Sweet Seventeen

667 59 1
                                        


"Lu nggak apa-apa 'kan?" Tanya Panjul. Matanya mencari-cari luka di wajah Denise. Denise bisa melihat kalau Panjul juga sempat shock .

"Makanya, kalau nggak bisa, mending ikut kita saja tadi!" omel Bram. James baru saja sampai. Napasnya tersengal-sengal karena ia setengah berlari.

"Kaki kamu terkilir ya?" 

Bahkan di saat seperti ini pun keramahan James terasa mengganggu.

"Nggak. Nggak apa-apa." Jawab Denise singkat.

"Sini, gue gendong." 

Ha? Denise pikir ia salah dengar. Tapi Panjul sudah berjongkok membelakanginya, menawarkan punggungnya.

"Ayo cepat." Tangan Panjul meraih ke belakang.

"Udah naik aja! Nggak usah malu-malu!" Tukas Martin cuek. Denise melingkarkan tangannya di leher Panjul dengan ragu. Dengan satu sentakan Panjul berdiri dan menanggung seluruh berat tubuhnya. Denise grogi. Jari-jari Panjul menopang pahanya. Ia jadi salah tingkah. James pucat pasi.

"Lu maju sedikit. Nyender saja! Kalau begini jadi berat." 

"Eh..iya.." Mau tidak mau ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Panjul. Merelakan buah dadanya menyentuh tulang punggung Panjul.

"Nah, begitu lebih enak!" ujar Panjul. 

Denise merona. Apanya yang enak?!

Mula-mula ia masih malu-malu. Namun lama-lama ia mulai merasa nyaman. Punggung Panjul keras oleh otot, membuatnya merasa aman. Hangat, membuat ia lupa akan keringat dingin yang sempat mengalir deras tadi. Denise pun mengantuk. Sedikit demi sedikit ia dekatkan kepalanya yang berat ke tengkuk Panjul. Ditempelkannya pipinya ke bahu Panjul. Hidungnya bersentuhan dengan leher Panjul.

Setiap kali ia menghirup nafas, bau tubuh Panjul ikut terhisap. Masam keringat yang dibumbui bau matahari. Pahit nikotin dan menthol samar-samar membaur.

Bau laki-laki.

Denise nyengir. Ia tidak bisa melihat wajah Panjul. Ia hanya bisa memandangi ujung-ujung rambutnya yang gondrong. Hati Denise tersesat di lekuk liku ulir telinga Panjul.

救星. Jiu Xing. Sebuah kata dalam bab 10 di textbook yang dipakai dalam kelas muncul di kepalanya. Dalam bahasa Inggris: Hero. Diterjemahkan langsung dari huruf Cina secara harafiah: bintang penyelamat.

Melalui ulang tahunnya yang ke-17 dengan terbaring di atas kasur adalah skenario terburuk yang pernah ada, dan justru itu yang terjadi padanya. Denise tahu ia mestinya bersyukur. Kesempatan hidup. Itulah hadiah terbesar yang pernah diberikan Tuhan padanya. Ia hanya selangkah dari gerbang maut tetapi Tuhan masih mengasihaninya. Ia sudah cukup dewasa untuk tidak menginginkan hadiah-hadiah semacam baju, jam tangan, atau tas (karena ia sudah punya boanyak!). Tapi bukankah ia berhak atas sweet seventeen party? Ini adalah saat di mana dirinya berubah jadi wanita dewasa. Ia akan punya KTP, berhak ikut Pemilu, boleh nonton film dewasa, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Orang bilang saat seorang gadis menginjak tujuh belas tahun, ia sedang ranum-ranumnya. Denise sudah pernah menghadiri pesta sweet seventeen beberapa orang sewaktu masih di Jakarta. Ci Erlis, Ci Felice, dan juga beberapa sepupunya. Pesta-pesta itu dirayakan di hotel atau di restoran. Penuh dengan gadis-gadis bergaun indah dan pemuda-pemuda di masa keemasannya. Selama ini ia hanya menjadi pemain belakang. Menyaksikan Ci Erlis dengan gaun merah muda memotong kue sambil dikecup Papa dan Mama, membantu Ci Felice membawa pulang kado-kadonya. Dengan sabar ia menunggu gilirannya.

Di Mana NegerikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang