Ajak saja dia sekalian. Cici kamu terlalu serius. Bisa-bisa cowok pada kabur semua!" 

Julie tertawa cekikikan sementara Bob melemparkan kedipan jahilnya. Denise hanya tersenyum simpul. Ia juga merasa Ci Felice berubah sejak mereka berdua keluar dari Indonesia. Dulu, Ci Felice lebih santai, dan lebih luwes dalam bergaul. Tapi sejak mereka hanya berdua saja di luar negeri, Ci Felice berubah jadi keras dan tegas, serius seperti kata Julie. Denise menyayangkan metamorfosis Ci Felice. Dulu ia bisa bicara apa saja dengan Ci Felice. Tapi sekarang, kalimat yang keluar dari mulut Ci Felice bertaburan dengan kata 'mestinya', 'harusnya', 'sebaiknya', 'jangan'...

Seperti yang ia duga, Ci Felice menolak ikut. "Cih, aku tidak mau berurusan dengan pasangan tidak bermoral itu!" Katanya.

Jadilah Denise pergi bertiga dengan Bob dan Julie ke Red Rock Canyon, kawasan suaka alam padang gurun di suatu hari Sabtu yang cerah. Mereka sampai dalam waktu kurang dari satu jam. Cahaya matahari masih mengendap dalam debu-debu gurun. Udara pengap langsung menyambut mereka ketika keluar dari mobil.

"Ayo, ayo, foto!" Julie berceloteh dengan ceria sementara tangannya dengan otomatis menyerahkan kamera ke Denise. Setiap kali mereka berhenti di photo spot, Denise lagi-lagi kebagian tugas mengambil gambar mereka berdua. Beginilah nasibnya jalan-jalan dengan dua sejoli, sesal Denise, jadi kambing congek merangkap fotografer!

Julie selalu mengambil pose-pose mesra setiap difoto. Memeluk Bob erat-erat dari samping, dari belakang, pura-pura menggigit daun telinga Bob, tapi itu semua masih bisa Denise tolerir, selama ia bisa bersembunyi di belakang kamera. Yang ia tidak tahan ialah kalau Julie dan Bob berciuman dengan terbuka. Ia hanya bisa memalingkan wajah, pura-pura mengagumi batu-batu merah raksasa yang tergeletak di mana-mana. Ia merasa bodoh. Mungkin seharusnya ia tinggal di rumah saja.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di Mana NegerikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang