Hi Guyz,
Does my name ring a bell? Hopefully yaaa..
Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman.
Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
Denise menggigit bibir dan berkata dengan lirih, "Jam dua."
Ci Felice menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kamu itu...otakmu benar-benar sudah diracuni mereka."
Untuk mempertahankan persahabatannya dengan Julie dan Bob, Denise menukar kebebasannya. Ia berjanji akan ada di rumah jam sepuluh malam, apapun alasannya, asal Ci Felice tidak menceritakan hal ini pada Mama dan Papa.
Sehari sesudah acara jalan-jalan mereka yang penuh skandal itu, istri Bob menelepon dan memberitahu kalau anak mereka dipastikan terjangkit demam berdarah dan harus diopname di rumah sakit.
Denise merasa sangat, amat, bersalah.
Akhirnya Julie menemukan pekerjaan. Tak lain dan tak bukan, sebagai waitress lagi. "Kerja di sana tuh ber-prospek Nis, siapa tahu aku bisa jadi pegawai kasino."
Denise tersenyum getir. Jadi pegawai kasino? Itukah masa depan yang diinginkannya?
Selama ini Denise mengira motivasi imigran yang pindah ke negara maju adalah untuk mengejar kesempatan hidup yang lebih baik. Gelar luar negeri lebih diakui di Indonesia yang foreign minded, dan, kalaupun tidak pulang, dolar yang mereka kirim bisa membantu hidup keluarga di Indonesia. Tapi kalau prospek Julie mentok pada pegawai kasino berpenghasilan dolar pas-pasan merangkap gundik gelap, what for?
Setelah Julie tidak menginap di tempat Bob lagi dan pindah ke kosnya yang baru di dekat tempat kerjanya, Ci Felice bersikap lebih ramah kepada Bob, maupun Julie yang masih kadang-kadang datang bertandang. "Setidaknya mereka tidak melakukan kegiatan maksiat di dekat-dekatku!" Begitu alasan Ci Felice.
Ci Felice bahkan mengijinkan Denise untuk mengunjungi tempat kerja Julie yang baru. Restoran itu benar-benar megah, seperti layaknya restoran kasino. Penuh dengan lampu-lampu yang menyilaukan mata, ke-elegan-an yang bercampur aduk dengan ke-norak-an. Hari itu Julie off, sehingga bisa memandunya keliling restoran dan mengintip dapur. Tempat tinggalnya yang baru hanya berjarak lima menit dari restoran, sebuah rumah berkamar empat yang dihuninya bersama tujuh gadis lainnya yang juga bekerja di tempat yang sama.
"Tattara..!!!" Julie membuka pintu kamarnya dengan dramatis.
"Denise?"
"Novi?"
"Lho? Kalian kenal?"
"Denise!!!" Novi menjerit dan melompat ke arah Denise. Mereka berdua berpelukan sambil melenguh riuh rendah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Julie meninggalkan mereka berdua untuk merokok di luar ketika ia tidak bisa masuk ke dalam pembicaraan mereka.
Denise menceritakan perjalanannya sejak lulus SMP, bagaimana ia mengungsi ke Malaysia, menemukan cinta di Beijing dan kemudian terdampar di tengah-tengah kota judi.