Kencan Edukatif

444 44 6
                                        


Denise turun ke lantai dasar dan kembali ke tempat parkir. Ko Edward sedang membelakanginya. Matahari tepat berada di atas kepala mereka, tidak ada bayangan yang menggelayutinya. Ko Edward berkacak pinggang, menyimak pemandangan kota dari lapangan parkir College yang letaknya memang agak tinggi. Di kejauhan gedung-gedung Sin City yang norak berebut menghabiskan lahan. Rapat, berdesak-desakan. Di siang yang terang benderang, semuanya ditelanjangi. Polos, sama sekali tidak istimewa. Tapi ada satu objek yang auranya begitu kuat, sehingga mengalahkan silaunya sang surya: Ko Edward.

"Udah?" Tiba-tiba Ko Edward. Dengan refleks Denise menutup hidungnya. Ia mengangguk sambil menatap Ko Edward dengan malu. Denise teringat bayangannya sendiri di cermin. Parah abis! Dan itulah yang sekarang ia perlihatkan pada pria ganteng berkacamata di depannya.

Ko Edward tergelak, "Buat apa ditutup-tutup? Dari tadi pagi juga aku sudah lihat kok. Sudah seperti Si Rudolph saja!"

"Rudolph?" Denise bingung.

"Iya! Rudolph the Red Nose Reindeer..had a very shiny nose.." Ko Edward bersenandung menyanyikan lagu Natal, menggoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. "Hahaha! Sudah jangan cembetut saja! Ayo cepat naik!" Denise nurut. Kalau tidak mengingat jasa Ko Edward menyelesaikan tugasnya, mungkin sudah dia lempar sandal cowok yang satu ini!! GRRRRRR...

Dalam perjalanan pulang Denise mulai mengantuk. Pohon-pohon palem di sepanjang Las Vegas Boulevard melambai-lambai membuat matanya semakin sayu. Tiba-tiba Ko Edward berbelok, "Hei! Kita mau ke mana?" Ko Edward tersenyum dan menjawab santai, "Tenang saja." Denise duduk semakin tegak ketika mobil mereka masuk ke kawasan hotel dan kasino The Venetian. Gila apa ini orang?! Baru meminjamkan komputer saja sudah berani membawanya ke hotel?

"Mau ngapain kita ke sini?"

"Tenang saja."

"Kenapa sih nggak mau kasih tahu?"

"Biar surprise."

"Aku nggak suka surprise!"

"Kalau gitu ini bukan surprise, tapi rahasia!"

"Ini penculikan!" Teriak Denise panik. 

Ko Edward tertawa terbahak-bahak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kamu lucu."

Di luar dugaan Denise, mereka tiba di dalam sebuah mal.

"Wah...aku kok tidak pernah tahu ada mal sebagus ini?" 

aku kok tidak pernah tahu ada mal sebagus ini?" 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Nah..'kan..sekarang kamu mesti berterimakasih karena aku culik ke tempat sebagus ini." Butik-butik mahal berjejer di dalam mal yang interiornya dibuat seperti Venesia di Italia.

"Aku dengar dari Ci Felice, kalian belum pernah ke sini." kata Ko Edward.

Denise mengiyakan. Selama hampir setahun di Amerika, hidupnya hanya berputar-putar di sekolah, restoran dan rumah O O. Sesekali ia keluar bersama Ci Felice untuk berbelanja, tapi mereka selalu menghindari hotel-hotel dan kasino di The Strip karena menurut Ci Felice, daerah itu seperti 'Mangga Besar' upgrade version. Bukan tempat yang cocok untuk pelajar baik-baik. Paling-paling mereka hanya berani menikmati pertunjukan air mancur di depan Hotel Bellagio atau pertunjukan drama bajak laut di depan Hotel Wynn, yang keduanya, tentu saja, gratis.

Di Mana NegerikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang